Mengenang Kembali Berlin Sebagai Pusat Perjuangan Melawan Orba (II)

Mengenang Kembali Berlin Sebagai Pusat Perjuangan Melawan Orba (II)
Oleh : Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan Penulis yang menjadi Ketua Umum Pengurus Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI
Jayakartapos,  Baru tamat dari Pesantren Tebuireng Jombang terus ke Berlin dan berkawan dengan orang-orang Indonesia yang lama tinggal di Berlin dengan berbagai macam karakter, agama dan ideologinya bagi saya waktu itu sangatlah menarik sekali. Di pesantren kami biasa memahami dan hidup beragama dengan lebih rileks, toleran serta terbiasa menyikapi perbedaan pandangan keagamaan dengan penuh pengertian, namun di Berlin saya tiba-tiba bertemu dengan orang-orang fundamentalis yang sangat kaku dalam beragama. Tak hanya itu, saya juga bertemu dan berkawan dengan orang-orang liberal, juga bertemu dan berkawan dengan orang-orang yang tidak beragama, semuanya bagi saya merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga, terlebih ketika saya mengerti masing-masing mempunyai argumentasinya sendiri-sendiri yang tidak mudah untuk dibantah. Akan tetapi lulus dari Pondok Pesantren Tebuireng bagi saya merupakan modal dasar yang sangat berharga untuk dapat menyikapi berbagai macam pemikiran atau ideologi yang beraneka rupa seperti di Berlin pada waktu itu.
Kadang saya berkumpul di Masjid dan berdiskusi membahas bahaya pemikiran liberal atau atheis, kadang saya berkumpul di komunitas Marxian dan berdiskusi membahas bahaya pemikiran radikalisme Islam, kadang saya berkumpul di Gereja dengan berbagai komunitas pengikut agama dan membahas tentang Indonesia, semuanya bertentangan satu sama lain namun yang jelas semua orang Indonesia di Berlin waktu itu anti rezim Orde Baru (ORBA), ini fakta yang tidak bisa dibantah. Kalau di Masjid kita marah pada Soeharto karena rezim Soeharto membantai banyak umat Islam di Tanjung Priok, di Lampung dll. Kalau di komunitas Marxian dan Liberal kita semua marah pada rezim Soeharto, karena rezim Soeharto membantai banyak rakyat di Waduk Kedung Omboh, di Waduk Nipah Madura dll. Kalau di Gereja kita marah pada rezim Soeharto karena rezim Soeharto tidak pernah adil terhadap rakyatnya, dan gemar mengadu domba antar umat beragama.
Sekarang bagaimana dengan orang-orang mantan PKI di Berlin? Orang-orang mantan PKI di Berlin waktu itu tidak ada yang kompak, seringkali ribut satu sama lain, genk-genkan, tapi setau saya mereka itu orang-orang yang sangat serius memikirkan Indonesia. Ada dari mereka yang kaya tapi mayoritas hidup mereka sangat sengsara hingga mengundang rasa kasihan dari diri saya. Mereka sudah tua-tua dan anak-anak mereka banyak yang sama sekali tidak tau menau tentang sejarah PKI di Indonesia, karena mereka lahir dan dibesarkan di negeri Jerman yang sudah mempunyai teman-teman hidup sendiri dari berbagai bangsa khususnya bangsa Jerman sendiri. Jadi sangatlah mustahil jika dikatakan bahaya PKI masih mengintai negeri ini. Bahaya dari sisi mananya?
Hampir tiap minggu ketika tinggal di Berlin saya selain bertemu dengan teman-teman yang termasuk golongan fundamentalis Islam, dengan para kaum liberal, nasionalis dlsb. saya juga bertemu dengan orang-orang mantan PKI. Saya selalu menghibur orang-orang mantan PKI yang sudah tua-tua itu dan bercanda ria dengan mereka. Kadang saya candai mereka,”Kalau kalian ingin menang revolusi ya kalian harus mulai belajar sholat, belajar ngaji al-Qur’an dll.”. Dan taukah kalian apa reaksi mereka? Tertawa, dan senang melihat sikap-sikap saya yang alumnus Pondok Pesantren tapi masih mau bergaul dengan mereka. Saya tidak pernah melawan apa yang mereka cita-citakan, tetapi saya cukup menunjukkan pada mereka mutiara-mutiara pemikiran Islam dari para intelektual Muslim yang saya kagumi. Dari sanalah mereka mulai mengerti, bahwa Islam itu agama damai, mencintai kebenaran dan keadilan, serta sangat menghormati nilai-nilai universal kemanusiaan. Islam itu Rahmatan lil Alamin…Berdakwah tidak harus mangap-mangap, mencak-mencak dan mlotot sambil teriak-teriak memekikkan nama Tuhan bukan? Sebab Tuhan itu milik semua umat manusia dan Ia selalu memunculkan kebenaran dalam jiwa siapapun yang dikehendaki-Nya…Wallahu a’lamu bissawab…(SHE).
loading...
ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: