Membakar Simbol Agama Untuk menumpas Makar Dan Provokasi

Membakar Simbol Agama Untuk menumpas Makar Dan Provokasi
Foto : Andi Naja FP Paraga (Penulis)

Oleh : Andi Naja FP Paraga

Jayakartapos,  Debat panjang terkait pembakaran bendera bertuliskan kalimat “La Ilaha illallah” (Tiada Tuhan selain Allah) ” cukup menyita waktu,perhatian bahkan emosi banyak pihak. Sejak Peringatan Hari Santri 22 Oktober 3018 yang lalu persoalan tersebut masih menjadi materi perbincangan bahkan debat di ruang publik termasuk di media cetak,elektronik bahkan media sosisl. Tentu pro kontra tak dapat dihindari bahkan sudah cendrung berkubu-kubuan. Banyak pihak yang turut berbicara walau tidak didukung pengetahuan yang cukup,nsmun tentu yang patut di apresiasi banyak pihak yang menyimak dan tidak mau ikut-ikutan dalam pro kontra.

Penulisan kalimat Tauhid”La ilaha illallah” dalam  bendera berwarna dasar dengan tulisan putih dan bendera berwarna dasar putih dengan tulisan hitam ditengarahi sebagai” Bendera Tauhid dan Bendera Rasullah” itu pada setiap aksi-aksi unjuk rasa Hizbut Tahrir sering dikibarkan bahkan dalam aksi-aksi ormas-ormas islam ketika memperotes sebuah kebijakan pemerintah yang dinilai menzalimi umat islam atau ketika pernyataan seseorang dan kelompok yang dinilai menistakan agama islam. Bendera-bendera bertuliskan kalimat tauhid itupun memenuhi tempat aksi baik berukuran kecil atau besar.

Namun marilah sejenak kita menembus batas waktu berabad-abad menuju Madinah sebuah Kota Suci Umat Islam ketika The Propeth Nabi Muhammad SAWW tengah memimpin masyarakat sebuah negeri. Sebagai Sentral Kepimimpinan beliau Nabi Muhammad SAWW membuat sebuah Masjid yang bernama” Masjid Nabawi” ditengah Kota. Masjid tersebut menjadi pusat berlangsungnya kegiatan kegiatan keumatan bahkan negara. Nabi Muhammad SAWW memang tidak membuat istana apalagi singgasana didalam membangun dan membina masyatakat melainkan memaksimalkan fungsi masjid Nabawi hampir untuk semua urusan kecuali urusan perniagaan.

Namun Masjid Nabawi bukanlah satu-satunya Masjid di Madinah,ada beberapa masjid lainnya yang digunakan oleh masyarakat(umat) untuk beribadah dan berkumpul. Ada sebuah Masjid justru diluar substansi penggunaannya bahkan sekelompok orang menggunakannya untuk memprovokasi masyarakat bahkan cendrung makar terhadap kepemimpinan Nabi Muhammad yang secara Aklamasi telah ditunjuk oleh Mayoritas Masyarakat Madinah baik dari kelompok Mujahidin(Pendatang yang Hijrah dari Mekkah) staupun dari kelompok Ansar(Penduduk Asli Madinah). Masjid yang digunakan oleh kelompok tertentu untuk memprovokasi bahkan makar itu dijuluki Nabi Muhammad SAWW sebagai Masjid “Pencipta Perpecahan” atau “Masjid Diror”. Untuk menghentikan amtifitas provokatif dan agitatif serta makar maka beliau memerintahkan untuk membakar masjid tersebut.

loading...

Nabi Muhammad SAWW Rasul Utusan Tuhan memerintahkan pembakaran masjid diror dan pembakaran memang benar benar terjadi. Lantas apa hikmah yang bisa dipetik dari kejadian tersebut :

Pertama,Nabi Muhammad hendak memberi peringatan kepada umat setelah beliau bahwa Masjid dan Simbol-simbol Suci Agama bukanlah sesuatu yang menjadi pokok utama yang harus dibela. Yang dibela itu adalah kebenaran bahkan jika harus dengan menghancurkan simbol-simbol Agama.

Kedua, Nabi Muhammad SAWW ingin mengajarkan kepada umat bahwa didalam internal islam sendiri ada pihak-pihak yang menggunakan simbol-simbol agama untuk berbuat kebathilan.

Ketiga : Nabi Muhammad SAWW memberi isyarat bahwa akan ada Umat Islam yang akan menjadikan masjid-masjid sebagai tempat makar dan menghasut.

Semua hal yang diungkapkan diatas sudah sering terjadi sejak The Propeth Nabi Muhammad SAWW Syahid+Wafat). Jika kita penikmat Tarikh(Sejarah) sangat sering dikisahkan dalam kitab-kitab sejarah betapa seringnya simbol-simbol agama justru digunakan untuk kepentingan kelompok dan kekuasaan yang berakibat peperangan antar umat islam. Perang SIFFIN misalnya adalah perang antar ummat islam yang terjadi di Era Kepimpinan Umat Islam dibawah kepimpinan Sayyidina Ali bin Abithalib Radhiallahu anhu seorang tokoh yang dikenal Zuhud(tidak cinta dunia),demokratis bahkan hidup bersahaja. Seorang Gubernur dari SYAM(sekarang Suriah) bernama Muawiyah bin Abu Sofyan memimpin perang melawan Pemimpin yang SAH dimana simbol-simbol agama digunakan mengkudeta pemimpin yang SAH.

Indonesia sebagai Negara berdaulat memang harus tegas mengambil sikap. Pemerintah dari Pusat hingga daerah wajib satu sikap. Jangan sampai Pemerintah Pusat telah mengambil keputusan membekukan Kegiatan Organisasi yang selalu bersikap Provokatif dan agitatif terhadap Negara tapi justru ketika mereka melakukan aksi-aksi didaerah atas alasan demokrasi lalu difasilitasi. Pengibaran bendera selain bendera merah putih bahkan di Tiang Bendera Kantor Kepala Daerah sungguh peristiwa yang mengkhaeatirkan. Nasionalisme Pemimpin Daerah patut untuk dikuatkan dan dipertegas kembali. Hal ini sangat aktraktif provokatif dan tidak boleh terulang kembali apapun alasannya. Semoga hal ini menjadi perhatian kita bersama

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: