Titik Lemah Jokowi

Titik Lemah Jokowi
Foto : Presiden Joko Widodo

Oleh : Mochammad Sa’dun Masyhur

Jayakartapos,  Dalam dua bulan terakhir elektabilitas Jokowi cenderung terus menurun, setidaknya tidak terlihat pergerakan yang berarti. Tanda-tanda itu jelas terekam pada banyak titik lemah Jokowi.

Cawapres Ma’ruf Amin adalah titik teremah bagi Jokowi untuk meraih kemenangan. Sebagai Kyai sepuh, yang pada pemilu 2019 nanti berusia 76 tahun, kondisi fisik menjadi salah satu alasan. Berita kaki terkilir yang viral, misalnya, telah menjadi perbincangan umum. Kebanyakan orang bilang, dholim memberikan beban yang lebih berat pada orang tua yang sudah uzur. Dengan beban berat dan tantangan masa depan bangsa yang kompleks, masalah ini akan menjadi pertimbangan penting bagi rakyat, untuk tidak memilih Jokowi.

Perjalanan dua bulan kampanye Cawapres Ma’ruf Amin,  yang cenderung  konservatif, jika tidak boleh disebut tertinggal, sudah menjadi fakta bahwa untuk mengatrol prestasinya,  sangat sulit dilakukan. Wajar jika Luhut BP menyentil,  dan ketua Tim Erick Tihir menyalahkannya. Karena itu keberadaan Cawapres Ma’ruf Amin,  sebenarnya lebih buruk diibaratkan timun bungkuk, sekarang sudah menjadi semacam timun layu.  Dalam waktu singkat akan jadi timun busuk yang menular pada timun yang lain di dalam karung.

Sementara di sebelah, Sandi tampak lincah memainkan isu-isu penting. Sandi juga menjadi daya tarik kaum millenial dan emak-emak,  yang tidak dimiliki oleh KH.  Ma’ruf Amin.

Secara umum pengelolaan perekonomian nasional tampak amburadul. Utang Pemerintah dan BUMN yang melonjak tinggi, menjadi ancaman serius dalam jangka menengah. Defisit neraca perdagangan juga sangat serius, karena impor bahan-bahan yang bisa diproduksi di dalam negeri justeru dilakukan gila-gilaan.

Sementara semua sisi pemasukan pajak digencet habis. Beban rakyat makin berat dengan kenaikan TDL listrik, BBM, Tol,  dll,  demi meningkatkan pendapatan negara. Sementara hasil pembangunan tidak dirasakan pengaruhnya bagi kebanyakan orang. Rakyat tentu akan memilih alternatif lain,  pengelolaan ekonomi yang ditawarkan Prabowo Sandi,  yang lebih menjanjikan.

Jokowi juga sangat minim prestasinya. Tidak hanya Jokowi, bahkan para menterinya juga tidak mampu menunjukkan prestasi-prestasinya. Rakyat tidak mengerti dan tidak merasakan hasil-hasil kinerja kementerian yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat.

loading...

Terlebih tidak ada program baru yang dapat dibanggakan. Program-program unggulan semacam bagi-bagi sertifikat, PKH, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Iindonesia Sehat dan sejenisnya,  tidak lain adalah program yang juga dilakukan pemerintah masa lalu. Sudah barang tentu siapakah Presiden nya, pasti Program-program itu tetap ada,  bahkan bisa bertambah lebih besar.

Komunikasi politik Jokowi juga amat buruk dan melemahkan elektabilitasnya. Pemilihan diksi genderuwo, sontoloyo, tabok, dalam kancah politik nasional menunjukan bahwa Jokowi bukanlah politisi Jawa yang santun. Begitu juga di fora Internasional Jokowi tampak gagap dan terbata-bata berbahasa asing. Sering tampak bahwa Jokowi tidak menguasai masalah yang sederhana sekalipun. Bahkan untuk sekedar nyanyi gambus saja, selain fals juga salah lirik. Ingatkan, _Jainudin najiro_. He he he…

Komunikasi yang dilakukan Jokowi selama masa kampanye ini, tidak mampu meyakinkan pemilih,  tetapi malah mengurus popularitasnya.

Sementara lingkungan sekitarnya tampaknya setengah hati menjalankan peran mediator yang cakap kepada publik.

Blow Up berita yang berlebihan, diulang-ulang namun minim  hal-hal  subtansial, remeh-temeh dan tidak berbobot, membuat rakyat jenglah dan semakin jengkel. Rakyat semakin cerdas bahwa media menstream telah bertindak sangat pongah,  partisan,  tidak jujur, menyembunyikan fakta, dan membela mati-matian Jokowi,.

Tidak diliputnya Reuni 212, oleh sebagian besar pers nasional telah membuka tabir busuk. Semua itu pada akhirnya akan menjadi senjata makan tuan.

Ditambah lagi dengan survei abal-abal yang dilakukan Denny JA,  dan komentarnya yang sangat partisan,  telah menjadi bumerang bagi Jokowi.

Keberadaan partai pendukung tidak banyak menolong. Setidaknya hingga hari ini belum ada partai yang bergerak memobilisasi di tingkat grassrote. Bahkan atribut-atribut partai tidak secara jelas mendukung Jokowi.

Beberapa partai pendukung justeru menjadi beban bagi Jokowi. PSI adalah salah satunya, yang oleh politisi golkar dianggap sebagai energi negatif. Sementara Nasdem,  yang diperkirakan tidak lolos PT, hanya mendominasi papan reklame di kota-kota besar.

Titik lemah Jokowi diatas tampaknya akan sangat sulit diatasi dan akan membuat Jokowi kalah. Malah ada yang memperkirakan kalah telak.

Penulis adalah Alumnus Megister Perencanaan dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia,  tinggal di Bogor.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: