Acara Reuni 212 Yang Mengesankan

Acara Reuni 212 Yang Mengesankan

 

Fenomena kebangkitan Ummat Islam Indonesia

Jayakartapos,   Acara reuni 212 yang dilakukan Ummat Islam Indonesia di Monumen Nasional (Monas) Jakarta, bagi saya sungguh sangat fenomenal menandai kebangkitan Budaya Bangsa Indonesia yang cinta kedamaian.

Hingga acara reuni ketiga, dapat dipastikan tidak akan ada tindak kekerasan yang mengancam pihak lain. Karena itu menjadi aneh bila ada suatu pihak yang hendak menggagalkan setiap kali hendak dilaksanakan. Namun karena itu Ummat Islam pun semakin percaya bahwa sikap represif tidak harus selalu disikapi dan dihadapi dengan cara keculasan juga. Toh, pada akhirnya Ummat Islam semakin percaya bahwa kebenaran serta kejujuran harus tetap dipegang sebagai bagian dari penuntun keimanan.

Ummat Islam pun yang datang dari berbagai penjuru tanah air ini jangan tidak percaya bahwa acara reuni 212 diikuti dengan rasa gembira oleh Saudara kita dari penganut agama lain.

Inilah satu diantara nilai lebih itu yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Namun tidak juga menapikan ketulusan dan keikhkasan Saudara kita yang datang jauh dari daerah. Mulai dari waktu hingga dana yang tidsk sedikit harus dikeluarkan — kendati kondisi ekonomi rakyat pada umumnya semskin sulit — toh berdatangan juga hingga meyakinkan bahwa kebersamaan Ummat Islam telah bangkit dan jadi semacam fenomena yang membuktikan bahwa potensi Ummat Islam sungguh kuar biasa dakhsyat.

Setidaknya dalam kalkulasi politik dan ekonomi jelas khafilah yang semakin meningkat jumlahnya dari waktu ke waktu menunjukkan potensi Ummat Islam tidak bisa dianggap enteng.

Misalnya saja dari bilik politik, khalifah yang hadir sebanyak 10 juta orang itu jelas lebih dari cukup untuk menentukan arah dari kebijajan politik yang diinginkan, juga termasuk dalam menentukan Caleg dan Pileg.

Acara reuni 212 yang ke 3 ini wajar medapat reaksi negatif dari berbagai pihak. Reaksi negatif dari pihak sebelah itu dapat dijadikan tanda dari sosok yang pasti untuk kita waspadai bahwa sedungguhnya itu diantara musuh yang nyata. Karena mereka tidak ingin agar Ummat Islam menjadi tauladan yang nyata untuk membangun tata kehidupan yang harmoni seperti yang dimaksud dari konsepsi rachmatan lil alamin.

Betapa indahnya rangkaian acara reuni 212 itu sejak mulai dari kampung jalan bersama dengan saling menyapa antara sesama rombongan yang satu dengan para rombongan yang lainnya.

Apalagi kemudian terus bisa berlanjut pada jalinan silaturahmi pada kesempatan lain. Jadi memang Ummat Islam Indonesia tidak perlu sibuk dan terusik oleh keusilan pihak lain. Utamanya dari mereka yang resah dan takut kenyamanan dari persekongkolan jahatnya terusik. Apalagi cuma sekedar isu murahan yang mengatakan bahwa lars khalifat Islam Indonesia sebanyak itu adalah massa bayaran. Tuduhan serupa itu jelas mencerminkan wajamereka yang melontarkan tuduhan itu kepada kita. Jadi tak perku digubris. Tetapi tetap perlu kita semua ketahui.

Bisa dibayangkan sepanjang jalan menuju Monas sekitar, banyak relawan yang ikut memandu juga menyediakan air dan makanan ringan yang cukup bergizi. Dan keramahan para relawan itu pun seperti membasuh hati, sesungguhnya di Indonesia masih banyak ada orang yang mau berbagi perhatian derta keprihatinan pada diri kita, meski belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Lalu apa yang salah dari acara reuni sehingga harus dihambat dan dilarang ? Masalahnya yang mengganjal perasaan mereka: hanya karena kita dianggap telah mengancam rasa kenyamanan dan kekuasaan yang masih hendak mau mereka paksakan kepada kita.

Begitulah, seperti yang diungkap Dr. Fuad Bawazier: sing becik ketitik, sing olo kentoro, seperti yang beliau saksikan sendiri langsung dari arena reuni 212 di lapangan Monas. Juga kegadiran khusus Prof. Amran Razak untuk mengawal saudara saya dari Makassar yang ikut acara reuni 212 di Monas Jakarta, patut dicatat secara khusus, sebab kelak pasti akan menjadi bagian dari sejarah kebangkitan Ummat Islam Indonesia.

Fenomena dari acara reuni 212 kali ini menjadi semakin menarik bukan saja karena mendapat pujian dari Gubernur Jakarta karena juga tertib dan berlangsung hikmat, tapi juga secara kualitas dan kuantitas sungguh benar menakjubkan seperti kesaksian laporan kawan-kawan dari media asing.

Jakarta, 2 Desember 2018

Jacob Ereste
Atlantika Institut Nusantara

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: