Persia Bukan Tandinganmu

Persia Bukan Tandinganmu
Andi Naja FP Paraga (Penulis), sumber foto: Istimewa

oleh : Andi Naja FP Paraga

Pesaing besar Persia dahulu adalah Bizantium Romawi yang memiliki United State yang lebih besar dari yang dimiliki Amerika Serikat saat ini. Namun perjalanan sejarah memastikan Romawi kehilangan kedigdayaannya dan kini hanya menjadi sebuah Negara yang seolah tak memiliki jejak adikuasa di tengah Benua Biru. Persaingan Eksistensi adidaya telah menempatkan Persia menjadi pemenang. Kini Bizantium Persia sejak Tahun 1979 bernama Republik Islam Iran. Nama baru ini menandai berakhirnya kekuasaan Amerika Serikat melalui boneka USA Reza Pahlevi sang sekutu USA yang pernah menjadi Presiden Iran yang dahulu

Amerika Serikat tentu sangat kehilangan muka karena tidak hanya kehilangan mitra besar di Timur Tengah namun mereka merasa kehilangan logika militer. gerakan rakyat yang dipimpin oleh seorang kakek Ayatullah Khomaini telah menghabisi seluruh pengaruh USA di Negeri para Mullah(Ulama) ini tanpa sisa. Sang boneka Reza Pahlevi harus tunggang langgang mengarungi nasib tragisnya. Amerika Serikat tak bisa membayangkan bagaima kekuatan besar yang ia bangun puluhan tahun tumbang tanpa sisa hanya dalam waktu beberapa hari. Dunia pun tercengang karena negara pemimpin blok barat itu harus menerima fakta kehilangan superioritasnya justru ketika penguasaannya terhadap Timur Tengah begitu massif.

Tetapi Negara Imperialis ini mencoba mengakhiri deritanya dengan memanfaatkan Negara yang bertetangga dengan Iran. Pilihannya adalah IRAK sebuah Negara yang dipimpin oleh seorang diktator dari partai Ba’ath bernama Saddam Hussein. Tak pelak USA mendukung perang panjang Irak melawan Iran selama 9 tahun hingga mereka kelelahan karena tak kunjung menang. Saddam Hussein yang dipersiapkan menjadi pemimpin Jazirah Arab oleh USA itu ternyata bukan singa gurun. Ia tak lebih dari seekor keledai yang diharuskan menjadi singa bahkan lebih suka menghabisi lawan politiknya sendiri didalam negeri. Saddam Hussein gagal total bahkan menyeret negaranya pada krisis panjang. Saddam Hussein pun ditinggalkan Amerika Serikat dan mencoba menutupi kekecewaannya dengan menginvasi Kuwait.

Saddam Hussein menerima tulah besar karena Invasinya ke Kuwait menjadi papan luncur kejatuhannya. Kuawait juga merupakan Sekutu Amerika Serikat yang masih dalam bulan madu. Negara Kecil namun kayak minyak dan gas itu adalah jarahan baru yang menggiurkan sementara Irak sudah porak poranda akibat perang selama 9 tahun melawan Iran. Amerika Serikat tahu persis bagaimana menghadapi Saddam Hussein dan bagaimana menghadapi Sistem Militer yang mereka bangun sendiri puluhan tahun di Irak. Untuk itu USA mengundang semua sekutunya di Nato menghancurkan seluruh Fasilitas Senjata Nuklir dan berbalik 360 derajat menuduhkan semua perbuatan jahannam mereka kepada Saddam Hussein dan menjadi alasan kuat mereka untuk mengakhiri kekuasaan Bonekanya sendiri di Irak.

Tetapi mimpi besar mereka untuk menguasai kembali Iran tetap menjadi tekad USA dari presiden ke Presiden. Namun Iran sudah menetapkan USA adalah setan besar yang harus dihadapi dengan segala cara bahkan Negeri Para Mullah ini dengan tegas mengatakan setiap upaya USA di Timur Tengah harus dilawan walaupun bukan berada di Wilayah teritorial Iran. Upaya Amerika Serikat membangun ISIS selama 40 tahun dan mencoba untuk memporak porandakan Irak dan Suriah digagalkan Iran bekerjasama dgn Irak dan Suriah dalam waktu 4 tahun. Amerika Serikat mencoba menginvasi Yaman dengan menggunakan Arab Saudi sebagai sekutu loyalnya walaupun telah mengirim tentara bayaran yang mahal, namun tak mampu menaklukan Yaman bahkan kini Saudi Arabia harus menerima fakta bahwa Wilayah Negerinya yg berbatasan dengan Yaman menjadi sasaran Perang Militer Yaman.

USA semakin Panik dan semua sekutunya di Timur Tengah tentu wajib membantu Ambisi majikan besar mereka. Ketika IUSA menyatakan Perang terhadap Iran lewat Donald Trump dan mulai melakukan Pressure di Selat Harmous namun tak bisa berbuat apa-apa,sementara drone mata-mata USA hancur berkeping-keping di Langit Iran dihajar Senjata Iran membuat nyali Donald Trump menciut. Didalam Negeri mereka(USA)antaran Presiden bersama Petinggi Militernya berbeda pendapat dengan PENTAGON yg menyimpulkan bahwa perang melawan Iran adalah kealahan besar sambil menerangkan analisis militernya. Beberapa Negara Eropa meminta USA mempertimbangkan dengan matang karena hancurnya drone mata-mata Super Canggih USA merupakan Signal buruk bagi USA.

Eropa adalah Sejarah Bizantium Romawi dan pasti tau bahwa yang dihadapi Amerika Serikat kini adalah Generasi Bizantium Persia. Jika Amerika Serikat tak ingin menjadi sejarah pahit jilid II sebaiknya menahan diri. AMERIKA SERIKAT adalah Cerminan Eropa dan dapat dikatakan USA adalah Eropa di Benua Amerika. Akankah mereka ingin kehilangan USA-nya. Tentu tidak. Donald Trump Si Mulut Besar ini biarlah diajari oleh Bangsa Iran bahwa “imperialisme” mereka sudah berlebihan. Biarlah ia merasakan Sendiri bagaimana menghadapi Negara yang jiwa mereka hidup karena Panggilan Sayyidus Syuhada Al Imam Husein Putra Ali Bin Abithalib Sang Cucu Nabi Akhir Zaman. Negara itu memang telah mempersiapkan dirinya menjadi lawan setan besar itu tidak hanya dengan Modal Spritualitas yang tinggi tetapi juga dengan Modal Militerisme yang terbalut Spritualutas.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish