Menyoal Rencana Aksi Bela Tauhid 2 November 2018

Menyoal Rencana Aksi Bela Tauhid 2 November 2018

Oleh : Daniel Sulaiman *)

Jayakartapos,  Tampaknya ulah anggota Banser yang membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid di Limbangan, Garut, Jawa Barat, tetap kurang bisa dimaafkan oleh elemen masyarakat Islam secara mayoritas di Indonesia, karena pembakaran bendera tersebut yang dianggap sebagai bendera HTI oleh oknum anggota Banser, ternyata berdasarkan pendapat berbagai pihak bukan merupakan bendera HTI, karena tidak ada logo HTI. Bahkan, mantan Jubir HTI, Ismail Yusanto menolak bendera yang dibakar oknum Banser tersebut adalah bendera mantan organisasinya.

Padahal, upaya-upaya untuk meredam atau menetralisir permasalahan sensitif dan strategis ini sudah dilakukan berbagai kalangan, termasuk Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah mengumpulkan beberapa tokoh Ormas Islam, termasuk Cawapres Ma’ruf Amin yang berpasangan dengan Jokowi, dan juga NU maupun Muhammadiyah sudah mengeluarkan himbauan agar tidak mempermasalahkan kembali pembakaran bendera ini, namun tampaknya upaya tersebut tidak digubris oleh arus utama masyarakat Islam di Indonesia yang tetap menganggap permasalahan tersebut belum selesai, sehingga mereka berencana akan menggelar aksi bela tauhid dengan titik kumpul di Masjid Istiqlal tanggal 2 November 2018 dan setelah sholat Jum’at, massa akan mengeluruk atau mendatangi Istana Negara untuk melakukan aksi unjuk rasa dengan membawa sejumlah tuntutan.

Rencana aksi tersebut jelas akan diikuti oleh massa yang besar mengingat sejumlah pemuka Islam, dai dan tokoh-tokoh Islam terkenal dan memiliki basis massa yang kuat tampaknya sudah menyatakan diri kesiapannya untuk melakukan aksi membela tauhid tersebut.

Di tahun politik seperti sekarang ini, memang akan banyak muncul propaganda dan counter propaganda dari berbagai kelompok, terutama yang memiliki hajat besar untuk berkuasa, bahkan mungkin rencana aksi unjuk rasa inipun akan dinilai “tidak murni” oleh kelompok yang kurang suka dengan rencana aksi tersebut, apalagi tanggal pelaksanaannya sama dengan aksi membela Al Maidah 51 yang pernah diadakan pada 2 November 2016 dengan jumlah massa yang signifikan, dan akhirnya membuat Ahok harus “rontok” di Pilkada Gubernur DKI Jakarta 2017. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika aksi 211 tersebut juga dikhawatirkan akan berimplikasi dengan kerontokan Jokowi dalam Pilpres 2019 jika gagal untuk dibendung keberlanjutan aksinya.

Pelajaran pentingnya adalah sebaiknya umat Islam tidak saling membenci umat Islam lainnya, karena rawan dibenturkan dan diprovokasi di tahun politik saat ini. Penulis sepakat dengan pendapat Yusril Ihza Mahendra, yaitu umat Islam janganlah membenci HTI. “Pengurus dan anggota HTI itu semuanya adalah saudara-saudara kita sesama muslim. Bahwa ada perbedaan pendapat mengenai konsep khilafah, perbedaan seperti itu lazim dalam sejarah pemikiran Islam. Polemik soal pembakaran bendera berkalimat tauhid di Limbangan, Garut, Jawa Barat pada saat perayaan Hari Santri Nasional agar semua pihak mengambil jalan musyawarah demi meredam persoalan ini,”ujar Ketua Umum Partai Bulan Bintang ini. Semoga.

*) Penulis adalah pemerhati masalah kebangsaan. Tinggal di Bogor, Jawa Barat.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: