Masyarakat Adat Dan Masyarakat Kraton Harus Ikut Membangun Bangsa Dan Negara

Masyarakat Adat Dan Masyarakat Kraton Harus Ikut Membangun Bangsa Dan Negara

Jayakartapos,  Dialog atau sejenisnya mengenai Peran Masyarakat Adat dan Kraton sesungguhnya sudah berulangkali menjadi topik pembicaraan pada berbagai kesempatan.

Atlantika Institut Nusantara pun sudah lebih dari tiga kali mengangkatnya menjadi topik utama diskusi meski dalam tenggang waktu yang cukup lama momentumnya.

Bahkan Komunitas Buruh Indonesia pun sempat menjadikannya sebagai topik bahasan yang berkelanjutan. Namun kesimpulan sementara hasilnya tetap kembali bergantung pada masyarakat adat dan masyarakat Kraton sendiri yang lebih berhak dan relevan mengaktualisasikan dalam kehidupan nyata, baik dalam konteks berbangsa maupun penataan negara.

Masyarakat adat dan masyarakat Kraton wajar harus mengakui bila peranannya telah terpinggirkan dalam membangun bangsa dan negara.

Padahal pada awalnya peranan masyarakat adat dan masyarakat Kraton sangat besar dan sangat menentukan sebagaimana telah berlangsung sejak berabad-abad silam sebelum Indonesia diproklamasikan.

Masyarakat adat dan masyarakat Kraton telah membuktikan masa kejayaannya seperti tercatat dalam sejarah masa lampau suku bangsa nusantara.

Lalu masyarakat adat bersama masyarakat Kraton memberi mandat dengan segenap otoritas kekuasaannya melebur dalam satu negara kesatuan yang bernama republik Indonesia.

Masalahnya yang muncul kemudian adalah bukan cuma habitat budaya yang telah terbangun dengan susah payah itu nyaris musnah habis, tetapi juga tatanan sosial politik dan ekonomi dalam pengertian yang lebih luas, pun ikut terlantak hingga tidak memberi banyak manfaat bagi segenap warga suku bangsa Nusantara yang melebur satu menjadi bangsa dan negara kesatuan Indonesia.

Hasil bumi dan air serta segenap kandungan yang ada di perut bumi negeri ini tidak bisa dinikmati oleh suku bangsa yang memilikinya secara sah dan mutlak.

Demikian juga dengan kedaulatan warga bangsa Nusantara sebelumnya yang kemudian melebur dalam bentuk rakyat Indonesia yang merdeka, justru menghadapi realitas sebaliknya.

Oleh karena itu, gagasan untuk meremuskan peran masyarakat adat dan masyarakat Kraton untuk dapat ambil bagian dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara perlu segera dilakukan, untuk kemudian dijadikan pedoman dinm masa mendatang.

Peranan masyarakat adat dan Kraton harus memperoleh tempat dan kesempatan, karena sesungguhnya merekalah pemilik sah republik ini dengan memverikan semua otoritas kekuasaannya berikut bumi dan air yang merupakan wilayah yang telah dipelihara dengan susah payah secara turun temurun dari para leluhur yang dengan gigih mempertahankan pula dari penjarahan bangsa asing.

Atas dasar itu pula rasa keprihatinan pun menggelora, akibat dari adanya kecenderungan semua kekayaan alam kita justru semakin dikuasai bangsa asing.

Saatnya peranan masyarakat adat dan masyarakat Kraton — sebagai pemilik sah negeri ini — ikut menata kehidupann berbangsa dan bernegara agar segenap warga bangsa Indonesia dapat benar hidup mandiri secara ekonomi, berdaulat dalam politik dan berkepribadian dalam tatanan budaya yang lebih beradab dan bermartabat.

Rumusan dan tata pelaksanaan teknisnya sungguh sangat diharap bisa dihasilkan oleh temu jangan masyarakat adat dan masyarakat Kraton pada 30-31 Maret 2018 di Rejang Lebong, Bengkulu yang dimotori sejumlah tokoh bersama Assosiasi Kerajaan dan Kraton se Nusantara.

Semua tokoh adat bersama Sultan serta Ratu diharap dan pemuka masyarakat dari semua bilik Provinsi yang ada di indonesia, diharap dapat hadir dan memberikan pokok pemikirannya untuk membangun bangsa dan negara Indonesia secara bersama-sama. Sebab bangsa dan negara Indonesia tidak boleh dibiarkan dikelola dengan serampangan, dimana kemiskinan dan ketidakadilan masih terus menyergap rakyat dalam jumlah yang terap banyak. (Jacob Ereste)

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: