STEPI ANRIANI : CALEG PERLU GUNAKAN METODE INTELIJEN DALAM MEREKRUT TIMSES

STEPI ANRIANI : CALEG PERLU GUNAKAN METODE INTELIJEN DALAM MEREKRUT TIMSES

 

Banda Aceh. Calon legislatif hendaknya melakukan pendekatan melalui metode intelijen, dengan memanfaatkan rekrutmen tim sukses dengan mempertimbangkan latar belakang MICE (Money, Ideology, Compromise dan Ego) target. Kemudian, menjadikan media sosial sebagai arena kampanye dan tempat memperebutkan suara melalui personal branding dan kemampuan leadership serta komunikasi calon legislatif.

Demikian dikemukakan Stepi Anriani, MSi dalam acara bedah buku “Intelijen dan Pilkada” karya Stepi Anriani, M.Si di Banda Aceh (29/10/2018) seraya menegaskan, buku “Intelijen dan Pilkada” membahas tentang strategi yang dapat diterapkan dalam rangka pemenangan Pilkada yang mana merupakan tempat adu gagasan demi memberikan yang terbaik untuk rakyat. Oleh karena itu, dalam memenangkan suatu Pilkada diperlukan strategi pemenangan yang perlu untuk dicermati. Strategi yang dapat ditempuh adalah “pendekatan intelijen”, dan inilah yang akan menjadi fokus utama dalam buku ini.

“Mengarahkan Calon Legislatif yang hadir agar menghindari politik uang karena cara tersebut sudah tidak relevan dengan perkembangan kaum milenial yang lebih tertarik pada pendekatan melalui metode yang ringan dan santai seperti lewat meme, stand up, dan berbagai kampanye melalui media sosial sesuai dengan trend saat ini. Salah satu contohnya adalah seperti yang dilakukan oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat dalam usaha mendapatkan perhatian masyarakat dengan cara aktif di media sosialnya dan melakukan interaksi dengan berbagai pegiat media sosial. Cara seperti ini perlu dilakukan oleh Prabowo Subianto apabila ingin menang dalam Pemilihan Presiden 2019. Selain itu, perlu adanya kelahiran Prabowo gaya baru atau “New Prabowo” yang lebih menarik bagi masyarakat milenial yang tidak terlalu suka hal-hal/penyampaian dengan cara lama,” ujar pengamat intelijen lulusan Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia Angkatan ke-8 ini.

Menurutnya, Caleg perlu melakukan pendekatan yang berbeda dalam usaha memenangkan Pilkada 2019, seperti usaha yang dilakukan oleh koalisi Calon Presiden Joko Widodo saat ini yang terus melakukan pendekatan unlogical dalam rangka memperoleh suara semenjak kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2017.

“Perlunya pembentukan tim cyber untuk membantu pemenangan calon legislatif untuk melakukan pencitraan dan melakukan kontra propaganda tim sukses pesaing,” tegas Stepi yang sedang menempuh program doktoral di Universitas Indonesia ini.

Untuk partai lokal, ujarnya, disarankan untuk melakukan perubahan atau pendekatan unlogical dengan cara menonjolkan program khas partai lokal Aceh itu sendiri. Hal seperti ini juga berlaku untuk partai politik lain dimana seharusnya partai politik di Indonesia tidak dibentuk dalam wujud ikon partai, karena apabila ikon tersebut hilang partai terkait akan kehilangan kendalinya dan justru dapat terpecah menjadi partai-partai kecil.

“Idealnya partai politik dibentuk karena kesamaan paham dan pemikiran yang khas dari masing-masing partainya sehingga partai tersebut akan tetap bertahan walau ditinggalkan oleh tokoh prominennya,” ujar perempuan berparas cantik ini (Red).

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish