Korban kebodohan (Politik)

Korban kebodohan (Politik)
Andi Naja FP Paraga (Penulis/ Ketua Komite Politik SBSI)

Oleh : Andi Naja FP Paraga *)

Jayakartapos,    Dita Supriyanto, adalah seorang suami dari Puji Kuswati dan ayah dari Yusuf Fadil( 18 tahun), dan Firman Halim (16 tahun), Fadila Sari (12 tahun) dan Pamela Rizkita (9 tahun). Dita Supriyanto -yang disebut sebagai Ketua Jemaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur. Dia juga baru kembali dari Suriah sebagai laskar ISIS. Dia membawa istri dan empat anak pada Minggu (13/05) pagi itu dengan mobil untuk misi bunuh diri. Pertama ia menurunkan istrinya, Puji Kuswanti, dan dua anak perempuan mereka, Fadila Sari (12 tahun) dan Pamela Rizkita (9 tahun) di GKI di kawasan Wonromo. Ketiga orang ini memakai sabuk bom yang dililitkan di pinggangnya. Selanjutnya meledaklah bom itu. Bagian perut mereka tidak utuh lagi. Sementara bagian atas tubuh dan bagian kaki, relatif masih utuh.

Sementara itu Dita melanjutkan perjalanan ke Gereja Santa Maria Tak Bercela, untuk menurunkan dua anak-anak lelaki mereka, Yusuf (18 tahun) dan Alif (16 tahun). Dua anak remaja itu lalu berboncengan naik motor dengan bom di gendongan. Bom kotak yang dalam posisi dipangku itu diledakkan oleh 2 anak lelaki Dita. Kedua anak itu tewas. Lalu Dita yang juga imam keluarga- masih melanjutkan perjalanan lagi untuk menuntaskan misi terakhir keluarga ke Gereja Pantekosta. Meledaklah bom di sana. Darimana bom itu didapat? ternyata Dita rakit sendiri. Dirumahnya ditemukan petugas bahan-bahan untuk perakitan bom seperti belerangg, aseton, HCL, Aquades, H2O, black powder dan korek api kayu dan styrofoam. Belum tahu darimana dia dapatkan bahan berbahaya itu.

Entah mengapa kisah dan profile dari Dita ini membuat saya sesak nafas membacanya. Betapa tidak. Saya seorang ayah dan suami yang tahu pasti bagaimana mencintai keluarga. Jangankan memprovokasi mereka untuk mati , melihat mereka sakit saja serasa setengah jiwa saya sakit. Itu manusiawi. Semua ayah punya hati seperti itu sebagaimana pesan cinta yang ditiupkan Tuhan kedalam hati ayah. Tetapi kalau ada seorang ayah dan juga suami memprovokasi keluarganya untuk bunuh diri maka jelas dia udah kehilangan hati , tentu kehilangan Tuhan dalam dirinya. Lantas mengapa sampai Dita sampai kehilangan nalar dan hati itu ?

Menurut saya itu karena kehebatan dari sang provokator. Sang provokator bukanlah orang biasa. Tentu sangat menguasai teori inteligent khususnya rekruitmen agent untuk diterjunkan ke lapangan. Kalau menurut Polisi bahwa DIta pernah bergabung dengan ISIS. WikiLeaks, membuka file dari 531.525 kabel diplomatik dari tahun 1979. Itu semua membuktikan bahwa CIA dan dukungan elite politik AS , Israel dan Arab saudi ada dibalik pembentukan ISIS. Dengan demikian keberadaan ISIS menggunakan dua keahlian menguasai agent nya, yaitu tekhnik rekruitmen inteligent dengan latihan aksi teror dan penanaman paham militan melalui pendekatan agama Islam. Team intelektual dibalik ISIS itu memang hebat sekali.

Karena pendekatannya adalah inteligent maka cara beroperasi pun dengan sistem sel sehingga antar pelaku intelektual dan pelaku teror tidak saling berhubungan langsung. Bahkan kehebatan cara kerja aksi inteligent ini membuat pelaku jadi mesin pembunuh yang mandiri. Mereka bisa merakit sendiri bom dan mengatur serangan dengan cermat. Semua itu karena pelaku sudah dicuci otaknya sehingga hanya focus kepada tujuannya, yaitu masuk sorga dengan mudah. Seperti Dita ini banyak , mereka termasuk Lone Wolf. Apa itu Lone wolf ? aksi perorangan yang terpapar ideologi radikal. Mereka umumnya berangkat dari pemahaman agama yang dangkal.

Ketika hidup dalam tekanan dan hopeless , mereka mendapatkan inspirasi hebat dari seseorang yang dikenalnya lewat sosmed, mengajaknya menjadi sahid untuk mencapai kebahagiaan tanpa akhir di sorga. Kemudian setelah pemaham radikal itu tertanam, melalui sosmed juga mereka belajar cara merakit bom atau merencanakan penyerangan. Hebatnya aktor intelektual dibalik keberadaan Lone Wolf ini tahu bagaimana mengajarkan membuat bom dari kelas murahah ( panci) sampai yang agak mahal sekelas high explosive. Bahkan yang terlalu bego untuk mengerti meracik bom disarankan serang aparat dengan apa saja, termasuk pisau, contoh kejadian di Masjid yang melukai polisi yang sedang sholat.

Keberadaan dan pertumbuhan lone wolf di Indonesia paling tinggi jumlahnya. Mereka ada dimana mana tersembunyi dalam kehidupan religius namun dalam keadaan awas dan siap kapan saja bisa jadi mesin pembunuh yang massive. Bahkan sangking banyaknya, tercatat yang tertangkap di Turki yang masuk dalam jaringan ISIS sebagian besar orang Indonesia. Mengapa ? karena selama 10 tahun SBY berkuasa atau sejak UU terorisme 2003 memang terjadi pembiaran paham radikalisme ini, dengan terang terangan didepan mata aparat mereka menyatakan anti Pancasila. Dari gerakan ini melahirkan banyak ustadz yang secara sistematis mendatangi masjid , mejelis ilmu, rapat akbar, kampus untuk memprovokasi siapa saja agar ikut dalam melawan kaum kafir demi sahid.

Kaum yang termajinalkan mudah sekali terprovokasi ikut dalam barisan radikalisme agama. Ya cara PKI menarik massa diterapkan dengan smart. Tentu dari aktifis ormas radikal, sampai dengan Partai yang kalah pemilu ikut meramaikan. Mutual simbiosis terjadi walau agendanya berbeda beda. Mau tahu siapa mereka? lihatlah setelah kejadian aksi teror yang dilakukan Lone Wolf. Mereka itu tidak mengutuk aksi teror itu tapi justru menggunakan aksi teror itu untuk menyudutkan pemerintah, bahkan memfitnah Polisi sebagai pelaku sesungguhnya atau istilah keren mereka “konspirasi”.

Dari gerakan ini meluas menjadi lahirnya cyber army yang militan menyebarkan kebencian kepada pemerintah yang syah dan membenci siapa saja yang menentang perjuangan mereka. Bahkan mereka tidak segan menyatakan orang islam yang tidak pro mereka sebagai kafir. Dampak dari paparan idiologi radikal ini lebih buruk dari Candu. Kalau inggeris menjatuhkan China dengan menjejalkan candu kepada rakyat china, maka ini sekelompok orang menghancurkan NKRI melalui paham radikalisme atas nama agama. Tidak ada nilai agama yang mereka perjuangkan kecuali mereka membajak Islam untuk melaksanakan syahwatnya.

Merekalah musuh islam yang sesungguhnya. Upaya pemerintah untuk memblokir akun sosmed yang terindikasi jaringan radikal dan bahkan akan memblokir jaringan sosmed itu sendiri, adalah langkah persuasi yang tepat. Karena negeri ini terlalu besar bila harus hancur oleh sekelompok orang sakit jiwa karena candu agama yang dijejalkan oleh sekelompok orang mengecut. Jangan sampai rakyat yang sudah miskin jadi korban radikalisme. Karena ketika aksi teror terjadi maka yang jadi korban pertama kali adalah pelaku itu sendiri. Sementara aktor intelektualnya sedang asyik dalam pelukan para selir dirumah mewah bersatpam dengan kendaraan mewah di garasi.

*) Penulis adalah ketua komite politik DPP SBSI

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish