Pernyataan BIN Tidak Profesional

Pernyataan BIN Tidak Profesional

Jayakartapos,  Badan Intelijen Negara (BIN) mengaku telah membina 50 lebih Dai yang terkait dengan 41 Masjid yang terpapar paham radikalisme (Tempo, 20 November 2018). Demikian ungkap Wawan Hari Purwanto, juru bicara Badan Intelijen Negara saat konfrensi pers terkait dengan 41 masjid di lingkungan pemerintah yang terpapar paham radikalisme di Jakarta.

Diungkapkan jugs bahwa BIN telah melakukan pembinaan terhadap 50 lebih penceramah terkait adanya temuan puluhan masjid di lingkungan kantor pemerintahan yang terpapar paham radikal yang dianggap telah menjadi momok sangat menakutkan itu. Akibatnya sosok dari para hantu yang sangat menakutkan itu terkesan sedang gentayangan di antara kita. Akibatnya, antara sesama anggota masyarakat pun kita akan saling curiga dengan kriteria yang tidak jelas parameter atau ukurannya. Jadi BIN segera menghentikan sensasi murahan seperti menebar pemahaman radikal yang tidak jelas definisi serta kreterianya, apalagi untuk majid di lingkungan instansi pemerintah. Sebab dengan mengekspose berita murahan seperti itu justru tidak membuat masyarakat jadi tenteram, karena warga masyarakat justru semakin tidak percaya dengan aparat pemerintah akibat sensasi murahan itu.

Jika pun benar paparan dari paham radikal warga mayarakat memang seperti itu adanya, pasti akan lebih meyakinkan bila dilakukan saja dengan operasi senyap, tanpa banyak omong.

Padahal masalah pokoknya yang telah membuat banyak warga masyarakat bingung adalah kreteria serta indikator aps saja yang bisa dijadikan patokan bahwa sesrorang itu telah terpapar radikalisme. Dan radikslisme itu sendiri apa dan bagaimana wujudnya. Lalu untuk mereka yang terpapar radikalisme itu harus disikapi bagaimana oleh masyarakat kebanyakan.

Sungguh paparan radikalisme yang ditilis BIN semakin menambah keresahan dan rasa tidak percaya warga kebanyakan seperti saya, sebab apa yang dimaksud radikal itu sendiri tidak jelas apa yang membuatnya jadi andemi yang berbahaya.

Dan bagi BIN sendiri, apakah menjadi sangat penting, hingga harus mengekspose paparan radikal yang tidak jelas wujudnya bagi masyarakat ?

Dan jika pun benar, mengapa tidak dilakukan dengan operasi senyap saja ?

Atau, sungguhkah sensasi bawaan dari ekspose berita murahan itu sedemikian penting sehingga mengabaikan akal sehat warga masyarakat ?

Saya keberatan tanpa pemaparan yang jelas dan tidak terang tentang ikhwal dari andemi radikalisme itu sesungguhnya apa ?

Bila tidak, artinya itu semua cuma sekedar sensasi semata yang makin membuat bingung dan tidak percayanya rakyat banyak seperti saya.

Jacob Ereste
(Atlantika Institut Nusantara dan Wakil Ketua F.BKN SBSI)

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: