Mengenang Kembali Berlin Sebagai Pusat Perjuangan Melawan Orba (I)

Mengenang Kembali Berlin Sebagai Pusat Perjuangan Melawan Orba (I)
Oleh : Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis yang menjadi Ketua Umum Pengurus Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI
Jayakartapos,   Tidak banyak yang tau bahwa Kota Berlin Jerman itu dahulu sebagai pusat perjuangan orang-orang Indonesia yang sangat militan di Eropa ketika melawan rezim Orba Soeharto. Di Berlin itu dulu bahkan mungkin sampai sekarang, berhimpun banyak orang-orang Indonesia dari berbagai latar belakang ideologinya, mulai dari yang Kanan ekstrim hingga Kiri ekstrim ada semua di Berlin. Yang menarik ketika saya masih tinggal di Berlin, antara tahun 1991-1995 semua kelompok itu melawan rezim Orba Soeharto, kecuali dari pihak Konsulat Jenderal RI (KJRI) Berlin yang masih memihak Soeharto. Dan yang lebih menariknya lagi, semua kelompok yang melawan rezim Soeharto saat itu hampir tidak ada yang akur. Selalu bertikai jika sudah masuk ke urusan ideologi atau pandangan politik dan agamanya masing-masing, khususnya antara Islam dan Komunisme, Fundamentalis vs. Moderatisme dan Liberalisme dlsb., namun bukan Berliner namanya kalau mereka berdebat tidak pada hal-hal yang substansial. Menarik sekali.
Diantara teman-teman Indonesia disana, mungkin saya waktu itu termasuk yang lebih banyak pengalaman mengenai intraksi antar kelompok di Berlin itu, sebab ketika saya tinggal di Berlin saya tidak hanya pernah menjadi pengurus Perhimpunan Pelajar Muslim Eropa (PPME) yang waktu itu tergolong ekstrim Kanan, melainkan juga pernah menjadi pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang waktu itu tergolong moderat, juga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang anggotanya sangat plural, heterogen dan mayoritas Nasionalis, serta saya juga aktif berkomunikasi dengan orang-orang Marxian atau juga para mantan PKI yang berpuluh tahun tidak pernah pulang kembali ke Indonesia sebelum dan sesudah konflik G.30 S/PKI 1965.
Saat pertama kali saya datang di Berlin tahun 1991 saya tergolong muslim ekstrim. Tak ada apapun yang saya dambakan kecuali perang dan mati syahid. Saya aktif mengikuti pertemuan dengan para mujahid dari dan asli Timur Tengah, tetapi setiap saya mau makan di MENSA (Kantin Mahasiswa) saya selalu bertemu juga dengan orang-orang Indonesia dari berbagai lintas etnis dan agama. Saya selalu menyempatkan diri bertegur sapa dengan mereka dan berdiskusi panjang lebar mengenai situasi sosial dan politik di Tanah air. Dari sanalah kemudian saya menjadi sadar, bahwa ada tanggung jawab moral yang harus lebih diutamakan, yakni membereskan keadaan Indonesia daripada Timur Tengah.
Dari hasil diskusi intensif dengan banyak teman-teman Indonesia di Berlin akhirnya saya berhasil membuat Peta Politik Indonesia di Berlin. Mulailah kemudian saya coba datangi satu persatu para senior di Berlin dari berbagai lintas ideologi dan mencoba mempertemukannya untuk membuat suatu kesepakatan, kita harus kompak melawan rezim Soeharto !. Usaha tsb. lumayan membuahkan hasil, mereka kemudian seperti kompak melawan rezim Soeharto, hanya saja dalam peristiwa Berlin 1995, situasi berubah lagi. Satu pihak (ekstrim kanan) mulai menyebrang mendukung Soeharto dengan bergabungnya mereka dengan Konsulat Jenderal RI (KJRI) Berlin, hingga sejak saat itu saya berucap: Selamat tinggal ekstrim kanan !
ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: