AWAS, RESESI GLOBAL SEMAKIN MENDEKAT

AWAS, RESESI GLOBAL SEMAKIN MENDEKAT
ist

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Istimewa

 

 

JP-Jakarta. Presiden Joko Widodo telah mengumpulkan para menteri dan pejabat ekonomi. Jokowi memimpin rapat terbatas (ratas) untuk mengantisipasi perkembangan perekonomian dunia di Kantor Presiden, Jakarta Pusat, dihadiri Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, dan beberapa pejabat lainnya.

Saat membuka ratas, Jokowi mengatakan Indonesia harus sedia payung sebelum hujan, yaitu mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi. “Akan kita bicarakan pada siang hari ini antisipasi perkembangan ekonomi dunia. Kita tahu semuanya, pertumbuhan ekonomi global telah mengalami perlambatan dan kemungkinan terjadinya resesi semakin besar,” katanya Rabu (4/9/2019).

Untuk itu, Jokowi meminta kementerian/lembaga yang terkait bersiap-siap. Tujuannya supaya jika itu benar-benar terjadi bisa dihadapi oleh Indonesia. “Oleh karenanya payung harus kita siapkan. Kalau hujannya besar kita nggak kehujanan,” sebutnya.

Melihat angka-angka secara global terkait kondisi perekonomian, Jokowi menilai kemungkinan terjadinya resesi itu semakin besar. “Angka-angka menunjukkan pertumbuhan ekonomi global sudah alami perlambatan, dan kemungkinan resesi akan semakin besar,” tambahnya.

Semenatara itu, di tempat terpisah, ekonom senior Rizal Ramli menyebut Indonesia berada dalam tahap creeping crisis atau sedang “merangkak” untuk sampai pada kondisi krisis. Ekonom lainnya menyebut Indonesia amat rentan terhadap krisis.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, tak bisa menampik itu. Ia bilang ekonomi dunia telah terkonfirmasi melemah dan risikonya bakal makin meningkat. “Kondisi ekonomi dunia confirm melemah dan ini risikonya bahkan makin meningkat. Ini muncul di dalamstatement ataupun indikator sesudah eskalasi pada Juli Agustus,” katanya belum lama ini.

Pengakuan Menteri Sri ini adalah kali kedua dalam bulan ini. Hanya saja, pengakuan ini bukan sebagai peringatan apalagi nakut-nakuti, seperti pernyataan beberapa ekonom belakangan ini. Sri membeberkan itu semua untuk membanggakan bahwa di tengah krisis dunia saja ekonomi Indonesia masih tumbuh 5%.

“Indonesia terjaga di 5% ini exceptional,” tandasnya. Jadi bersyukurlah, ekonomi masih tumbuh 5%. Jangan kufur nikmat, seperti apa yang dibilang Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Menurut menteri Sri, hawa perlambatan ekonomi dunia semakin terasa. Data-data ekonomi di berbagai negara terus saja mengecewakan. Dia menyebut, Jerman, Singapura, negara Amerika Latin seperti Argentina dalam masa krisis. Meksiko, Brasil, juga dalam situasi sulit. “Amerika Latin, Eropa, China, dan bahkan kawasan Asia sendiri termasuk India yang jadi motor penggerak ekonomi di pasar berkembang juga mengalami pelemahan,” ujarnya.

Lebih lanjut Rizal Ramli memperingatkan grafik transaksi berjalan semakin merosot, bahkan sudah mencapai lebih dari US$8 miliar. Kondisi CAD pada kuartal II-2019 sebesar US$8,4 miliar atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini adalah angka yang mengkhawatirkan.

Indikator mikro juga tak kalah membahayakan. Seperti slow down sektor ritel yang diprediksi akan terus berlanjut. Daya beli danconsumer good juga masih akan turun. Begitu pun dengan properti yang diprediksi akan terpuruk, kecuali untuk beberapa segmen. Kemudian di level korporasi, mulai terjadi peningkatan default atau gagal bayar. Ini diistilahkan sebagai zombie company. Keuntungan yang diperoleh tidak bisa untuk membayar bunga utang. “Perusahaan ini hanya bisa hidup dengan refinancing terus menerus,” kata eks Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini.

“Ada krisis kecil-kecil dan tidak disadari banyak orang, tetapi kalau disatukan jadi besar juga. Ini bisa dilihat dari kondisi makro, mikro, maupun korporasi. Kalau dibiarkan terus, bisa sangat membahayakan,” tambahnya.

Sedangkan, ekonom senior Indef, Didik J. Rachbini, memperingatkan Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap krisis. “Setidaknya bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia,” katanya, dalam diskusi ASEAN di antara perang dagang Amerika dan China: Bagaimana Seharusnya Respons Indonesia?, belum lama ini
Dalam materi diskusi yang berjudul “Dimensi Kritis dari Ekonomi Indonesia Dibandingkan Ekonomi ASEAN”, Didik antara lain mengulas soal ‘Menghadapi Resesi Global’. Ia mengutip Bloomberg Vulnerability Indek, atau indeks kerentanan suatu negara. “Vietnam dan Malaysia termasuk ke dalam level yang sama tetapi sedikit lebih rendah dan mempunyai struktur ekonomi yang lebih kuat daripada Indonesia,” jelasnya. Cadangan devisa, ekspor, dan industri Vietnam dan Malaysia relatif lebih kuat sehingga lebih tahan terhadap krisis.

Belajar dari krisis nilai tukar 1997-1998 dari Thailand, ada dua kelompok negara dalam konteks krisis.

Kelompok pertama adalah kelompok yang rentan dan terkena imbas krisis nilai tukar, yaitu: Thailand, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, dan Indonesia. Kelompok kedua adalah negara yang kuat dan tahan krisis nilai tukar, yaitu Taiwan, Hong Kong, Singapura dan lainnya.

Kelompok yang pertama mengalami defisit neraca berjalan (CAD) dan kelompok kedua tidak mengalaminya.

Level CAD Indonesia kini memang dalam tren terus membengkak, bahkan sudah menyentuh 3% terhadap PDB. Sedangkan Thailand sebagai negara yang pernah mengalami krisis 1998, yang sama juga dialami oleh Indonesia berhasil lolos dari penyakit CAD.

Di sisi lain, dalam laporan berjudul “Signs of Stress in The Asian Financial System”, firma konsultan global McKinsey & Company menemukan bahwa 25% utang swasta valas jangka panjang di Indonesia memiliki rasio penutupan bunga (interest coverage ratio/ICR) kurang dari 1,5 kali.

Posisi tersebut terhitung rawan karena perseroan menggunakan mayoritas labanya untuk membayar utang. Utang itu kebanyakan berasal dari sektor utilitas (pembangkit listrik dan jalan tol), dengan porsi 62%. Sektor energi dan bahan mentah menyusul dengan porsi 11% dan 10%.

Lebih jauh, konsultan ini mengingatkan negara-negara Asia perlu mewaspadai risiko terulangnya krisis 1997. McKinsey mengingatkan sektor utilitas Indonesia dan India berpotensi memicu persoalan karena kemampuan mereka untuk membalik kinerja dan membayar kembali utangnya tidaklah mudah.

Sementara itu, di belahan dunia lain, Eropa, sepanjang tahun 2019, berbagai bank investasi global telah mengurangi jumlah karyawannya hingga 30.000 orang. Beberapa bank yang melakukan pengurangan karyawan di antaranya adalah HSBC, Barclays, Société Générale, Citigroup, dan Deutsche Bank. Lembaga keuangan asal Jerman, Deutsche Bank, bahkan memangkas jumlah karyawannya lebih dari setengah total karyawan yang di PHK, yaitu sebanyak 18.000 orang di seluruh dunia.

Menurut laporan Financial Times, PHK massal ini disebabkan oleh berbagai alasan. Mulai dari penurunan suku bunga, volume perdagangan yang lemah, hingga efisiensi biaya operasional. Alasan lainnya adalah meningkatnya utang. Padahal, suku bunga saat ini negatif.

Sri Mulyani memprediksi makin panasnya tensi perang dagang antara AS dan China dipastikan memperbesar sinyal krisis. Apalagi tensi adu pernyataan kedua negara adi kuasa tersebut makin mendidih beberapa hari terakhir. “Tren besar di semua negara di dunia mengalami pelemahan. Ada negara lain yang masuk bahkan (sudah) resesi,” ujarnya.

Perlambatan ekonomi secara masif tengah terjadi. Awan gelap menyelimuti bumi saat ini. Yang terjadi, seluruh investor di dunia tengah berupaya menyelamatkan asetnya.

Seperti apa itu?
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengungkapkan sampai saat ini dunia masih sulit diprediksi. Apalagi soal perang dagang antara AS dan China.

“Memang semakin ke sini semakin sulit memperkirakan arahnya ke mana. […] Ini juga dipengaruhi hard Brexit dan krisis Argentina,” kata Nanang saat berbincang dengan Erwin Surya Brata dalam Program Closing Bell CNBC Indonesia seperti dikutip Rabu (4/9/2019).

Dijelaskan Nanang, saat ini nilai tukar negara maju dengan kekuatan ekonomi besar tengah melemah. Beruntung, Rupiah masih cukup baik.

“Yen melemah, Franc melemah, sebagai safe haven baru. Rupiah tidak bergerak banyak. Kalau YTD [year to date/sejak awal tahun] Rupiah masih terapresiasi 1%. Padahal emerging market semua terdepresiasi secara year to date.”

“Meski ada outflow karena ketidakpastian global, tetap waspada. Kita tetap harus waspada, setiap hari bisa berubah. Risk dari trade war ini harus dianggap biasa, karena tak ada outlook yang jelas,” terangnya.
Apa aset yang paling aman?

Nanang bercerita, safe haven yang memang sudah ada sejak dulu yakni Yen dan Franc masih tetap. Nah yang menjadi safe haven lain adalah US Treasury Global Bond, menurut Nanang.

“[Nilainya] sempat menyentuh 148%, kalau orang beli itu maka orang butuh dolar, dolarnya meningkat, selanjutnya Yen, Franc, dan emas,” tutur Nanang.

“Hal yang tidak terduga membuat orang menyelematkan aset. Suatu saat kalau terjadi pertemuan delegasi AS dan China, dan hasil positif pasti Yen dan Franc akan dijual. Kita harus terbiasa dengan ini. Ini adalah new normal, di mana kita akan menghadapi volatilitas seperti ini,” terangnya.
Apakah Emas Masih Oke?

Nanang juga menjelaskan, BI tak semata-mata melakukan diversifikasi cadangan devisanya dengan memperbanyak emas. Walaupun menjadi salah satu safe haven, Nanang mengatakan porsi cadangan devisa BI masih lebih banyak dalam dolar treasury bond.

“Kita selalu memastikan 3 aspek. Liquidity salah satunya yakni harus mudah dijual kembali dan aman serta dikeluarkan oleh pemerintahan yang credit risknya baik,” katanya.

“Ada alokasi di emas adalah wajar, mungkin ke depan viewnya dengan melihat ketidakpastian ke depan. Yang jelas komposisi Treasury Bond saat ini paling besar,” paparnya.

Turki resmi masuk masa resesi. Pada kuartal II-2019, ekonomi Negeri Kebab terkontraksi alias minus, melanjutkan ‘pencapaian’ yang serupa pada kuartal sebelumnya.

Pada periode April-Juni 2019, ekonomi Turki terkontraksi alias negatif 1,5% year-on-year (YoY). Pada kuartal sebelumnya, kontraksi ekonomi Turki lebih dalam yaitu minus 2,4% YoY.

Definisi resesi adalah kontraksi ekonomi dua kuartal beruntun secara YoY pada tahun yang sama. Mengacu pada definisi ini, Turki sudah masuk ke jurang resesi.

Data-data ekonomi Turki memang tidak meyakinkan. Pada Juli, inflasi di Turki mencapai 16,55% YoY. Lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya yaitu 15,72%.

Kemudian angka Purchasing Managers’ Index (PMi) manufaktur pada Agustus adalah 48. Sejak April, angka PMI manufaktur Turki tidak pernah menyentuh 50. Artinya, dunia usaha masih enggan melakukan ekspansi.

Bagaimana dengan mata uang lira? Anehnya, mata uang ini malah menguat tiga hari beruntun. Dalam tiga hari tersebut, apresiasi lira mencapai 1,32%.

Pada pukul 18:38 WIB, US$ 1 dibanderol TRY 5,7619. Lira menguat 0,73% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Akan tetapi, ada kemungkinan penguatan ini hanya sekadar techincal rebound. Sebab sejak awal tahun, lira sudah melemah 8,96%.
Dolar AS vs Lira Turki

Tahun lalu, tekanan terhadap ekonomi dan mata uang Turki menjadi salah satu kisah yang menyedot perhatian pasar. Apalagi pada saat yang sama Argentina pun mengalami masalah serupa.

Kini sejarah seperti terulang. Argentina masih terjebak dalam masalah pelik, karena situasi politik pasca Pemilu yang kurang kondusif. Pelemahan mata uang peso dan musim kemarau berkepanjangan menambah daftar masalah di Negeri Lionel Messi.

Turki pun sekarang bermasalah, sudah masuk ke zona resesi. Semoga problema di Turki dan Argentina tidak menyebar dan menjadi batu sandungan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Sedangkan, pemerhati masalah strategis Indonesia, Pramitha Prameswari mengatakan, ada tiga isu yang rentan “dipolitisasi atau dimanfaatkan” negara-negara yang tidak suka Indonesia ataupun negara-negara yang memiliki “ill will” terhadap Indonesia yaitu isu Papua, isu perpindahan ibukota dan rencana kenaikan suku bunga dollar AS pada 17 September 2019 mendatang.

“Semuanya akan membuat resesi global akan semakin terjadi. Paling cepat tahun ini, paling lambat tahun depan,” prediksinya (Red/berbagai sumber).

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish