Berontak : Tahanan Teroris di Mako Brimob

Berontak : Tahanan Teroris di Mako Brimob
Foto : Mako Brimob, Ist

Oleh : Vernandes

 

Jayakartapos,    “Fakta : Ideologi tak bisa dikurung dalam penjara meski kurungan sedahsyat Abu Ghraib atau Guantanamo Bay”

Siapa percaya, 22 jam lebih berlalu kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua dan 6 kantong jenazah dibawa ke RS Polri selain keterangan 4 orang terluka. Tapi sampai take off belum ada keterangan petinggi Polri terkait kejelasan peristiwa belum muncul. What’s exactly happened- apa yang terjadi sebenarnya?

Bertubi masuk berita, resmi ex Humas Polri dan tayangan video & foto ex apa yang menamakan diri “Negara Islam, Iraq dan Suriah” (ISIS) representatives.

Spekulasi:
Pakar terrorisme Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones mengkonfirmasi bahwa kemungkinan besar tahanan terroris Indonesia pro-ISIS berada dibalik kericuhan. Tercatat mereka Sering berbuat ulah di Mako Brimob.

Perusakan sel tahanan pecah 8 Mei 2018 lepas Maghrib. Pukul 21.30 diperoleh penjelasan, konon ricuh soal kiriman makanan yang harus disterilkan petugas. Sumber Mabes Polri menyatakan bahwa Polisi masih berunding dengan tahanan. Ditegaskan pula agar masyarakat jangan segera percaya informasi, foto dan video yang beredar via media sosial. Meski tweeter ISIS mengklaim, membunuh 10 personil Ex Densus-88.

Dari salah satu video tayangan online tampak para tahanan mengucapkan ‘baiat’ (ikrar) setia kepada IS leader Abu Bakr al-Baghdadi. Sementara konon tahanan terroris ISIS Aman Aburrachman ditahan di Mako.

Pada akhir November 2017 sweeping petugas menemukan 7 bendera ISIS ditahanan. Koq bisa?

Informasi yang terdiseminasi:
(ISIS) mengklaim sebagai dalang di balik kerusuhan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat dan dilaporkan dalam situs kelompok intelijen SITE, Selasa (8/5/2018). Channel “Jihadist News” menyebutkan laporan berdasarkan Kantor Berita ISIS “Amaq News Agency.” Dalam siaran ISIS berbahasa Arab yang ditayangkan laporan SITE.

Keterangan Polisi:
Betul narapidana terorisme terlibat ricuh dengan aparat di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Para narapidana terorisme dikabarkan berhasil merebut 4 senjata api milik aparat Densus (Okezone).
Menurut Karopenmas Mabes Polri Brigjen M Iqbal guna meredam kericuhan dilakukan penanganan oleh aparat Brimob dan Kepolisian. “Betul, ada insiden dan sekarang sedang ditangani oleh Brimob dan Kepolisian setempat,” ujar Iqbal kepada Wartawan. Di lain pihak Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Argo Yuwono menjelaskan bahwa kericuhan itu hanya dipicu masalah titipan makan.

“Paska sholat Maghrib ada napi yang menanyakan titipan makan dari keluarga. Kemudian salah satu anggota menyampaikan bahwa titipan makanan dipegang oleh anggota lain,” kata Argo dalam keterangan tertulisnya. Napi itu tidak terima dengan perlakuan petugas. Kemudian mengajak napi lain untuk membuat rusuh dengan membobol pintu dan dinding sel. Akhirnya situasi tidak terkontrol. Napi menyebar keluar sel dan mengarah ke ruangan penyidik, memukul beberapa anggota penyidik yang sedang BAP tersangka baru, ungkap Komjen Argo.

Akibat kericuhan itu empat personel kepolisian mengalami luka, mereka di antaranya Iptu Sukastri, Brigadir Haris, Briptu Hadi Nata, dan Bripda Ramadan. Informasi yang beredar di kalangan media sejumlah napi teroris menyandera empat anggota dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan mengambil senjata dari anggota tersebut.

Adapun penyebabnya, para napi yang berada di blok C kerap membuat ulah lantaran dihuni oleh orang-orang yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat.

Post mortem:
Menurut Iqbal, 5 (lima) polisi gugur dan 1(satu) narapidana kasus terorisme tewas dalam insiden. Satu narapidana terorisme itu ditembak karena melawan dan merebut senjata petugas. Akhirnya Kepolisian mengkonfirmasi adanya 6(enam) kantong mayat yang keluar ex Mako Brimob.

Kembali ke pertanyaan semula di awal block: Apa yang terjadi sebenarnya dan koq bisa?

Brigade Mobil (Brimob) adalah extension Kepolisian; kekuatan paramilitary seperti “Carabinieri” dengan kemampuan tugas Kepolisian, demolition (penjinak bom) dan akhir-akhir ini dibekali kemampuan anti-terror selain dakhura (penindakan huru-hara dan violence demonstration).

Minimnya fasilitas dan infrastruktur tahanan khusus kategori ‘extreme dangerous inmates’ – terroris mendorong Pemerintah c.q. Aparat Keamanan Dalam Negeri untuk ‘menitipkan’ tahanan terroris di Mako Brimob. Strategic surprise (kejutan) jebolnya jaring pengamanan dan tewasnya 5 orang Polisi contra 1 tahanan terroris yang dieksekusi menunjukkan apa? Incapability, atau ente pikir sendiri. Dengan fasilitas dan anggaran pendukung plus course ke Aussie dan AS mestinya the Indonesian Carabinieri mampu menghadapi tantangan berupa pendadakan.

Terlebih lagi stakeholders NKRI perlu bangun dari tidur panjang, bahwa Ideologi tak bisa dipenjara. Deradikalisasi atas nama HAM? Forget it. Act accordingly menghadapi terroris, ISIS dan apapun namanya.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: