Daily: January 4, 2020

DOES INDONESIA-CHINESE ERUPT AFTER BRAZEN CHINESE MANEUVRE IN NORTH NATUNA?
By: On:

DOES INDONESIA-CHINESE ERUPT AFTER BRAZEN CHINESE MANEUVRE IN NORTH NATUNA?

Photo:  KRI Tjiptadi, source: Antara Kepri/ Cherman

 

 

By : TW Deora

Jayakartapos,   Recently, relationship among Indonesia and Chinese tends to heat up after several times reported that Chinese’s fisherman boats which backed up by Chinese’s military vessels were stole Indonesia’s fish and other natural resources in North Natuna, Riau Islands provinces.

Recorded earlier that Chinese’s arrogant has been making several conflicts in South China sea with Phillipines, Vietnam, and also Taiwan. China’s attitude has shown to reflect their greedy to occupy several strategist sea zone including Natuna which formerly claimed by Chinese’s government as their territory based on their ancient maps. The claim which is not allowed and followed by an international community.

Responding Chinese’s brazen and arrogant maneuvre in North Natuna, Indonesia’s navy and Indonesia’s airforces has been sent their military vessels and aircraft ready to combat or ready to sweep all of Chinese’s maneuvre in Natuna. The next current situations if it does not solve, it can make Chinese and Indonesia relationship will be harmed, and those strategic issues can be simmered by an opposant groups in Indonesia to corner Jokowi’s administration. If it is happen, it will be made as “eerie phenomenon”.

Previously and obviously, Indonesia-Chinese relationship have been coloring by several sensitive issues such as the influx of “blue colour manpowers” or unskilled manpowers from Chinese, several Chinese’s people have been catching from their illegal activities including prostitution, several vested groups in Indonesia have protested related to allegedly Chinese human rights violence to muslim’s community Uyghur in Xinjiang provinces and other an illegal Chinese’s resident movement.

For note, China is second the biggest economy and military power in the world. China has stable and good relation with several their allies mainly Russia, North Korea and Iran also all of countries which were agreed to joint and support China’s project, OBOR. China has have the capability to make global uncertainty through their proxy war actors and their foreign stooge who were delivered around the world including in unstable regions or countries such as Hongkong, Rwanda, Afghanistan, Taiwan, Maldives even in Europe and the United States.

For Indonesia interest, Natuna is our territory, but confronting with China does not make Indonesia happy and stable because for remembering we have a lot of foreign debt from China. Through diplomatic relationship, Indonesia must send a protest to China and search the back up diplomatic from China’s opponent such as Japan, South Korea, Europe countries, the USA and several countries which are being dispute with China on South China sea issues. Hopefully.

*) The writer is an international issues observer

Disclaimer: Every opinion in this media is the responsibility of the writer. If there are parties who object or feel aggrieved with this article, according to the press rules, that party can give the right of reply to the author of Opinion and the Editor will publish the article in a balanced manner.

ARAH POSITIF INDONESIA MENURUNKAN DEFISIT NERACA PERDAGANGAN
By: On:

ARAH POSITIF INDONESIA MENURUNKAN DEFISIT NERACA PERDAGANGAN

Foto: Neraca perdagangan, sumber foto: Kompasiana

Oleh Franky Luhulima *)

Jayakartapos,  Sektor perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit pada tahun 2019 dengan nilai sebesar US$3,1 Miliar. Hal ini merupakan tren buruk yang terjadi selama dua tahun berturut-turut, meskipun bukan yang terburuk karena tahun 2018 Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan yang disebut-sebut sebagai defisit terdalam sepanjang sejarah yaitu dengan nilai US$ 8,7 Miliar. Pada periode 2018 tersebut, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 180,01 Miliar sedangkan nilai impor mencapai US$ 188,7 Miliar. Sementara itu pada tahun 2019 nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 153,1 Miliar, sedangkan total impor mencapai US$ 156,2 Miliar. Meskipun mengalami penurunan nilai ekspor maupun impor, namun Pemerintah berhasil memperkecil selisih defisit neraca perdagangan dari US$ 8,7 Miliar pada tahun 2018 menjadi US$ 3,1 Miliar pada tahun 2019. Hal ini menandakan bahwa Pemerintah sudah bekerja maksimal untuk memperbaiki sektor perdagangan Indonesia.

Namun membicarakan mengenai defisit neraca perdagangan tidak bisa dilepaskan dari permasalahan melemahnya perekonomian global sebagai dampak perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok. Perang dagang tersebut amat berpengaruh pada sisi ekspor Indonesia, dimana permintaan ekspor Indonesia dari negara mitra menjadi berkurang sedangkan impor tetap dilakukan Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain faktor perang dagang, permasalahan lainnya yang menjadi penyebab masih terjadinya defisit neraca perdagangan menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto adalah besarnya impor Migas saat ini. Saat ini Indonesia masih harus mengimpor Migas dikarenakan produksi Migas domestik sudah tidak dapat memenuhi permintaan dalam negeri.

Untuk menyelesaikan permasalahan impor Migas yang mempengaruhi defisit neraca perdagangan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Pemerintah akan mengambil sejumlah langkah penting kedepan yaitu meningkatkan lifting Migas, menjalankan program Biodiesel, dan membangun pabrik Petrokimia. Selain itu, pada tahun 2020 akan ada implementasi B30 atau Biodiesel 30% yang merupakan bahan bakar ramah lingkungan karena campuran dari 70% solar dan 30% FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang berasal dari kelapa sawit. Hal ini adalah salah satu upaya Pemerintah mengurangi kebutuhan BBM di masyarakat.

Pada tahun 2020 mendatang, Pemerintah juga berencana memproduksi B100 yaitu Bahan Bakar Nabati (BBN/biofuel) untuk aplikasi mesin/motor diesel berupa FAME yang dihasilkan dari bahan baku hayati dan biomassa lainnya yang diproses secara esterifikasi. Dengan memproduksi B100, Indonesia sepenuhnya menggunakan BBN dan tidak lagi menggunakan komponen dari minyak fosil. Selain berkontribusi terhadap pengurangan impor Migas, upaya ini juga sekaligus menjadi komitmen Indonesia menjaga ketahanan lingkungan dunia.

Adapun untuk mengurangi impor Petrokimia, pada tahun 2020 mendatang Indonesia akan menyelesaikan pembangunan Trans Pacific Petrochemical Indonesia (TPPI). Kilang TPPI merupakan salah satu kilang terbesar di Indonesia yang dapat menghasilkan produk aromatik dan juga penghasil BBM, premium, pertamax, elpiji, solar, dan kerosene. Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan menyampaikan bahwa jika kilang TPPI telah beroperasi secara penuh, maka potensi devisa yang dapat dihemat negara mencapai US$ 4,9 Miliar atau sekitar Rp56 Triliun.

Dalam kerangka menurunkan defisit neraca perdagangan tersebut, tidak hanya kebijakan Pemerintah yang memiliki peran penting, melainkan juga partisipasi masyarakat Indonesia. Hal ini seperti penggunaan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi yang berpotensi besar menghemat penggunaan BBM. Selain itu, masyarakat juga harus menyadari bahwa BBM jenis Premium adalah bahan bakar bersubsidi yang penggunaannya hanya ditujukan kepada kalangan tidak mampu, sehingga masyarakat kelas menengah Indonesia harus mulai secara sadar beralih menggunakan BBM jenis Pertamax atau Pertamax Plus. Dengan mulai melakukan langkah penghematan BBM serta beralih pada kendaraan umum, serta secara sadar tidak menggunakan BBM bersubsidi, masyarakat telah membantu mensukseskan program Pemerintah sekaligus menjaga kesejahteraan kita bersama.

*) Penulis adalah pengamat perekonomian

Disclaimer: Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang