MALAM KELAM PERAGAWATI DIETJE BUDIMULYONO

MALAM KELAM PERAGAWATI DIETJE BUDIMULYONO

Foto : Andi Naja (Sekjend DPP SBSI) dkk.

 

Oleh : Andi Naja FP Paraga DKK

Saya pernah dekat dengan Dietje Budiasih alias Dietje Budimulyono.  Model cantik jelita dan peragawati populer era 1980-an yang meninggal secara tragis. Saya dekat, karena dulu sering meliput acara yang melibatkannya, duduk di dekatnya, di belakangnya, di sampingnya, saat dia tampil anggun sebagai  juri kontes model, kontes waria, dan acara acara seperti itu di Jakarta. Juga saya memotretnya ketika sedang berjalan gemulai di atas ‘catwalk’ dan menghadiri acara. Memandangi matanya yang indah, mengagumi kulitnya yang bening.

Saat itu saya masih  reporter untuk koran ‘Pos Kota’. Kawan sepeliputan saya adalah Neta S. Pane, yang kini dikenal sebagai aktifis dan pendiri Indonesia Police Watch (IPW). Dulu dia wartawan koran ‘Merdeka’.  Selain itu, sering bersamanya pada masa itu Noek Hedijanto, ibu cantik dan populer – “Ibunya kaum waria” ibukota.

Saya sungguh ‘shock’ ketika mendengar berita Dietje tewas dibunuh pada 8 September 1986 itu. Lebih shock lagi, wanita cantik jelita kelahiran Bandung itu tewas dengan lima bekas luka tembak.  Dari sebuah sedan Honda Accord warna putih yang berhenti di tepi Jl. Dupa, Kalibata, sekira  pukul 22.00 WIB Jakarta Selatan itu – warga sekitar  dikejutkan pemandangan mengerikan, karena di dalam mobil bernomor polisi B 1911 ZW itu terbujur mayat Dietje dengan lima luka tembakan senjata api, tepat di belakang telinga, leher, ketiak, dan punggung.

Setelah media ibukota ramai memberitakan dan masyarakat geger, polisi menangkap seorang pria renta warga Ciracas, Jakarta Timur, bernama Muhammad Siradjudin alias Pak De. Konon dia disebut-sebut sebagai dukun yang akrab dengan almarhumah. Polisi berdalih memiliki bukti kuat untuk menjerat lelaki asal Madura itu.

“Pak De waktu itu tiba-tiba didatangi, lalu dituduh membunuh Dietje. Dia ngotot tidak melakukan pembunuhan. Kita menyampaikan alibi tapi diabaikan,” kata Luhut Pangaribuan, bekas pengacara Pak De beberapa tahun kemudian.

Ketika itu, Pak De mengajukan alibi bahwa pada Senin malam itu – ketika pembunuhan terjadi – dia berada di rumah bersama sejumlah rekan. Saksi-saksi yang meringankan untuk memperkuat alibi itu juga hadir di pengadilan. Namun, saksi dan alibi yang meringankan itu tak dihiraukan majelis hakim.

PAK DE –  pensiunan tentara berpangkat pembantu letnan satu –  tak bisa menolak ketika akhirnya harus duduk di kursi pesakitan. Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pak De membantah sebagai pembunuh Ditje seperti yang tercantum dalam BAP yang dibuat polisi. Dikatakannya, pengakuan itu dia tandatangani,  karena dia tak tahan disiksa polisi. Termasuk anaknya yang menderita patah rahang.

Polisi mengarahkan tuduhan kepada Pak De, dengan menyebut pria pensiunan yang menjalani kehidupan sebagai dukun itu, membunuh karena motif uang. Dalam berkas pemeriksaan disebutkan bahwa Dietje menitipkan uang sebesar Rp10 juta kepada Pak De. Sedianya, duit tersebut bakal disulap menjadi ratusan juta rupiah seperti dijanjikan pria pensiunan tentara itu. Namun karena uang tersebut sudah habis untuk memenuhi kebutuhan hidup, Pak De nekat menghabisi nyawa Dietje.

Ujung dari drama pembunuhan dengan lakon Pak De dan  berakhir dengan vonis penjara untuk Pak De. Majelis hakim yang diketuai Reni Retnowati memvonis hukuman seumur hidup pada 11 Juli 1987 karena pria berkumis tebal itu dianggap bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Padahal, di pengadilan Pak De sempat mengatakan bahwa hubungan antara dia dan peragawati asal Bandung itu seperti bapak dan anak.

Pak De terus berikhtiar mengajukan banding sambil tetap menjalani hukuman di LP Cipinang. Pak De, kabarnya,  sempat ditawari grasi dan kehidupan mewah setelah keluar tahanan, namun dia menolak.  “Kalau menerima grasi, menerima hadiah, itu sama artinya dia mengakui telah membunuh. Padahal dia mengatakan kepada saya, tidak pernah membunuh, dan tidak akan menerima grasi,” terang Luhut.

Pengacara Luhut Pangaribuan bersama Nursyahbani Katjasungkana dan Mohammad Assegaf menjadi kuasa hukum bagi Pak De selama proses hukum berjalan. Dan mereka yakin kliennya itu tak membunuh Dietje. “Sikap dia di usia senjanya masih mengajukan PK saja sebenarnya sudah menunjukkan Pak De tak melakukan pembunuhan,” kata Luhut.

Setelah 14 tahun mendekam di LP Cipinang, Jakarta Timur, Pak De menerima grasi dari Presiden BJ Habibie. Hukuman Pak De diubah dari seumur hidup menjadi 20 tahun pada 1999. Pada 27 Desember 2000 Pak De bebas.

Setelah menghirup udara bebas, kepada setiap orang yang bertanya,  Pak De kukuh menyatakan dalam kasus pembunuhan itu merasa menjadi kambing hitam. Menurut dia yang mengkambinghitamkan adalah polisi dan  Polda Metro Jaya. “Sebenarnya saat itu polisi tahu pembunuhnya,” kata Pak De.

Belakangan bahkan disebut nama para pelakunya. Tapi tak ada yang berani mengungkap. Karena nama nama itu hanya muncul dari kasak kusuk yang tak jelas sumbernya.  Saya pun mendengar nama nama yang disebut, tapi seperti masyarakat lain, nama itu beterbangan di udara, sebagai ‘rumour’ tanpa bukti yang jelas.

KASAK KUSUK yang beredar, masa itu, kematian Dietje Budimulyono alias Dietje Budiasih dikaitkan dengan skandal keluarga para pejabat papan atas, dan merasuk ke keluarga sangat berpengaruh di negeri ini. Pak De pun menyebut-nyebut sejumlah nama yang saat itu dekat dengan kekuasaan.

Waktu itu, beredar rumor bahwa  Dietje menjalin hubungan asmara dengan mantu di lingkaran istana, tapi selain itu juga menjadi simpanan pejabat tinggi militer berinisial SS. Almarhumah sendiri masih berstatus isteri dari pensiunan Bea & Cukai yang sedang mengidap ‘stroke’. Dietje megambil alih, menjadi tulang punggung keluarga, berbisnis salon di rumahnya.

Versi lain, almarhumah adalah “persembahan” dari tender proyek kakap di satu bandara. Namun hubungan sebagai “persembahan” dengan pejabat yang menerima “success fee” itu  berlanjut hingga hubungan pribadi. Bahkan, konon ada tuntutan minta dinikah.

Dietje disebutkan dipakai sebagai “jasa” oleh seorang eks petinggi militer yang terjun ke dunia usaha dan untuk memuluskan bisnisnya. Dietje dijadikan “pelicin” untuk menyenangkan menantu orang paling berkuasa di Indonesia.

Hasil dari ‘jasa’ Dietje, sang ‘jenderal’ pengusaha mendapat satu kontrak besar pembangunan sebuah bandar udara modern. Tapi hubungan Dietje berlanjut jauh dengan sang menantu.

Konon, lagi, si Mbak dari lingkaran inti di istana kemudian mengetahui dan murka. Lalu tercetus ide untuk “memberi pelajaran”. Namun fatal.  Bahkan “kebablasan” sehingga berujung eksekusi yang tragis itu.

Dietje ditembak di bagian kepala ketika mengemudi sendiri mobilnya di jalan keluar kompleks.  Menurut pakar forensik Mun`im Idries – yang mengotopsi Dietje –  ada lima peluru di tubuh peragawati berwajah mirip penyanyi Yuni Shara itu, yang terdiri atas kaliber 22 dan 38. Ini artinya penembak Dietje bukan satu orang. Pernyataan itu ditulis di majalah Gamma edisi 10-16 Januari 2001.

Namun dalam persidangan,  Mun`im mengaku pernyataan di majalah itu, dia kutip dari ucapan Wakil Kepala Dinas Penerangan Polda Metro Jaya –   saat itu Mayor Polisi Hanif Akbar –  yang dimuat di media massa. Di depan sidang, Mun`im kembali meluruskan bahwa peluru di tubuh Dietje adalah kaliber 22. Kalangan pemegang senjata tentu apa arti dan perbedaan senjata kaliber 22 dan 38.

DRAMA KELAM kematian Dietje menggambarkan bahwa di era Orde Baru, hukum sepenuhnya ada di tangan elite, dan semua rekayasa bisa dilakukan karena aparat dan penegak hukum dalam genggaman rezim penguasa yang ada di istana.

Dietje merupakan korban konspirasi yang dilakukan kelas elite penguasa di zaman Orde Baru. Peragawati yang biasa tampil di peraga busana itu jayuh dalam pelukan petinggi militer, mantan marsekal sampai pengusaha kaya dan tak menyadari bahwa ada orang yang begitu dendam untuk menghabisi nyawanya.

Lalu orang awam yang tak bersalah bisa kehilangan kebebasannya, meringkuk di penjara,  sebagai tersangka, dengan segala rekayasa yang dibuat seadanya.  Bahkan juga dengan siksaan ketika menolak. Dan kematian menimpa siapa saja pihak yang mengganggu ketenangan keluarga istana.

Kasus kematian tragis Dietje di Jakarta, dan  juga kematian aktifis  Munir, kasus perkosaan Sum Kuning di Yogyakarta dan juga pembunuhan terhadap wartawan Udin di Bantul serta kematian aktifis buruh Marsinah di Porong, Surabaya dan berujung pada kerusuhan 1998, merupakan rangkaian contohnya. Dan terus gelap gulita hingga kini.

Masa masa kelam kebengisan rezim itu sudah lewat. Semoga jangan ada lagi hukum di bawah kekuasaan yang semena mena, seperti di masa rezim Orde Baru. Jangan biarkan kaki tangan anak cucu rezim OrBa berkuasa lagi. Agar tak ada lagi malam kelam dan tragis yang dialami peragawati Dietje Budimulyono.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish