Kenapa NU Bisa Mendunia ?

Kenapa NU Bisa Mendunia ?
Foto : Vinanda Febriani (Penulis), sumber anshormunjungan.or.id

Oleh : Vinanda Febriani

Jayakartapos,     “Kenapa NU (Nahdlatul Ulama) bisa mendunia??” Tanyaku dalam hati.

NU (1926) merupakan organisasi Islam tertua di Indonesia setelah Muhammadiyah, Al-Irsyad dan PERSIS. NU juga merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan telah melejit mendirikan Cabang Istimewa di negara-negara asing seperti Mesir, Hongkong, Belanda, New Zeland, Korea Selatan dan masih banyak lagi. Akan tetapi, walaupun telah banyak cabang yang di dirikan di negara asing, tetap saja arah kiblat strukturalnya mengacu pada negara Indonesia, tempat dimana NU lahir dan diperjuangkan oleh para Alim-Ulama, kurang-lebih 19 tahun sebelum Indonesia resmi merdeka dari jajahan Belanda.

Sudah hampir satu abad lamanya (1926-2018) NU lahir, berjuang, berkembang, bertahan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak tanggung-tanggung usianya sudah 95 tahun, sudah sangat tua (walaupun ada yang lebih tua, yakni Muhammadiyah, Al-Irsyad dan PERSIS). Perjuangan dan pengabdian selama 95 tahun bukanlah hal yang mudah. Darah dan nyawa merupakan taruhan utama dalam berjuang mempertahankannya. Ingat betul bagaimana perjuangan NU dalam memerangi kolonial Jepang dan Belanda yang saat itu menjajah kemanusiaan di Indonesia. Geram, kesal, kecewa dan dengan dilandasi rasa Cinta Tanah Air yang kuat, bergelora membakar semangat jiwa mereka (para Ulama dan Santri NU pada masa kolonialisme), sehingga mereka bersemangat ikut serta berjuang dalam merebut, mengokohkan dan menggelorakan kembali semangat Kemerdekaan Bangsa Indonesia, hingga muncul istilah ‘Resolusi Jihad’ yang digelorakan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Muassis NU) yang kemudian menggelorakan semangat ‘Jihad’ santri Lirboyo, Tebuireng, Buntet dan pesantren-pesantren lain untuk ikut serta melawan kolonial penjajah walau dengan berbekal senjata alakadarnya.

Tak terasa sudah, perjuangan NU yang terbilang jauh dari kata ‘mudah’, kini bak memanen hasil dari benih yang ditanam Ulama dan para Muassisnya pada zaman perjuangan. NU telah mendunia, kiprahnya dilirik oleh berbagai negara didunia. Andilnya sangat nyata bagi kemaslahatan umat beragama dan bagi Bangsa Indonesia. Namun, walaupun nama dan kiprahnya sudah mendunia, NU tak pernah lupa pada sejarahnya, NU tak pernah lupa bagaimana keras dan sulitnya perjuangan para Ulama pendiri Nahdlatul Ulama. Tak pernah luput dari ingatannya, bagaimana awal mula NU berdiri, untuk siapa dan untuk apa.

Semua orang ingin belajar dari NU, semua orang ingin meniru andil NU dalam “memanusiakan manusia” sehingga terasa nyaman dan tenteram hidup berbhinneka di Indonesia. Mengapa David Becker dan Ilan Berman yang merupakan ‘orang penting’ di USA belajar Islam, meminta jalan keluar dalam menyelesaikan permasalahan konflik di dunia dengan para Ulama NU? Padahal di Indonesia Ormas islam tak hanya NU, lalu mengapa NU yang dipercaya?. Sebab buktinya nyata, andilnya nyata NU bagi kemaslahatan ummat manusia yang hidup di Indonesia.

loading...

Islam Nusantara yang selalu digelorakan Nahdlatul Ulama belakangan ini laris diminati berbagai kalangan petinggi Islam di berbagai dunia. Sebab, selain Islamnya yang ramah tamah sesuai dengan Islam Rahmatan lil alamin yang diajarkan oleh Rosulullah SAW, ajaran Islam Nusantara yang digelorakan oleh Walisongo ini juga mampu berbaur dengan budaya dan tradisi selama tidak menyalahi atau bertentangan dengan syariat Islam.

Seseorang pernah berkata, “Ulama dan Kiai NU itu tidak gampang nggresulo (mengeluh) dengan keadaan. Beliau-beliau ini nggak main-main ilmu dan tirakatnya, tetapi beliau-beliau tidak pernah setitikpun merasa sombong dan angkuh, sehingga wajar saja jika beliau-beliau ini banyak dianut dan dijadikan rujukan pembelajaran bagi semua orang sehingga dengan cepat dan mudah NU mendunia. Karena Ulama dan Kiai NU telah dipercaya dan mampu menjawab tantangan modernisasi pada abad ini “. Perkataan itu yang hingga saat ini jadi rujukan atas segala pertanyaan yang selalu datang menghampiri. “Mengapa NU bisa mendunia?”, begitu sekiranya.

Akan tetapi, walaupun kini NU telah mendunia dan banyak dikenal di seluruh penjuru dunia, masih ada banyak orang atau kader NU yang justeru malu mengakui ke-NU-annya. Saya tertarik untuk mengutip quote Rois Syuriah PCINU Korea Selatan, Gus H Ulin Huda. “Ojo isin, ojo wedi-wedi ngakoni awake dewe iku wong NU (Jangan malu, jangan takut mengakui diri kita adalah orang NU)”.

Dan tepat hari ini (Sabtu, 05 Mei 2018) merupakan Harlah Majelis Dzikir dan Sholawat Syubbanul Wathon PCINU Korea Selatan yang pertama. Malam hari nanti, akan ada tasyakur Harlah bersama dengan Kyai Ulil Abshar Abdalla dan Gus Mustofa Bisyri dengan mengusung tema “Senandung Cinta Korea Selatan”. Silahkan bisa disimak malam ini Live streamingnya di akun Facebook Ulil Abshar Abdalla.

Saya pribadi mengucapkan, Selamat dan Sukses Harlah Majelis Dzikir dan Sholawat ‘Syubanul Wathon’ PCINU Korea Selatan, semoga barokahnya selalu menggema mendamaikan hati nurani tiap insan yang mendengar lantunannya dan semoga dengan kehadirannya mampu turut serta mendakwahkan Islam Nusantara, Islam yang ramah tamah, beradab, berbudaya dan Rahmatan Lil Alamin. Jaya terus PCINU Korea Selatan !.

NU
Makin mendunia, makin dicinta, makin jaya dan makin terpercaya.
Jangan lelah teriakan dengan lantang dan bangga “Siapa Kita? NU !”.

Salam NUsantara
Vinanda febriani
Pelajar NU, Siswi kelas XI di MA Ma’arif Borobudur.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: