PIS (Papua Inteligence Services) Dan Komunitas Intelijen

PIS (Papua Inteligence Services) Dan Komunitas Intelijen
TPN-OPM, sumber : suara.com

Oleh : Arifin Mufti

Jayakartapos,   Komisi I DPR akan memanggil BIN, Polri dan TNI dalam waktu dekat meminta keterangan kinerja mereka. “Jakarta kecolongan” kata Wakil Ketua Komisi 1 Satya Widhya Yudha (detiknews, 4/12).

Ketika BIN lebih fokus kepada Masjid dengan mengambil hasil survey “pesanan” (acara ILC) dan mengumumkan ke Publik bahwa sejumlah Masjid adalah radikal, yang mungkin dianggap sebagai ancaman berbahaya bagi Kemanan Nasional (National Security) ketimbang lainnya.

Ketika sejumlah ormas dan politisi berteriak awas “Indonesia di Suriahkan” atau radikalisme dan intoleransi, anti Pancasila.

Namun, berbeda dengan TNI,komunitas intelijen BAIS lebih menyoroti persenjataan OPM yang ternyata memiliki senjata berstandard NATO termasuk senjata serbu canggih Steyr AUG dari Austria, kaliber standar NATO 5.56×45 mm. OPM atau KKB yang lebih pantas disebut West Papua Terrorist Group karena brutal telah membunuh sandera warga sipil (pekerja swasta) dengan darah dingin, 31 orang tewas, 1 anggauta TNI dan 5 orang sandera lainnya belum ditemukan (Tempoco, CNNIndonesia).

Sebagian mereka tidak bisa mengikuti Natal tahun ini.

Ada sandera selamat setelah minta bantuan anggauta DPRD  kader PKS di Papua.

Klasifikasi: Ringkas – sedang

Papua Barat yang mendeklarasikan dirinya merdeka sudah memiliki Presiden,kabinet, Tentara Papua  (TPNPB) dibawah Komando Egianus, hingga Badan Intelijen yang disebut PIS (Papua Intelligence Services), demikian ketika sejumlah media Jakarta berhasil mengontak juru bicara Papua (Merdekacom, 6/12).

PIS selain ditanam melalui agen dan asetnya, baik di Jakarta juga mungkin di sejumlah kota Australia, di PBB, hingga negeri tetangga Vainatu dan Papua Nugini, indikasinya adalah gerakan mereka (movement) di tataran Internasional. PIS memiliki link khusus termasuk ‘telepon satelit’ sehingga bisa terhubung ketengah hutan, Jakarta, Vainatu, Papua Nugini hingga beberapa tempat di Eropa dan Australia.

Disatu pihak, Komunitas Intelijen Jakarta masih terditeksi aktif hingga tahun 2014/2015 memonitor gerakan separatisme di Papua Barat, paling tidak dari dokumen yang diduga bocor berlogo BIN  baik ke tangan PIS maupun BBC (5 Februari 2015).

Dokumen berisikan nama-nama tokoh, akktivis, mahasiswa Papua maupun di luar mahasiswa , tokoh adat dan agama yang gencar menyuarakan “Kemerdekaan Papua” – dan bagaimana car-cara menghadapinya. Berisi selain bio data perorangan, rencana aksi hingga kekuatan dan kelemahan mereka.

Salah satu figur yang masuk dokumen setebal 35 halaman itu adalah Buchtar Tabuni, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB)—sebuah kelompok masyarakat yang berkampanye untuk kemerdekaan Papua dan Papua Barat.

Buchtar disebut aktif menyuarakan pelanggaran HAM di Papua, mendukung pendirian International Parliamentarians for West Papua, dan terlibat kerusuhan di LP Abepura. Kekuatan Buchtar mampu mengerahkan massa untuk melaksanakan aksi anarkis dan pandai berorasi dengan bahasa daerah. Kelemahannya, menurut dokumen itu: perempuan dan minuman keras.

Namun setelah kejadian “Insiden Tolikara” dengan bendera Bintang Daudnya, terlihat komunitas intelijen tidak fokus lagi ke masalah Papua. Bahkan sejumlah tokoh yang bermasalah diundang ke Jakarta.

Tampaknya ada perubahan kebijakkan cukup drastis di Jakarta, setelah 2015.

Dari sana radar intelijen kita fokusnya ketempat lain, yaitu ‘radikalisme’, ‘terorisme’  dikalangan Islam yang dianggap “berbahaya”

Agak berbeda dengan BAIS dikalangan TNI, mereka lebih komprehensif melihat potensi ancaman NKRI, selain masalah geopolitik, ekonomi , Laut China Selatan, hingga NEW C (Neo Communism) yang dibungkus Liberalisme dan Kapitalisme. Beberapa kali Menhan “memberi peringatan” kepada warga Indonesia yang kerap menggunakan logo “red star” di topi dan simbol-simbol  New C.

Demikian juga Densus 88 dipersimpangan jalan.

Tahun 2012 Sidney Jones, dari Stanford University (Lecturer, International Policy Studies Program) telah mengingatkan via ABCnews kepada Jakarta, bahwa “Detachment 88” (Densus 88) jelas dibentuk untuk menghadapi ‘terorisme’ yang terbagi menjadi dua kelompok besar, katanya.

loading...

Pertama adalah kelompok ‘radikal Islam’ dan kedua adalah kelompok yang disebut “ethno-nationalist’ atau separatisme misalnya seperti GAM (Aceh) yang melakukan pemboman di  Jakarta tahin 2000 (BEJ), OPM yang kerap membunuh warga sipil , menyandera orang termasuk pegawai kulit putih, migrant dan pos militer. Namun, kelompok kedua ini cenderung diabaikan oleh Densus 88, menurut Sydney.

“We now have the ironic situation of Papuan independence activists alleging that Detachment 88 is out to destroy them, while Islamist activists are accusing it of ignoring Papua at their expense” kata Sydney, 5 Desember 2012 via ABC.

Dan diketahui kini, Densus 88 tidak untuk menghadapi aktivis makar yang ingin merdeka di Papua, tetapi khusus “muslim” dan bukan “ethno-nationalist” sebagaimana yang disebut Sydney.

Makin rumit, hasil pemetaan intelijen yang di laporkan oleh Tempo berdasarkan ‘investigative report” tahun 2016 oleh jurnalis wanita Maria (Tempo, 8 Januari 2016). “ Jangan terkecoh. Tentara OPM terbagi 3 kelompok: Tentara OPM MURNI, Binaan dan Pesanan”.

Dalam komunitas intelijen, diantara mereka ada yang binaan dan ada yang pesanan – polanya serupa denga pola “war on terror” di dunia. Ada yang murni perjuangan, namun ada juga yang”binaan” intelijen dan ada “pesanan” dengan imbalan tertentu.

Struktur organisasi TPN-OPM terbaik , kata Fritz informan Tempo, dilakukan oleh panglima TPN-OPM wilayah pantai sampai dengan pegunungan, Richard Yoweni. “Wilayah Richard lebih luas dari Goliath yang hanya di pegunungan, dari Jayapura, kota-kota di pantai-pantai hingga pegunungan, ” ujarnya.

Nah, ada satu lagi TPN-OPM binaan aparat keamanan. Mereka tidak lagi bergerilya di hutan. Mereka kelompok kepentingan yang digunakan untuk melakukan pengkondisian untuk kepentingan politik tertentu, suksesi kepala daerah, dan untuk kepentingan aparat keamanan.

Artinya, sebagian aktivitas yang dinamakan OPM atau KKB dikendalikan dari Jakarta, versi TEMPO 2016.

Bisa dipahami, itu sebabnya ‘terlihat ada pembiaran” dari Jakarta, ketika ada deklarasi Papua Merdeka di Universitas Cendrawasih Papua.

Proklamasi NFRPB ini digelar di area Kampus Universitas Cenderawasih Abepura Jayapura, Ibukota Provinsi Papua, bulan Juli lalu dengan penggeraknya Yoab Stafle beserta 50 pendukungnya. Sangat mudah !

Terlihat juga seperti ada “pembiaran” ketika bendera Daud berkibar disana dengan bebas, terlihat ada “perbedaan” ketika 300 orang Mahasiswa Papua berteriak “Papua Merdeka” di Surabaya di lepas kembali tanpa proses hukum lanjutan, tuntutan MAKAR. Berbeda misalnya kalau yang berteriak itu ormas Islam, Ustadz atau aktivis yang berseberangan dengan Jakarta. Berkata ‘idiot” saja sudah tersangka.

Kini Tentara Papua Barat memiliki senjata standard NATO dari Perancis dan Belgia, ada indikasi sebagian dipasok dari Papua Nugini dan dukungan Vanuatu sebagian dari pasar gelap. Mereka juga memiliki Badan Intelijen (PIS) yang terhubung dengan lokasi Jakarta, aktivis di Eropa, Australia, Vanuatu dan Papua Nugini.

Dalam perspektif Geopolitik, kaca mata CIA, NSA dan Canberra – Vanuatu dan Papua Nugini yang aktif mendukung Papua Merdeka hingga ke wilayah PBB adalah “wilayah” zona perang (covert wars), karena indikasi ada keterlibatan China untuk mendirikan Pangkalan Militer di Vanuatu dan ekspansi kependudukan (The New York Times, Diplomat). Washington  gerah.

Kini DPR akan memanggil BIN, POLRI dan TNI untuk meminta keterangan.

“Pasti (DPR) akan memanggil BIN, TNI, Polri,” ujar Wakil Ketua Komisi I Satya Yudha kepada wartawan, Selasa (Detik, 4/12/2018).

Satya menilai Pemerintah ‘KECOLONGAN’ dalam kasus ini. “Jujur, kita kecolongan,” katanya, Selasa lalu (Detiknews).

Ada hikmahnya.

Kini kita tahu persis ada masalah dikomunitas intelijen dan Keamanan Nasional yang selama ini terabaikan baik oleh para politisi, ormas maupun Jakarta. Makar dan gerakan “ethno-nationalist” yang ekstrem dan TEROR cenderung diabaikan, mungkin karena tidak “seksi”.

Semoga kedepannya ada solusi lebih baik.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: