Melucuti Kekuatan Prabowo, Sukseskah?

Melucuti Kekuatan Prabowo, Sukseskah?
en.wikipedia.org

Oleh : Daniel Sulaiman

Jayakartapos,  5 orang yang terlibat dalam pendirian Partai Amanat Nasional (PAN) melayangkan surat terbuka untuk Amien Rais. Kelima orang itu ialah Abdillah Toha, kini penasihat Wakil Presiden; advokat senior Albert Hasibuan, sastrawan dan jurnalis senior Goenawan Mohamad, penyair dan tokoh budaya Toety Heraty, dan Zumrotin (https://bit.ly/2Cz7UuU)

Saran itu disampaikan melalui surat terbuka tertanggal 26 Desember 2018. Goenawan Mohamad membenarkan surat tersebut ditulis dan ditandatangani kelima pendiri dan penggagas PAN tersebut. “Iya benar. Yang menulis Pak Abdillah Toha. Kami semua menandatangani,” ujar Goenawan saat dimintai konfirmasi, Rabu (26/12/2018). Dalam surat yang diterima detikcom itu, kelima pendiri PAN tersebut mengatakan surat dibuat setelah memerhatikan perkembangan kehidupan politik di Indonesia. Khususnya, kiprah Amien Rais bersama PAN ataupun secara personal. “Untuk itu, barangkali sudah saatnya Saudara (Amien Rais) mengundurkan diri dari kiprah politik praktis sehari-hari, menyerahkan PAN sepenuhnya ke tangan generasi penerus, dan menempatkan diri Saudara sebagai penjaga moral dan keadaban bangsa serta memberikan arah jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemajuan negeri kita,” demikian tulis surat terbuka tersebut (https://news.detik.com/berita/4358820/ini-surat-terbuka-pendiri-pan-desak-amien-rais-mundur).

Sementara itu, pegiat Medsos Eko Kuntadhi membuat sebuah tulisan yang menohok sekali terkait Neno Warisman gunakan kata Jihad untuk kumpulkan sumbangan buat Capres Prabowo-Sandi, Gak Usah bawa-bawa Jihad segala, minta sumbangan gitu aja, tutur Eko. Dalam tulisannya Eko menyebutkan bahwa Neno Warisman menyerukan kepada jemaah yang mendengarkan ocehannya untuk berjihad. Caranya, masing-masing orang diminta menyumbang kampanye Prabowo-Sandi sebesar Rp 5 juta. Sumbangan itu, kata Neno sebagai bentuk jihad. Sebetulnya mau meminta sumbangan, ya meminta sumbangan saja. Gak usah bawa-bawa jihad segala. Bagi saya mulut Neno itu menyebalkan. Seolah membela Capres yang gak bisa ngaji dan gak tahu apa agamanya adalah bagian dari perjuangan agama. Ini namanya pembodohan. Majalah Forbes mengeluarkan data orang terkaya Indonesia. Adik Prabowo, Hasyim Joyohadikusumo, masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Hasyim aktif diorganisasi keagamaan Kristen dan juga petinggi Gerindra. Menurut majalah Forbes kekayaan Hasyim sejumlah US$ 850 juta atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 12 triliun (sumber: www.EkoKuntadhi.id).

Informasi keren lainnya dalam rangka “melucuti” kekuatan pendukung Prabowo Subianto adalah berita yang beredar soal beralihnya dukungan sikap UAS dalam Pilpres 2019. Sikap Ustad Abdul Somad (UAS) menyusul Tuan Guru Bajang(TGB) untuk mendukung Jokowi melanjutkan jabatan sebagai presiden RI karena kinerjanya yang sangat baik. Kinerja dan teladan serta bisa menjadi imam Sholat merupakan ukuran pemimpin yang didambakan UAS, hal itu membuat ustad asal Riau ini sependapat dengan TGB ikut dukung Jokowi 2 periode. UAS memberikan pernyataan mengejutkan ketika bertemu Gubernur Nusa Tengara Barat, TGB, dia mengumumkan bahwa dirinya memberikan dukungan kepada Jokowi untuk menjadi Presiden dua periode. “Hari ini saya sampaikan kepada masyarakat Indonesia, saya beralih dan mendukung bapak Joko Widodo menjadi Presiden 2 periode. Dukungan saya ini bersifat personal, saya mendukung karena saya melihat kinerja bapak Jokowi selama ini menjabat Presiden itu sangat baik,”ucap UAS. Sikap UAS ini tentu menjadi preseden baik bagi umat, dan melihat kebenaran dalam pemilihan Presiden bahwa yang telah bekerja untuk Indonesia telah membuktikan bukan Capres yang belum pernah memimpin namun hanya wacana (https://wartakota.co/kinerja-jokowi-bikin-uas-jatuhkan-pilihannya/)

 

Menurut penulis, himbauan 5 orang tokoh pendiri Partai Amanat Nasional agar Amien Rais mundur sebagai Dewan Penasehat PAN tampaknya kurang mendapat respons diinternal PAN itu sendiri, sebab mereka kemungkinan berpendapat bahwa kelima orang yang pernah mendirikan PAN tersebut (dan mungkin sekarang sudah tidak aktif mengurusi PAN) dianggap oleh internal PAN sebagai bentuk intervensi politik agar PAN “bercerai atau tidak mendukung” Prabowo-Sandiaga Uno dalam Pemilu 2019.  Kader dan basis massa PAN memang memiliki penilaian tersendiri yang independen dalam Pemilu 2019, dan sebenarnya baik kubu Jokowi-KH. Ma’ruf Amin ataupun Prabowo-Sandiaga Uno dihadapkan pada permasalahan yang sama yaitu sikap Parpol pengusungnya (kecuali PDIP dan Gerindra) dirasakan “kurang serius” melakoni laga Pilpres, karena masing-masing Parpol akan berusaha “eksis” dari ancaman parliamentary threshold 4%, sehingga mereka serius membicarakan strategi memenangkan Caleg atau Parpolnya di Pileg 2019 dibandingkan memenangkan Jokowi ataupun Prabowo karena dinilai akan menguntungkan PDIP atau Gerindra saja. Bahkan, jika keinginan atau surat terbuka 5 orang pendiri PAN ini tidak berefek politik apapun, justru akan menunjukkan bahwa “pamor mereka” sudah kurang eksis atau tidak didengar lagi oleh konstituen PAN.

Sementara itu, tulisan pegiat Medsos yang mengaitkan “jihad” dan ajakan menyumbang buat Prabowo-Sandiaga Uno jelas menggunakan diksi-diksi yang malah merugikan bahkan menurunkan elektabilitas Jokowi-KH. Ma’ruf Amin, sebab bisa jadi umat non Muslim yang tadinya mungkin masih ragu-ragu untuk membela 08 (julukan Prabowo semasa aktif di militer) dalam Pilpres 2019, menjadi semakin tidak ragu-ragu karena tulisan-tulisan Medsos yang mempermasalahkan “agama Prabowo”. Jelas propaganda semacam ini akan dinilai kurang cerdas dan berpotensi merusak tenun kebangsaan di Indonesia. Penulis di Medsos baik yang pro Jokowi atau Prabowo, sebaiknya perlu bijaksana dalam memilih diksi dan mengungkapkan alasan tanpa berpotensi menyinggung perasaan saudaranya yang berbeda agama ataupun berbeda unsur SARA-nya. Pemilu 2019 terutama Pilpres 2019 memang berpotensi menciptakan segregrasi sosial yang tanda-tandanya sudah menganga didepan mata kita.

Sedangkan, berita adanya beralihnya dukungan UAS kepada Jokowi memang berita bagus bagi Jokowi, namun sebenarnya kalau dirunut dalam berbagai pemberitaan UAS tidak pernah secara terbuka mendukung Prabowo, sehingga bisa jadi UAS “tergalang” oleh TGB Zainul Majdi. Tidak hanya itu saja, jika UAS bersedia mematuhi hasil ijtima ulama, maka publik juga tahu bahwa UAS berpotensi waktu itu menjadi Cawapresnya Prabowo Subianto, karena dikabarkan UAS tidak mau, maka Prabowo memilih Sandiaga Uno. Namun, apapun pilihan politik UAS, sebaiknya tidak dikemukakan secara terbuka kepada media massa, karena tokoh agama semacam beliau haruslah bersikap netral dalam membangun literasi kebangsaan, walaupun saat mencoblos beliau dapat merealisasikan dukungannya. Kita akan melihat efeknya pada 17 April 2019.

 

*) Penulis adalah pemerhati medsos.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish
%d bloggers like this: