Perang Propaganda Terkait Berbagai Isu Papua

Perang Propaganda Terkait Berbagai Isu Papua
Foto : Pasukan TNI yang berhasil mengevakuasi para guru yang menjadi korban kekerasan dan pemerkosaan KKSB di Kampung Aroanop Papua, Kamis (19/04/18) Sumber : Dok : Pendam XVII / Cendrawasih

Foto : Pasukan TNI yang berhasil mengevakuasi para guru yang menjadi korban kekerasan dan pemerkosaan KKSB di Kampung Aroanop Papua, Kamis (19/04/18) Sumber : Dok : Pendam XVII / Cendrawasih

 

 

 

Oleh : Bayu Wauran

Jayakartapos, Statement salah seorang tokoh LSM di Papua yang mengagitasi masyarakat Papua bahwa masyarakat yang ikut Pepera telah didoktrinasi, harus sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Pemerintah RI, kalau tidak maka akan pulang tinggal nama. Selain itu, 4 dari 8 tempat yang dilaksanakan Pepera ada upaya untuk secara masif, terstruktur dan sistematis untuk memenangkan Act of Free Choice / Pepera dengan cara-cara yang melawan hukum. Jelas pernyataan ini adalah bohong dan pemutarbalikkan fakta. Selain itu, kelompok separatis NRFPB, terus berupaya mendapatkan simpati masyarakat Papua dengan terus menggalang isu utama pelanggaran HAM oleh Pemerintah Indonesia. Demikian pula dengan kegiatan West Papua National Authority/WPNA, yang secara umum juga terus menyoroti kekerasan oleh aparat Indonesia terhadap masyarakat Papua. NRFPB dan WPNA secara bersama-sama aktif menyuarakan tuntutan agar pemerintah Indonesia agar mengakui kedaulatan bangsa Papua Barat. Upaya anasir-anasir gerakan separatis Papua dan pendukungnya untuk internasionalisasi isu Papua diperkirakan akan terus berlanjut untuk mendapatkan dukungan politik dari dunia internasional.

Penangkapan oknum aparat keamanan yang menjual amunisi atau peluru ke kelompok TPN/OPM di Kota Sorong, Papua Barat pada awal Agustus 2019 jelas merupakan bentuk penghianatan terhadap negara karena akan membahayakan kesatuan bangsa. Namun hal ini juga menunjukkan kelompok separatis juga cukup mudah mendapatkan amunisi sehingga mereka semakin berani menantang dan melawan kontak senjata dengan TNI-Polri di Papua.

Underbow TPN/OPM khususnya sayap politiknya cukup militan dalam mengajak atau mempersuasi kalangan mahasiswa Papua dimanapun berada untuk memiliki ide-ide separatis, hal ini sempat dilakukan mereka melalui penyebaran brosur larangan keras orang Papua mengikuti upacara dan memasang bendera Merah Putih dalam rangka peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 2019.

Fenomena ini menunjukkan fenomena propaganda kelompok separatis terhadap generasi muda Papua jika tidak dicegah dikhawatirkan akan mendegredasi rasa nasionalisme mahasiswa Papua terhadap Indonesia.

Kelompok politik Papua seperti United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) ketika peringatan HUT kemerdekaan RI juga terus memprovokasi masyarakat Papua agar mendukung propaganda mereka untuk membentuk opini di kalangan internasional bahwa seolah-olah seluruh masyarakat Papua tidak mengakui entitasnya dalam NKRI, sehingga dijadikan “pintu masuk” oleh Benny Wenda bersama ULMWP dan melalui gerakan pragmatis mereka khususnya di wilayah Pasifik Selatan, untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua. Berkat upaya diplomasi Indonesia dan penciptaan suasana kondusif oleh lembaga negara lainnya, negara-negara Pasifik Selatan tidak merespons ide Benny Wenda cs.

Sebelumnya, sejumlah fakta memiriskan rasa nasionalisme telah menggambarkan bagaimana akutnya dukungan kelompok generasi muda di Papua terhadap kelompok separatis seperti ditangkapnya 5 orang asli karena menggenakan kaos bermotif Bintang Kejora dan Noken bertuliskan KNPB oleh Polres Boven Digoel.

Kemudian ketika memperingati Hari Pribumi Internasional, beberapa NGO di Papua melakukan aksi di Sorong, Manokwari, dan Jayapura dengan mengusung tema-tema bernuansa separatis seperti “Tolak Transmigrasi, Tolak Perusahaan Kelapa Sawit, dan Tolak Otsus Plus”. Sebelum melakukan aksinya, mereka juga telah memutar 17 film dokumenter anti investasi kelapa sawit dimana kegiatan tersebut didanai oleh NGO asing yang beroperasi melalui kompradornya di Papua dan Papua Barat.

Memang harus diakui bahwa kerawanan terkait gangguan kelompok separatis di Papua masih sangat mengkhawatirkan dan masuk dalam level serius menurut teori Robert Ring, ditandai dengan tewasnya personel Polri yang disandera oleh kelompok separatis bersenjata di Papua. Perang propaganda terkait berbagai isu di Papua diperkirakan akan terus berlanjut, karena simpatisan kelompok Papua Merdeka yang berafiliasi dengan kelompok yang ada di luar negeri terus berupaya memanfaatkan dan menggoda agar isu Papua merdeka “laku dijual” di arena acara Melanesian Spearhead Groups dan Pasific Islands Forum di wilayah Melanesia.

Semoga saja pemerintah Indonesia tidak lelah dalam menjaga Papua. Apalagi menurut berbagai kalangan ada tiga isu krusial yang dapat “menggoncangkan” pemerintahan Jokowi ke depan yaitu perpindahan ibukota ke Kalimantan Timur, isu Papua merdeka dan kondisi perekonomian nasional yang masih “Senin-Kamis” akibat bayang-bayang terjadinya resesi global ditengah minimnya kekuatan pemerintah dan pelaku ekonomi nasional untuk mengantisipasinya.

*) Pemerhati Indonesia

Disclaimer: Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchIndonesianJapaneseMalayPortugueseRussianSpanish