Politisasi Dan Separatisme Papua Belum Padam Sepenuhnya

Politisasi Dan Separatisme Papua Belum Padam Sepenuhnya

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Papuanews.id

 

 

Oleh : Thukul JS

Jayakartapos,  Permasalahan separatism di Papua belum padam sepenuhnya, karena eksistensi kelompok anti NKRI di Papua dan Papua Barat bersama underbow di beberapa daerah terus melakukan perlawanan dan politisasi. Contohnya mereka masih aktif dan intens memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan West Papua setiap tanggal 1 Juli, dalam berbagai bentuk mulai dari unjuk rasa, doa bersama, diskusi bersama, dan nonton bareng film-film documenter seperti misalnya terjadi di Kedubes Belanda, Jakarta Selatan, Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (Fri-WP) melakukan aksi unjuk rasa, Aliansi Mahasiswa Papua dengan melakukan aksi unjuk rasa di depan asrama Kamasan. Unjuk rasa juga dilakukan AMP di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura, Kota Ambon, Maluku, di depan Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat, AMP Kota Bandung melakukan aksi unjuk rasa dan BEM Universitas Papua Manokwari juga melakukan unjuk rasa.

Sementara, di Sekretariat KNBP Almasuh, Kabupaten Merauke, simpatisan KNPB Almasuh melaksanakan kegiatan doa bersama dipimpin salah satu Jubir KNPB, sedangkan di Denpasar, Bali dan Salatiga, Jawa Tengah, AMP Komite Kota Bali dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua Salatiga menyelenggarakan diskusi dan nonton bareng.
Sedangan, Jacob Rumbiak yang juga Juru Bicara United Liberation Movement of West Papua atau ULMWP melalui media sosial mendukung pembentukan West Papua Army. Dikatakannya bahwa West Papua Army merupakan hasil penyatuan 3 Faksi Sayap Militer (TPN-PB, TRWP dan TNPB) perjuangan pembebasan Papua berdasarkan hasil KLB di Markas Victoria. Meskipun bukan rahasia umum lagi jika KNPB dengan ULMWP memiliki perbedaan dalam hal gerakan dan garis perjuangan.

Pembentukan WPA serta konfresi pers ditandatangani oleh Panglima Kodam dari wilayah masing-masing. Untuk wilayah Papua Barat yang ikut menandatangani pembentukan WPA yaitu Panglima Kodam IV Manokwari dan perwakilan Panglima Kodam II Sorong Raja Ampat. Dalam pembentukan WPA juga telah ditentukan jalur Komando dan Jalur Koordinasi antara Ketua ULMWP, Panglima TPN Papua Barat, Panglima TR WP serta Panglima TNPB

Pendukung Papua Merdeka juga senang dengan pembentukan West Papua Army (WPA) yang termanifestasikan dalam pernyataan sikap mereka antara lain WPA siap membela dan melindungi wilayah beserta masyarakat Sipil West Papua dari kejahatan Negara kolonial Indonesia dan sekutunya; Menolak dialog antara Jakarta dan West Papua dan mendukung proses perjuangan diplomasi yang didorong oleh ULMWP; Menjunjung tinggi nilai-nilai ke-Manusiaan dan ke-Tuhanan yang Maha Kuasa; Ikut menjaga perdamaian dunia dari ancaman teroris, perdagangan narkotika dan segala jenis perdagangan ilegal; WPA siap melaksanakan Konvensi Den Haag, Konvensi Jenewa 1949 dan Hukum Humaniter Internasional serta hukum internasional lainya yang berlaku di masa perang dan keadaan damai.

Peringatan hari proklamasi Kemerdekaan West Papua di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan simpatisan pendukung Kelompok Papua Merdeka. Penggunaan isu HAM dan referendum yang terus disuarakan oleh kelompok pendukung Papua Merdeka tersebut rentan mengganggu stabilitas dan integrasi bangsa.

Gerakan politik kelompok Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), diarahkan pada penguatan pembentukan opini bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat di wilayah Papua oleh pemerintah Indonesia. Intensitas kegiatan AMP terindikasi akan meningkat menjelang peringatan 1 Desember. Selain itu, perlu diantisipasi masuknya kelompok pewarta (wartawan) asing dari negara-negara yang mendukung gerakan Papua Merdeka, karena akan dijadikan alat untuk mengeksplorasi terjadinya pelanggaran HAM di Papua oleh pemerintah Indonesia.

Aliansi Mahasiswa Papua sebagai elemen pendukung gerakan separatis Papua, terus menyuarakan terjadinya pelanggaran kemanusiaan oleh pemerintah Indonesia terhadap rakyat Papua. Selain itu, AMP terus berupaya membangun simpati dunia internasional yang bertujuan memperoleh dukungan negara-negara lain dalam upaya memerdekakan Papua dari Indonesia. Daerah-daerah yang menjadi basis propaganda AMP merupakan daerah-daerah yang sangat memudahkan kelompok tersebut untuk diakses oleh dunia internasional seperti Bali, Manado, Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Surabaya, yang diharapkan dapat menyebarkan propaganda dalam upaya memperoleh simpati dan dukungan dunia internasional dalam rangka mendukung gerakan separatis Papua.

Aksi unjuk rasa mahasiswa Papua terkait berbagai isu yang terjadi di Papua seringkali membawa agenda tuntutan lain seperti pada aksi memeringati Peristiwa Biak Berdarah, mahasiswa Papua selalu menyampaikan tuntutan yang sama pada aksi-aksi lain yaitu berikan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Papua Barat sebagai solusi demokratis, negara bertanggung jawab atas rentetan pelanggaran HAM lainnya di Papua Barat, buka ruang demokrasi seluas-luasnya dan jamin kebebasan jurnalis dan pers di Papua, tarik TNI-Polri organik dan non-organik dari Papua, menuntup dan menghentikan aktifitas eksploitasi semua perusahaan MNC milik negara-negara imperialis seperti Freeport, BP, LNG Tangguh, Medco, Corindo dan lain-lain dari seluruh Tanah Papua. Apapun tema aksi, tuntutan yang disampaikan selalu sama.

Pendukung gerakan separatis juga memanfaatkan momen internasional seperti Melanesian Sparhead Group (MSG) yang akan dilaksanakan di Vanuatu, maupun pemberitaan media mengenai pemberian hadiah nobel kepada Benny Wenda.

Elemen pendukung gerakan separatis Papua NRFPB, WPNA, The United Liberation Movement for West Papua dan lainnya secara intens memperjuangkan aspirasi kemerdekaan Papua dari NKRI. Dengan memanfaatkan berbagai momentum, seperti peringatan 50 Tahun Pepera 1969-2019 kelompok pro separatis Papua melakukan kegiatan ibadah syukur dan aksi unjuk rasa dalam rangka mengampanyekan ketidak absahan dan cacat hukumnya proses Pepera tersebut, karena diklaim tidak didukung sepenuhnya khususnya oleh orang asli Papua. Disamping itu, upaya internasionalisasi dan ekspolitasi masalah Papua juga terus dilakukan kelompok pro separatis Papua di luar negeri yang didukung oleh negara-negara yang tergabung dalam Negara Melanesia Spearhead Group/MSG.

Adanya seruan ULMWP kepada masyarakat Papua, menunjukkan masih tingginya aktivitas gerakan Papua Merdeka untuk mendapatkan simpati masyarakat Papua. Selain itu, Gerakan Papua Merdeka juga terus berupaya untuk mensinergikan gerakannya di dalam negeri dengan upaya diplomasi di luar negeri untuk mendapatkan dukungan internasional melalui berbagai forum.

*) Pemerhati Indonesia

Disclaimer: Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish