MENYELAMI LAUTAN HUT KEMERDEKAAN DAN HARI ASYURO

Berita Nasional

oleh : Andi Naja FP Paraga

Pengantar

Jayakartapos, Dr Ir H Ahmad Sukarno (Soekarno) Sosok yang tidak akan pernah tergantikan. Sosok ini melengada sepanjang sejarah bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau tak segan mengambil Filosofi Asyuro-Muharram didalam mematrikan semangat perjuangan bangsa melawan imperialisme.

Beliau berpandangan Tragedi Asyuro Muharram memberikan nilai kebangkitan perjuangan bangsa-bangsa didunia cukup dengan menghayati Perjuangan Imam Husein,Keluarga dan Sahabatnya memperjuangkan kembali tegaknya nilai nilai ketuhanan,Kemanusian,persatuan,kerakyatan dan keadilan.

Asyura dalam Tradisi Nusantara

Tak hanya di Tanah Jawa bahkan di Sulawesi,Kalimantan,Sumatera hingga Maluku dan Nusa Tenggara peringatan Asyura selalu dihadirkan sebagai Adat Tradisi tahunan,bahkan perjalanan mengawali Bulan Hijriah tanpa Peringatan Asyura dinilai tak menghormati adat tradisi leluhur. Disana bisa ditemukan Dwi Warna Merah Putih baik berbentuk bubur atau bentuk yang lain.

Mengapa ada Dwi Warna Merah Putih,ternyata memberi makna bahwa perjuangan Imam Husein Putra Ali Bin Abithalib Cucu Nabi Muhammad itu dilandasi kebenaran yang harus ditegakkan dengan Keberanian dan Kesucian. Merah berarti berani dan putih berarti Suci. Imam Husein bersama keluarga dan Sahabatnya hanya berjumlah 85 orang dikepung pasukan Yazid bin Muawiyah Bin Abu Sofyan Penguasa Kelhalifaan Bani Umayyah Tahun 60 Hijriah.

Nilai-nilai Perjuangan Cucu Nabi Muhammad SAWW itu ditanamkan oleh Para Ulama di Nusantara sejak penyebaran Islam di Nusantara yang diduga sudah ada sejak Abad Pertama Hijriah atau sekitar Abad ke-4 Masehi. Walaupun Ketika Prof Dr Snouck Hurgronje pernah berusaha mengaburkan makna tradisi ini ketika ditugaskan Kerajaan Belanda di Nusantara tapi nampaknya tidak berhasil.

Asyura melahirkan Semangat Mental Melawan Imperialisme

Perang -perang terbuka dengan Belanda dibeberapa daerah dimasa penjajahan tak terlepas dari semangat Asyura sehingga menang atau kalah telah menciptakan ketakutan yang besar dipihak imperialis. Kepanikan Belanda tak terhindarkan sehingga muncul prilaku culas membantai ratusan ribu Warga Sulawesi Selatan yang dikomandoi oleh Jenderal Westerling.

Peristiwa Perang terbuka di Surabaya melawan Sekutu di Tahun 1945 adalah Peristiwa Besar didunia dimana Para Kyai dan Santri serta Tokoh Agama-agama Kristen,Khatolik/Kristen,Hindu,Budha turut mengambil peran penting sehingga membuat Pasukan Sekutu kalah bahkan Jenderal Malaby Seorang Jenderal paling sadis di Eropa meregang nyawa.

Itulah Perang Terbuka terbesar Pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 karena terjadi 3(tiga) bulan setelah Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Asyura telah memberi kekuatan dan keberanian yang luar biasa sehingga Sekutu(Belanda,Inggris,USA) mengalami kekalahan besar.

Nilai-Nilai Asyura Kini dan Masa DepBenar Nilai yang diajarkan Asyura sesungguhnya Nilai Substantif yaitu Keberanian dan Kesucian dan menjadi Warna Bendera Indonesia. *Keberanian yang dilandasi Kesucian adalah Substansi Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang wajib dimiliki Generasi Masa Kini dan Masa yang akan datang.

Berani karena Benar Takut Karena Salah adalah Slogan Kehidupan Bangsa Indonesia hingga kapanpun. Ketika Bangsa ini tetap dalam Nilai-Nilai Kebenaran tidak ada yang harus ditakutkan. Keberanian itu harus dilahirkan dari Kebenaran. Keberanian yang seperti itu akan senantiasa memunculkan Energi Positif dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi saat ini yang akan memberi warna Indonesia saat ini dan dimasa datang. Kita memang harus berani menghadapi tantangan bangsa yang semakin beragam dan besar. Tantangan Kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini dan nanti berbeda dengan yang pernah ada dimasa lampau. Menciptakan Generasi yang Anti Korupsi,Kolusi dan Nepotisme,Anti Narkoba,Anti Hoaks/Hate Speech,Anti Pornigrafi/Pornoaksi,Anti tindak kriminal dan Asusila harus dibentuk saat ini sehingga Generasi Mendatang menjadi Generasi Baru yang memiliki semangat Keberanian dan Kesucian.

Penutup

Semangat HUT Kemerdekaan dan Semangat Asyura harus dimatangkan kembali sehingga menjadi Semangat Bangsa Indonesia membenahi diri dan menjemput Cita-cita Kemerdekaan yang lebih Ril dan Substantif.(ANFPP200820)

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.