Toleransi Islam Tidak Dibatasi Ucapan Selamat Natal

Toleransi Islam Tidak Dibatasi Ucapan Selamat Natal

Jayakartapos,  Setiap tanggal 25 Desember, umat Islam, khususnya di Indonesia, selalu mengangkat kembali diskursus mengucapkan Selamat Natal. Berbeda di Armenia pada 06 Januari, atau Ortodoks Timur seperti Mesir, dimana Natal dirayakan pada 07 Januari.

Al-Qur’ān sebagai sumber dari segala sumber ilmu, memang tidak akan memuat semua detail hal-hal teknis yang akan terus bervariasi jenisnya dalam roda zaman yang terus berputar, termasuk tentang hukum mengucapkan selamat Natal. Namun, Al-Qur’ān telah menghidangkan prinsip-prinsip yang lengkap agar dijadikan panduan berpikir oleh siapapun yang ingin menjadikannya sebagai referensi menjalani kehidupan yang fana dan sebentar ini.

Toleransi adalah satu di antara sekian kewajiban yang harus ditunaikan oleh para pengamal Al-Qur’ān di atas dunia. Siapapun yang beriman kepada keseluruhan 6236 ayat Al-Qur’an pasti akan menjadi sosok yang toleran, yakni sebagaimana KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sosok yang sangat menenggang perbedaan dalam konteks seperti keragaman agama. Bahkan, kualitas toleransinya tetap tinggi meski menempuh roda zaman yang terus berputar.

Intoleransi dengan demikian menjadi sukar ditemukan di kalangan umat Islam yang totalitas dalam ber-Islam, laksana mencari jarum dalam jerami. Sejarah panjang kepemimpinan Islam sejak abad ke-7 M, selalu menjadi energi bagi kepemimpinan berikutnya, untuk mencatatkan kepada umat berikutnya, bagaimana kesiapan umat Islam untuk hidup berdampingan bersama mereka yang berbeda agama, bahkan sejak di masa Negara Islam pertama yang berpusat di Madinah Al-Munawwarah yang diikat dengan Piagam Madinah — sebuah kesepakatan berbagai elemen untuk hidup berbangsa dan bernegara.

Di antara perintah toleransi yang wajib ditegakkan oleh para pengamal Al-Qur’ān kapan pun dan dimana pun, tanpa terikat dengan ruang dan waktu tertentu adalah menjaga rumah ibadah agama lain, berlaku adil, pemberian amanah pada profesional, memaafkan manusia, tidak bermusuhan, berkata lemah lembut, tidak membunuh dan berzina, bermuamalah dengan profesional, berbakti kepada orang tua yang masih Non-Muslim, tolong-menolong dalam konteks apapun baik dalam hidup bertetangga hingga berbangsa, dan perintah berbuat lain dalam dimensi yang luas, yang wajib ditegakkan. Menjauhkan manusia dari kitab sucinya justru akan menumbuh suburkan intoleransi dalam jiwa manusia.

Seluruh perintah toleransi di atas wajib dihadirkan 24×7 jam kehidupan seorang Muslim, sehingga terlahir kedamaian, kasih, dan ketenangan di kalangan minoritas Non-muslim yang hidup di tengah-tengah masyarakat Muslim. Spanyol, Hungaria, Syam, Irak, India, China, hanya sedikit di antara bagian dari sejarah peradaban yang dapat menceritakan ulang dirinya secara jujur kapan pun dibutuhkan para pencari kebenaran, bagaimana toleransi kepemimpinan Muslim menjadi spirit dan raw model dunia. Di antara teladan yang dapat diambil seperti kepemimpinan sahabat ‘Umar r.a. pada Kota Nashrani Iliya, sebagaimana dalam Tarikh At-Thabary, Juz 3, halaman 609:

هَذَا مَا أَعْطَى عَبْدُ اللهِ عُمَرُ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَهْلَ إِيْلِيَاءَ مِنَ الْأَمَانِ: أَعْطَاهُمْ أَمَانًا لِأَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَكَنَائِسِهِمْ وَصَلْبَانِهِمْ وَسَائِرِ مِلَّتِهَا، لَا تُسْكَنُ كَنَائِسُهُمْ، وَلَا تُهْدَمُ.

_Ini merupakan pemberian hamba Allah, Umar, pemimpin kaum Mukminin kepada penduduk Iliya’ berupa jaminan keamanan: Beliau memberikan jaminan keamanan kepada mereka atas jiwa, harta, gereja, salib, dan juga agama-agama lain di sana. Gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dihancurkan._

Hukum ucapan Selamat Natal 25 Desember secara spesifik tentu tidak ada dalam Al-Qur’ān, karena masuk dalam diskursus baru sebagaimana penetapan tanggal itu juga peristiwa yang baru bagi umat Kristiani, bahkan terma natal pun tidak ditemukan dalam kitab suci terjemahan. Setiap Muslim yang baik, mau tidak mau, akan selalu mengembalikan pada prinsip-prinsip kunci nan penting dalam Al-Qur’an untuk menganalisa diskursus persoalan baru ini, dan tentunya menjadi sebuah kewajiban untuk merujuk kepada pendapat para ulama, diawali dengan merujuk 3 (tiga) periode awal keulamaan (salaf ash-shalih), di dalam memahami isi Al-Qur’ān.

Seluruh Madzhab Fiqh, mayoritas umat Islam, dalam rentang sejarah peradaban, tidak menganjurkan untuk mengucapkan Selamat Natal, termasuk Ketua MUI Bidang Fatwa, KH. Ma’ruf Amin, pada hari Rabu, 19 Desember 2012: “…. sebaiknya enggak usah sajalah (ucapkan selamat Natal).”[1] Penjagaan ulama seperti ini dilakukan dikarenakan kekhawatiran umat yang besar ini terjatuh pada spekulasi filosofis yang bertentangan dengan nilai keilmiahan ajaran Islam, hingga nilai paling suci yang menjadi aset paling mahal setiap Muslim, yakni Aqīdah. Namun begitu, Non-Muslim di dunia Islam, tidak pernah merasa sakit hati, bahkan selalu merasakan kedamaian hidup di tengah kaum muslimin, bahkan merindukannya, dikarenakan ada hal yang lebih esensi yang mereka dapatkan dan nikmati dari kebijakan politik pemerintahan Islam, yaitu keadilan di mata hukum, sebagaimana perintah Kitab Suci.

Terdapat minimal *5 (lima)* spekulasi filosofis dimaksud, yang menjadi pertimbangan kaum muslimin untuk fokus pada esensi menunaikan bab toleransi dalam keragaman daripada sekedar kalimat basa basi setahun sekali. Esensi keindahan Islam tentunya lebih dibutuhkan Non-Muslim di negeri mayoritas Muslim, karena ia berlaku sehari-hari, bukan setahun sekali.

*Pertama* dan yang utama adalah penetapan tanggal 25 Desember yang erat kaitannya dengan penerimaan tradisi perayaan Barat atas Dewa Matahari atau sering disebut Solar Invicti (Surya yang tak terkalahkan), dan memasukkan ajaran bahwa Surya itu adalah Nabi Isa a.s.. Di tempat lain, penetapan tanggal ini merujuk Peringatan Saturnalia terkait Dewi Pertanian Saturnus pada titik balik musim dingin (winter solstice) dalam Kalender Julian.

Melihat sejarah di atas, penetapan tanggal ini lebih bermuatan agenda dakwah Nashrāni tentang bagaimana agama mereka bisa diterima tanpa meninggalkan tradisi dewa-dewi lama di Barat. Kaisar Konstantin I, Paus Julius I, akhirnya meresmikan tanggal ini pada 350 M, sementara riwayat lain, penetapan 25 Desember dimulai tahun 221 M oleh Sextus Julius Africanus (160-240 M). Sosok terakhir ini masih diperdebatkan, apakah seorang awam atau Filsuf Libya. Sebagian lagi menyebutkan penetapan Desember lebih merujuk pada analisa Johannes Keppler (1571-1630 M) atas peristiwa Bintang Betlehem.

Melihat banyaknya versi yang ada, dapat dimaklumi jika banyak aliran Kristiani yang kemudian tidak menyetujuinya, dan karenanya tidak merayakan Natal, seperti aliran Gereja Yesus Sejati, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, kaum Yahudi Mesianik, dan Saksi-Saksi Yehuwa.

*Kedua,* keyakinan umat Islam bahwa Nabi Isa a.s. dilahirkan saat pohon kurma sedang berbuah lebat di musim panas yang jatuh di antara Juli-Agustus, bukan di musim salju yang jatuh pada bulan Desember. Hal ini juga sejalan dengan pendapat sebagian umat Kristiani yang berpegang teguh pada Lukas 2 ayat 7-8, dimana masa kelahirannya tidak musim bersalju melahirkan padang rumput luas yang dipenuhi gembala:
_Dan ia (Maria) melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam._

Sejalan dengan teori ilmiah di atas, Al-Qur’ān, menegaskan bahwa kurma matang adalah makanan Bunda Maria setelah melahirkan, sebagaimana Surat Maryam [19] ayat 25:
وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
_Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu._

*Ketiga,* keyakinan umat Islam bahwa Nabi Isa a.s. tidaklah mati di tiang salib, melainkan diangkat ruh dan jasadnya ke langit, untuk kemudian akan turun kembali kelak di masa Imam Mahdi.

Allāh berfirman dalam Surat An-Nisa [4] ayat 157:
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
_Dan Kami hukum juga mereka karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam,” yang mereka ejek dengan menamainya Rasul Allah padahal mereka tidak beriman kepadanya. Mereka mengatakan telah membunuhnya, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka orang yang dibunuh itu dengan Nabi Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya, yakni tentang Nabi Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang hal, yakni pembunuhan, itu. Mereka tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan menyangkut hal itu, yakni tentang pembunuhan Nabi Isa, dan apa yang mereka katakan kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin._

*Keempat,* penjagaan para ulama akan aqidah masyarakat muslim awam, nilai-nilai keilmiahan, sehingga kalaupun ada di antara ulama yang mengucapkannya, lebih kepada aspek kepentingan umat yang lebih besar. Mengutip Quraish Shihab, etika basa-basi di kalangan agamawan dan pimpinan politik. Di antara sedikit ulama akhir-akhir ini yang mengucapkannya seperti: Syekh Ali Jum’ah, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh Ishom Talimah, dan Majelis Fatwa Eropa. Umumnya dalil yang digunakan adalah Surat Al-Mumtahanah [60] ayat 8:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
_Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil._

Jika kita perhatikan landasan pemikirannya ada pada kekhususan masa dimana Non-Muslim tidak memerangi kaum muslimin, dan terikat kondisi di wilayah Barat hari ini dimana Muslim adalah minoritas, bahkan dengan sangat ketat syarat pembolehan seperti di Eropa diikuti dengan larangan penggunaan simbol dan juga kalimat yang menegaskan pembenaran agama selain Islam. Ada ruh maslahat juga ada semangat mendakwahkan Islam kepada Non-Muslim, dan dilakukan oleh tokoh-tokoh tertentu dengan segala pertimbangan khusus yang tentu tidak bisa diikuti secara begitu polosnya oleh orang-orang awam.

Oleh karenanya, Imam As-Suyuthi (1445-1505 M) dalam Madzhab Syafi’i memberikan panduan dalam hal ini, dalam karyanya _al-Amru bil-Ittiba’ wa al-Nahyu ‘ani al-Ibtida’,_ halaman 161:
ومن البدع والمنكرات مشابهة الكفار وموافقتهم في أعيادهم ومواسمهم الملعونة كما يفعله كثير من جهلة المسلمين من مشاركة النصارى وموافقتهم فيما يفعلونه في خميس البيض الذي هو اكبر اعياد النصارى (الحافظ جلال الدين السيوطي، الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع ص 141).
_Termasuk diantara bid’ah dan kemunkaran adalah menyerupai orang-orang kafir dan menyetujui mereka dalam selebrasi hari raya mereka dan acara-acara mereka yang dilaknat Allah. Seperti yang latah dikerjakan oleh orang-orang bodoh umat Islam dalam ikut serta dan menyetujui apa yang mereka rayakan._

*Kelima,* keyakinan umat Islam bahwa Nabi Isa a.s. bukanlah Tuhan dan juga bukan anak Tuhan, namun Rasūlullāh, utusan-Nya yang bahkan di antara yang diuji dengan ujian begitu berat _(Ulul ‘Azhmi min ar-Rusul)._ Allāh Maha Suci dari konsep yang bertentangan dengan aqidah Islam.

Allāh berfirman dalam surat An-Nisā [4] ayat 171:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
_Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga,” berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung._

Tentunya, sebagaimana etika dalam beragama, kita tidak akan masuk terlalu dalam ranah internal keyakinan umat agama lain, yang notabene saudara sebangsa dan sedunia. Kita batasi pada garis batasan yang mengiris perbedaan esensial di antara Islam dan Non-Islam saja. Untuk selanjutnya, umat Islam wajib melanjutkan kehidupan beragamanya dengan diantaranya menjaga kualitas toleransi kepada Non-Muslim sebagaimana perintah Al-Qur’ān, dengan penuh kasih, kedamaian jiwa dan semangat kaffah. Fokuslah selalu pada esensi daripada sekedar basa-basi, karena kita hanyalah penuntut ilmu yang ingin menjadi pengamal Al-Qur’ān yang baik. Mari hidup berbangsa dan bernegara yang benar, dan jagalah diri terlalu dalam bermain di ranah spekulasi filosofis, sehingga mengaburkan prinsip-prinsip kunci Ilahiyah.

_Sebagai renungan: Jika di antara aliran Kristen saja tidak bersepakat pada persoalan Natal dan penetapan tanggalnya, dan jika Umat Non-Muslim saja tidak mempersoalkan umat Islam yang tidak mengucapkan, mengapa masih ada di antara umat Islam yang terlalu bersemangat menampilkan dirinya untuk dicintai Non-Muslim. Untuk kepentingan politik?_

Wallāhu a’lam,
Dr. Wido Supraha
(Komisi Ukhuwah MUI Pusat | Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor)

Sumber : https://web.facebook.com/wido.supraha/posts/10215130358065022

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish