Adakah Indikasi Pemilu 2019 Akan Rusuh ?

Adakah Indikasi Pemilu 2019 Akan Rusuh ?
merahputih.com

Oleh : Daniel Sulaiman

Jayakartapos,  Seorang warga Sampang bernama Subaidi tewas ditembak oleh Idris saat keduanya bertemu di tengah jalan. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Frans Barung Mangara mengatakan perseteruan itu bermula saat Idris mengomentari postingan di akun Facebook seseorang yang berbunyi, Siapa pendukung capres ini akan merasakan pedang ini.”

Menurut Frans, Idris mengomentari, “Saya ingin merasakan tajamnya pedang itu.” Setelah itu, Idris didatangi beberapa orang, di antaranya pemilik foto yang menanyakan maksud dari komentar Idris. Kedatangan sejumlah orang itu ke rumah Idris terekam dalam sebuah video yang kemudian diunggah Subaidi ke Facebook. Dalam postingan itu, Subaidi meledek Idrus dan mengancam akan membunuh.

Postingan Subaidi soal pilihan capres itu menyulut sakit hati Idris. Idris lantas mencari tahu soal Subaidi. Suatu ketika, keduanya berpapasan di jalan saat tengah berkendara sepeda motor. Menurut Frans, Subaidi sengaja menabrakan motornya ke motor Idris hingga terjatuh. Lalu, Subaidi menodongkan pisau ke arah Idris. Namun Subaidi tiba-tiba terpeleset. Melihat kesempatan itu, Idrus mengeluarkan senjata api, lalu menembakkan pistol itu ke dada kiri Subaidi tanggal 21 November 2018.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin (Jokowi – Ma’ruf), Abdul Kadir Karding mengatakan pelbagai pihak harus mengambil hikmah atas terjadinya cekcok beda pilihan calon presiden yang berujung maut di Sampang, Madura.

Karding mengatakan peristiwa ini menjadi bukti bahwa masyarakat amat menganggap serius pemilihan presiden 2019. Karding melanjutkan, keseriusan masyarakat ini harus dipikirkan dan disadari para elite, tim kampanye, dan juru kampanye. Mereka, kata Karding, tak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang provokatif, bohong atau hoax, dan berpotensi membawa pembelahan di tengah masyarakat.

Wakil Ketua Timses Jokowi – Ma’ruf ini pun meminta otoritas lain, seperti pengelola media massa dan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk turut andil dalam penciptaan dan distribusi konten-konten kampanye yang damai.

Sementara itu, Ketua Direktorat Relawan Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Ferry Mursyidan Baldan menyayangkan tragedi cekcok perbedaan dukungan calon presiden atau capres berujung pembunuhan. Ferry mengatakan kontestasi politik tak seharusnya menjadi alat untuk memantik konflik. “Ini menyedihkan dan warning (peringatan) untuk kita semua,” ujar Ferry kepada Tempo pada Ahad malam, 25 November 2018 melalui pesan teks.

Ferry mengatakan kompetisi politik seharusnya menjadi tantangan masyarakat untuk saling mengemukakan gagasan terhadap pilihannya. Bukan wadah untuk saling tikam.

Ferry meminta para pendukung untuk bijak menanggapi kampanye-kampanye di media sosial. Bila timbul tragedi pertikaian akibat ruang sosial itu, Ferry mengatakan hal ini harus menjadi bahan introspeksi untuk semua pihak. Baik untuk audiens kampanye maupun dua pasangan calon presiden. Ferry juga mengimbau relawan Prabowo – Sandiaga menjaga citra kontestasi pemilihan presiden. Musababnya, pesta demokrasi ini adalah salah satu cermin peradaban bangsa. Bila masyarakat terpecah, maka wajah Indonesia di mata dunia pun terdampak.

Berpotensi rusuh ?

Pemilu 2019 cukup berpotensi untuk menyulut situasi rusuh, setidaknya jika dilihat dari faktor-faktor internal dan eksternal yang sedang berjalan atau terjadi atau setidaknya sebagai asumsi.

Dari sisi faktor-faktor internal antara lain : kedua kubu Capres sama-sama ngotot atau berkeinginan keras untuk memenangi Pemilu 2019 terutama Pilpres, bahkan mereka menggunakan cara-cara yang masuk kategori “Machiavelism”. Faktor internal lainnya ternyata KPU, Bawaslu dan DKPP RI juga dinilai kurang tegas dalam menegakkan aturan terkait Pemilu 2019. Selanjutnya, kedua kubu juga menggunakan diksi-diksi yang memancing emosional dan sarkasme seperti “Politik sontoloyo”, “Politik gondoruwo”, “Budek dan buta”, “Tampang Boyolali” dan kemungkinan masih akan banyak lahir diksi-diksi emosional dan sarkasme lainnya. Kedua kubu juga memiliki pengusung atau pendukung dari kalangan Parpol yang sebenarnya masih mengalami konflik internal yang beberapa diantaranya belum terselesaikan oleh mereka.

Faktor-faktor lainnya berbagai kelompok kepentingan terus melakukan konsolidasi bahkan patut diduga kelompok sel-sel teror yang ada di Indonesia juga memantau persiapan Pemilu 2019 untuk mencari peluang meluncurkan serangan mendadak mereka mengganggu persiapannya. Munculnya aksi-aksi kekerasan seperti yang terjadi di Madura ataupun mungkin akan terjadi di beberapa daerah lainnya, karena sentimen atau fanatisme yang berlebihan terhadap figur calon pemimpin. Disamping itu, situasi ekonomi nasional yang belum stabil juga berpotensi menambah keruwetan Pemilu 2019, termasuk kemungkinan adanya “intervensi asing”, sebab menengok kepada Pilpres di AS yang “diduga” diintervensi oleh kelompok hacker dari Rusia, maka ada kemungkinan Pilpres 2019 akan diintervensi asing juga, jika kemenangan salah satu Capres dirasakan akan merugikan kepentingan asing tersebut.

Setidaknya ada beberapa dampak jika Pemilu 2019 tidak dapat dilaksanakan dengan aman di Indonesia seperti peralihan kekuasaan tidak akan berjalan mulus, ekonomi akan mengalami stagnasi berkepanjangan, demokrasi terancam bahkan berada dalam titik nadir kemunduran dan terjadinya instabilitas keamanan yang tidak akan menguntungkan pihak manapun juga.

So, tidak ada cara lain untuk mencegahnya kecuali kita semua dalam berkampanye dan melakukan aktifitas politik lainnya terkait dengan Pemilu 2019 terus mengedepankan cara-cara damai dan beretika.

*) Penulis adalah pemerhati masalah Indonesia.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: