Daily: March 20, 2019

Erick Thohir Tidak Percaya Survei. Ada Apa?
By: On:

Erick Thohir Tidak Percaya Survei. Ada Apa?

By : Djadjang Nurjaman.
(Pengamat Media dan Ruang Publik)

Erick Thohir Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf membuat pernyataan yang aneh. Survei tidak penting. Yang lebih penting adalah gerakan massif di daerah.

Apa gak salah niy Pak Erick. Bukannya publikasi survei selama ini menjadi andalan utama Jokowi? Sampai ada julukan Jokowi adalah Presiden Republik Survei Indonesia.

SMRC dan LSI Denny JA baru saja mempublikasikan hasil survei. Denny JA memastikan pilpres sudah selesai. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58,7 persen, Prabowo-Sandi cuma 30,9 persen. Ada selesih 27,8%.

Direktur SMRC Jayadi Hanan mengatakan butuh keajaiban bagi Prabowo-Sandi untuk menang. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 57,6 persen, Prabowo-Sandi 31,8 persen. “Angkanya melampaui 25 persen,” kata Jayadi.

Kalau benar seperti dikatakan SMRC dan LSI Denny JA harusnya tidak perlu lagi gerakan massif di daerah. Untuk apa. Kan sudah menang? Buang-buang tenaga dan uang saja. Lebih baik dananya disiapkan untuk merayakan kemenangan Jokowi.

Pasti ada-apa-apanya hingga Erick menyampaikan pernyataan semacam itu. Usut punya usut Erick tidak salah ucap. Dalam berbagai kesempatan Jokowi menyatakan secara terbuka kepada pendukungnya agar waspada. Elektabilitas mereka sedang turun. Jokowi malah menyebut di Jabar elektabilitasnya turun 8 persen.

Kita tentu lebih percaya Jokowi dibanding lembaga-lembaga survei. Tidak mungkin lah Jokowi melemahkan semangat para pendukungnya sendiri. Tidak mungkin lah dia buka rahasia. Pernyataan Jokowi adalah ekspresi kekhawatiran yang sangat dalam.

Kalau melihat manuver Jokowi maupun tim kampanyenya, tidak menunjukkan perilaku orang yang sudah menang perang. Yang muncul adalah perilaku orang yang putus asa dan kalap.

Kenaikan gaji ASN, TNI, dan Polri diobral. Bansos juga habis-habisan digelontorkan. Warga Jabar sampai basah kuyup karena digelontor Bansos dan CSR dari berbagai BUMN.

Pengerahan ASN dan Polri sangat terasa di lapangan. Ferry Mursidan Baldan Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandi sampai berani menyimpulkan,” yang kami hadapi di lapangan adalah aparat negara,” ujarnya.

Ferry benar. Jokowi dalam sebulan terakhir aktif bertemu kalangan milineal di berbagai kota besar di Indonesia. Kunjungannya difasilitasi oleh Polri melalui program “Milenial Road Safety Festival.” Foto-foto Jokowi tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia sebagai ikon keselamatan berkendara.

Bersamaan dengan itu gerakan Prabowo-Sandi di lapangan banyak dihambat. Di Yogyakarta dan Bandung, Pidato Kebangsaan Prabowo harus berkali-kali pindah gedung. Pemilik gedung ditekan dan tidak berani menyewakan.

Ketika berkunjung ke Banten, Helikopter Prabowo juga dilarang Bupati Pandeglang mendarat di alun-alun milik Pemkab. Prabowo terpaksa memindahkan pendaratan di sebuah lapangan di Serang.

Konser solidaritas Ahmad Dhani di Surabaya tidak diberi izin polisi. Konser itu semula akan dihadiri Sandiaga Uno.

Dalam setiap kunjungan ke berbagai daerah baik Prabowo maupun Sandi disambut lautan manusia. Sebaliknya kampanye yang dihadiri Jokowi, apalagi Ma’ruf Amin sepi. Yang dialami Ma’ruf Amin lebih tragis lagi. Dia batal berkampanye karena hanya beberapa gelintir pendukungnya yang hadir.

Wajar kalau Erick Thohir menganggap hasil survei tidak penting. Itu hanya membuai dan menina-bobokkan mereka. Cara-cara lama menipu publik, tapi sudah tidak laku. Pilihannya sudah benar. Gerakan massif di bawah.

Pertanyaannya siapa yang akan digerakkan di bawah? Untuk hadir kampanye saja, rakyat sudah ogah. Apalagi kampanye, bergerak _door to door._ Tidak ada alasan cukup kuat yang bisa menggerakkan mereka.

Parpol dan para calegnya juga tengah fokus mencari selamat sendiri-sendiri. Kalau sampai Jokowi kalah dan mereka tidak terpilih menjadi anggota legislatif, bakal rugi dua kali.

Jalan satu-satunya bagi Jokowi adalah menggerakan aparat negara. Mulai dari ASN, Polisi, intelijen, dan TNI.

Tapi tunggu dulu. Apa mereka juga mau mempertaruhkan jabatan dan masa depannya untuk Jokowi?

Mereka tidak bisa menutup mata, ada arus besar yang tengah bergerak.
Arus besar perubahan di tengah masyarakat yang menginginkan pergantian kepemimpinan nasional.

Dalam situasi seperti ini kita jadi teringat pada ucapan Presiden George W Bush Jr. _”Either with us OR with Enemy. ?!”

Mau tetap bersama Jokowi, atau bersama rakyat?!

The End

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Nur Gandir Karena Cintanya Tidak Direstui
By: On:

Nur Gandir Karena Cintanya Tidak Direstui

 

JP-Sukabumi, Nur (16) nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, Rabu (20/03) karena jalinan cintanya tidak direstui orang tua.

Pihak keluarga tidak menyangka jika Nur yang tamatan SMP itu bisa berbuat nekat. Peristiwa tersebut membuat geger Kampung Ciawitali RT 01/06, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Nur melakukan gantung diri menggunakan selembar kain batik yang diikatkan di kusen pintu kamarnya. Peristiwa tragis ini pertama kali diketahui oleh temannya, Rina (18) sekira pukul 08.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, sebelum mengakhiri hidupnya Nur sempat datang ke rumah Rina, sekitar pukul 07.30 WIB.

Nur menangis dan menceritakan kepada Rina mengenai hubungannya dengan EP yang tidak direstui orang tuanya. Nur sangat kecewa dengan keluarganya dan sempat mengatakan ingin mati saja apabila putus dengan EP.

Usai menceritakan permasalahannya kepada Rina, Nur lalu pulang ke rumahnya. Diduga Nur yang sedang sendirian di rumahnya langsung melakukan aksi gantung diri dengan mengambil kain batik, kain tersebut diikatkan di ventilasi pintu dan dijeratkan ke lehernya sendiri.

Sebelum gantung diri, Nur sempat berpamitan dengan Rina melalui aplikasi Whatsapp, korban mengatakan ingin pamit pergi ke surga dan menitipkan kepada Rina untuk mengurus adiknya yang masih kecil.

Mendapat pesan tersebut, 30 menit kemudian, Rina pergi ke rumah korban dan menemukan korban yang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana pendek tersebut sudah dalam keadaan tergantung dengan lidah menjulur keluar. Rina pun berteriak sejadi-jadinya sambil menangis dan warga yang mendengar teriakan Rina langsung berdatangan ke TKP.

Saat polisi datang, Nur masih dalam posisi menggantung. Korban segera diturunkan dan dievakuasi. Polisi juga mengamankan BB seperti kain batik, kursi plastik dan HP milik korban serta meminta keterangan beberapa saksi.(Icha)

Bharada Aldy Gugur Dalam Baku Tembak Dengan KKSB
By: On:

Bharada Aldy Gugur Dalam Baku Tembak Dengan KKSB

JP-Nduga, Seorang anggota Brimob yang tergabung dalam satgas Nangkawi gugur dalam baku tembak dengan KKSB, Rabu pagi (20/03). Sekira pukul 07.00 WIT baku tembak terjadi baku tembak di Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, Papua antara Satgas Nangkawi dengan KKSB.

Dalam baku tembak tersebut dua anggota Brimob mengalami luka tembak, yaitu Ipda Arif Rahman, Strk NRP 92.50976, dengan luka tembak di bahu kiri tembus punggung belakang dan Bharada Ravi Fitrah Kurniawan NRP 99100174, dengan luka tembak di pinggang kanan belakang

Sedangkan seorang anggota Brimob yang gugur adalah Bharada Aldy NRP 97040956 dengan luka tembak di ketiak kanan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, bahwa pada pukul 07.00 WIT, 3 regu dari Belukar 91 pimpinan Ipda Arif Rahman, Belukar 53 dan Belukar 54 dalam rangka pengamanan bandara untuk pendaratan heli yang membawa Dansatgas Tindak Kombes Pol Jhon Sitanggang, SIK bersama tim.

Tim Belukar 91/B91 Pimpinan Ipda Arif Rahman menuju gereja, kemudian tim Belukar 91 di tembaki oleh KKSB, Bharada Aldy terkena tembakan, Tim Belukar 91 langsung melakukan tembakan balasan, dan saat itu juga Ipda Arif dan Bharada Ragi terkena tembakan juga.

Selanjutnya tim Belukar 53 dan 54 membantu tim Belukar 91, dan diketahui bahwa penembak runduk (sniper) tim Belukar 54 berhasil menembak pok KKSB dan mengenai 3 orang dari kelompok KKSB.

Setengah jam setelah kontak tembak terjadi, helu yang mengangkut Dansatgas Tindak Kombes Pol Jhon Sitanggang, SIK tiba di Bandara Distrik Mugi, selabjutnya tim Belukar 53 dan Belukar 91 membantu evakuasi korban ke helikopter Polri.

Sekira pukul 09.10 WIT, Helikopter tiba di bandara Penerbad di Timika dan korban langsung dievakuasi ke RSUD Timika. 2 korban luka masih dalam penanganan dokter di UGD RSUD dan jenazah Bharada Aldy dibersihkan di kamar mayat.(Harwib)