Daily: January 6, 2020

IRAN VS AMERIKA SERIKAT : SIAPA YANG UNTUNG ?
By: On:

IRAN VS AMERIKA SERIKAT : SIAPA YANG UNTUNG ?

Foto: Ilustrasi, sumber foto: CNN

 

 

Oleh : Otjih Sewandarijatun

Jayakartapos, Serangan rudal AS yang menewaskan Mayor Jenderal Qassem Soleirnani, perwira tinggi Iran, memicu kemarahan Teheran. Aksi balas akan dendam memicu potensi konflik besar.

Konflik senjata berskala besar dan luas kini serta-merta terbuka lebar di Timur Tengah menyusul tewasnya dua komandan elite militer Iran dan loyalisnya, yaitu Mayor Jenderal Qassem Soleimani dan Jamal Jaafar Ibrahimi alias Abu Mandi al-Mohandis.

Mereka tewas dalam serangan rudal Amerika Serikat di dekat Bandara Internasional Baghdad, Jumat (3/1/2020). Al-Mohandis menjabat Wakil Pemimpin milisi Hashed al-Shaabi, yakni kaukus milisi loyalis Iran di Irak yang kini menjadi kekuatan militer terkuat di negara itu. Brigade Al-Quds dan milisi Hashed al-Shaabi, dua kekuatan militer andalan Iran dalam pertarungan geopolitik di Timur Tengah.

Tewasnya Soleimani dan Al-Mohandis merupakan pukulan terberat dan membuat panik Iran dan loyalisnya. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah All Khamenei, langsung menunjuk Brien Esmail Qaani sebagai komandan Brigade Al-Quds. Phillip Smyth, spesialis kelompok bersenjata Shiah misalnya, menyebut serangan tersebut bisa berdampak lebih besar daripada operasi militer AS terhadap musuh-musuhnya, seperti Osama bin Laden ataupun Abu Bakr al-Baghdadi. Negara-negara lain pun prihatin terhadap perkembangan di Irak dan Iran.

Tewasnya Soleimani dan Al-Mohandis adalah rangkaian dari aksi saling se-rang AS-Iran di Irak. Sebelumnya. 29 Desember, pesawat tempur AS menyerang lima pangkalan militer brigade Hezbollah, salah sate unit dalam milisi Hashed al-Shaabi, yang membawa korban 25 tewas dari anggota brigade itu. Serangan AS itu adalah balasan atas serangan belasan rudal brigade Hezbollah ke pangkalan militer K1 di Kirkuk yang membawa korban seorang kontraktor AS tewas. Warga Irak pro-Iran balik membalas dengan menyerang kantor Kedutaan Besar AS di Baghdad.

Hal itu membuat sejarah konflik sengit AS-Iran, yang dimulai sejak aksi penyanderaan 52 diplomat AS di Teheran pada tahun 1979, kini kembali mencapai situasi yang mernanas.

Iran dan loyalisnya seperti Hezbollah di Lebanon dan kelompok Al-Houthi di Yaman, bersumpah akan melancarkan aksi balas dendam secara cepat dan dalam skala besar. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan, akan ada aksi balas dendam keras yang harus ditunggu para kriminal yang tangan mereka berlumuran darah Soleimani dan syuhada lainnya.

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan, Iran akan semakin bertekad melancarkan perlawanan terhadap AS sebagai balasan atas tewasnya Soleimani. Hal senada disampaikan Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami.

Demonstrasi menuntut balas dendam terjadi di kota Arak, Bojnourd, Hamedan, Hormo-zgan, Sanandaj, Semnan, Shiraz, dan Yazd. Israel mengurnumkan siaga pe-nuh dan menutup semua tempat wisata di Dataran Tinggi Golan untuk antisipasi aksi balas dendam Iran. Israel juga mengumumkan semua kantor perwakilannya di seluruh dunia meningkatkan keamanan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperpendek kunjungannnya ke Yunani. AS meminta semua warganya di Irak segera meninggalkan negara itu. Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mendesak semua pihak menahan diri pasca kematian Soleimani. Sementara, Kementerian Luar Negeri China mendesak AS. untuk tetap tenang dan menahan diri untuk menghindari meningkatnya ketegangan. Kemenlu Rusia menilai serangan itu merupakan tindakan yang hanya akan mem-perburuk situasi.

Di pihak lain, dengan sikap dan tindakan yang kerap memicu kontroversi, Trump tidak gentar de-ngan gertakan dan ancaman Iran. Di akun Twitter-nya, dia menantang dan siap merespons serangan balasan dari militer Iran ataupun pendukungnya.

Bahkan setelah menginstruksikan pembunuhan terhadap Soleimani, kini Trump memperingatkan bahwa pihaknya menargetkan 52 situs di Iran, apabila Iran menyerang personel ataupun aset milik AS. Trump mengatakan ke-52 situs di Iran yang ditargetkan ter-sebut mewakili jumlah orang AS yang pernah disandera di Kedutaan AS di Teheran, Iran, sejak 4 November 1979 hingga 20 Januari 1981. Juru bicara Divisi Penerjun 82 Letnan Kolonel Mike Burns mengatakan, 3.500 pasukan akan dikirimkan dalam beberapa hari ke depan. Pasukan itu merupakan anggota brigade divisi pengerahan cepat yang dikenal sebagai Immediate Response Force atau Pasukan Cepat Tanggap.

Sikap keras Trump terhadap Iran sepertinya tidak mendapatkan dukungan di dalam negeri, terlihat pada 4 Januari 2020, 200 ratusan warga dari seluruh Amerika Serikat menggelar protes terhadap serangan udara yang menewaskan komandan militer Iran, Qassem Soleimani.

Aksi protes itu diselenggarakan koalisi antiperang yang berbasis di AS, yakni Codepink dan Act Now to Stop War and End Racism, bersama dengan sejumlah kelompok lainnya. Sejumlah pengunjuk rasa berkumpul di Tampa, Philadelphia, San Francisco, hingga New York sambil membawa spanduk dan meneriakkan slogan-slogan anti perang.

Penyelenggara protes mengatakan pemerintahan Donald Trump telah memulai perang dengan membunuh Soleimani. Salah satu demonstran, Sam Crook, mengaku dirinya prihatin atas tindakan Trump menabuh genderang perang atas Iran. Menurutnya, AS berada dalam cengkeraman pemimpin yang secara mental tidak stabil. Warga Iran-Amerika, Shirin, mengaku khawatir tentang kemungkinan terjadinya perang dengan Iran karena Iran telah bersumpah untuk membalas dendam kematian Soleimani.

Bukan lawan sebanding

Jika perang Iran vs Amerika Serikat terjadi, memang Iran bukan lawan sebanding bagi AS dalam hal persenjataan, namun Iran memiliki pengaruh di kawasan yang bisa merepotkan AS.

Menurut situs Global Fire Power yang memantau militer negara-negara di dunia, Iran berada di posisi 14 dari 137 negara dalam hal kekuatan militer. Sedangkan AS berada di posisi pertama disusul oleh Rusia, China, India, dan Prancis dalam ranking 5 besar. Iran punya dua jenis angkatan bersenjata, yakni pasukan reguler atau Artesh dan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Menurut Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon, tugas Artesh adalah menjaga keamanan di dalam negeri, sementara IRGC memperluas pengaruh Iran di kawasan dengan melakukan perang proksi.

Jumlah personel aktif Artesh adalah 350 ribu orang sedangkan IRGC 150 ribu, dengan cadangan sekitar 350 ribu personel. Jumlah ini jauh lebih kecil jika dibandingkan personel aktif AS yang mencapai hampir 1,3 juta orang dengan tentara cadangan 860 ribu personel. Total anggaran belanja pertahanan AS mencapai USD 716 miliar, atau sekitar 113 kali lipat dibanding Iran yang hanya USD 6,3 miliar. Anggaran tersebut juga tidak maksimal dibelanjakan karena Iran kesulitan mengimpor persenjataan karena sanksi dan embargo AS.

Iran hanya memiliki sekitar 500 pesawat tempur, 1.634 tank, dan 398 armada perang laut. Sementara AS memiliki 13.398 jet tempur, 6.287 tank, dan 415 armada perang laut, termasuk 24 kapal induk. Iran tidak punya kapal induk, angkatan laut Iran terbanyak adalah kapal selam berjumlah 34 unit. Namun Iran unggul dalam peluncur roket, yakni 1.900 unit sementara AS 1.056 unit. Inilah yang paling dikhawatirkan oleh AS. Menurut laporanPentagon, Iran memiliki rudal balistik yang akan menjadi senjata utama mereka dalam menghadapi serangan udara musuh.

Menurut Pentagon, persenjataan rudal Iran terbesar di Timur Tengah, baik untuk serangan jarak pendek, menengah, atau jauh. Kekuatan rudal ini untuk menutupi kekurangan mereka dari sisi kekuatan udara. Rudal Iran bahkan mampu mencapai jarak hingga 2.000 kilometer.

Iran memiliki keuntungan dalam perang laut karena aksesnya yang strategis di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Pentagon menyebut Iran bisa menutup akses tersebut bagi perdagangan dengan mengerahkan kapal-kapal perang mereka. Soal kemampuan drone Iran juga mengkhawatirkan AS. Pentagon mengatakan kemajuan teknologi pesawat nirawak (UAV) Iran mengkhawatirkan buat AS. Iran telah beberapa kali melancarkan serangan dengan drone di Suriah dan Irak.

Militer Iran juga memiliki strategi khusus jika berperang dengan AS, yakni memanfaatkan kekuatan proksi mereka di negara-negara tetangga. Sejak lama Iran dituding berada di balik kekacauan di Timur Tengah, di antaranya di Yaman, Suriah, atau Irak.

Kebanyakan mitra Iran di kawasan adalah kelompok milisi Syiah, seperti Houthi di Yaman, Kataib Hizbullah di Irak, atau Hizbullah di Lebanon. Yang memelihara koneksi dengan kelompok ini adalah Pasukan Quds, sayap intelijen IRGC, yang sebelumnya dipimpin Solemani. Kelompok yang dibekingi Iran ini jadi ancaman bagi fasilitas AS di luar negeri jika perang terjadi.

Dampaknya

Belum terjadi perang terbuka antara Iran vs AS, ternyata ketegangan diantara keduanya ternyata menimbulkan ancaman baru bagi perekonomian global. Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah menilai memburuknya hubungan AS dan Iran akan merusak tren sentimen positif di pasar keuangan global yang terbangun pasca kesepakatan perang dagang AS dan Tiongkok.

“Kekhawatiran akan terjadinya perang antara AS dan Iran akan menahan aliran modal asing masuk ke negara-negara berkembang, termasuk ke Indonesia, dan ini tentunya akan berdampak negatif terhadap IHSG dan juga rupiah,” ujar Piter dalam pesan singkatnya, kemarin.

Dalam perdagangan terakhir pekan lalu, IHSG dan rupiah memang masih terlihat mengalami penguatan. IHSG ditutup menguat 39 poin di 6.323 dan rupiah masih berada di bawah 14.000 per dolar AS. Namun, arah pelemahan mulai terlihat dari melemahnya sejumlah bursa global dunia pascaserangan AS ke Iran.

Dampak dari ketegangan itu juga masuk dari jalur perdagangan. Hal itu dapat terlihat dari kenaikan harga minyak. Harga minyak jenis Brent naik 4,4% ke level US$69,16 per barel. Untuk jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 4,3% ke US$63,84 per barel pada perdangan pekan lalu.

Sementara, harga minyak melonjak lebih dari empat persen pada 3/1/2020 menyusul berita bahwa AS telah membunuh seorang jenderal top Iran. Hal ini mengipasi kekhawatiran barn akan konflik di kawasan kaya minyak mentah dengan Teheran memperingatkan pembalasan. Mata uang yen naik 0,7% terhadap dolar dan emas naik 1,4% menuju US$1.600. Mata uang berisiko tinggi mundur terhadap greenback dengan won Korea Selatan turun 0,6%, dolar Australia turun 0,4% dan rand Afrika Selatan turun lebih dari satu persen. Ekuitas beragam setelah rally untuk hari kedua tahun ini pada optimisme perdagangan Tiongkok-AS. Hong Kong turun 0,3%, Shanghai berakhir turun 0,1%, Singapura turun 0,7%, sementara Mumbai turun 0,5%. Namun, ada keuntungan di Sydney, Seoul, Wellington, Manila, dan Taipei.

*) Pemerhati masalah internasional

Disclaimer: Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

KERJASAMA HUKUM ANTARA INDONESIA-RUSSIA
By: On:

KERJASAMA HUKUM ANTARA INDONESIA-RUSSIA

Foto: Kerjasama hukum Indonesia-Rusia, sumber foto: Detik

Jayakartapos-Jakarta, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Republik Indonesia, Yasonna H. Laoly menandatangani Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Mutual Legal Assistance/ MLA) antara RI dengan Federasi Rusia di Moskow pada tanggal 13 Desember 2019.

Penandatanganan Perjanjian MLA itu sejalan dengan arahan dan komitmen kuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pemberantasan dan pencegahan tindak pidana korupsi serta pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi (asset recovery) yang dilakukan melalui berbagai platform kerja sama hukum.

“Kami berharap dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat RI nantinya segera meratifikasi agar perjanjian ini dapat langsung dimanfaatkan oleh para penegak hukum, dan instansi terkait lainnya,” ujar Yasonna berdasarkan rilis yang diterima di Jakarta, Jumat (13/12).

Perjanjian MLA RI dengan Rusia itu terdiri dari 23 pasal, antara lain mengatur bantuan hukum mengenai pembekuan, penyitaan, penahanan hingga perampasan aset hasil tindak kejahatan.

“Ruang lingkup bantuan timbal balik pidana yang luas ini merupakan salah satu bagian penting dalam rangka mendukung proses hukum pidana di negara peminta,” ujar Yasonna.

Perjanjian MLA RI dengan Rusia itu merupakan perjanjian MLA yang ke-11 yang telah ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia setelah penandatanganan dengan ASEAN, Australia, Hong Kong, China, Korea Selatan, India, Vietnam, Uni Emirat Arab, Iran dan Swiss.

Perjanjian MLA RI dengan Rusia terwujud melalui proses perundingan selama dua tahun yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM RI, Cahyo Rahadian Muzhar.

Selanjutnya, RI dan Rusia juga dijadwalkan akan menandatangani perjanjian ekstradisi, Memorandum of Cooperation (MoC), dan Persetujuan Penyederhanaan (Simplikasi) Visa pada awal tahun 2020 pada saat kunjungan Presiden VladimirPutin ke Jakarta.

Perjanjian MLA RI dengan Rusia adalah capaian kerja sama bantuan timbal-balik pidana yang luar biasa dan menjadi keberhasilan diplomasi yang sangat penting, mengingat hubungan diplomatik RI – Rusia memiliki sejarah panjang dan berjalan hampir 70 tahun.

Sebagaimana telah diketahui, Rusia merupakan salah satu negara paling berpengaruh di dunia, baik secara politik maupun secara ekonomi. Belakangan ini, Rusia menjadi tujuan ekspor kopi dan buah-buahan dari Indonesia. Selain itu, pada tahun 2018 Indonesia juga telah mengekspor kapal cepat produksi Banyuwangi ke Rusia.
Sementara itu, nilai investasi Rusia di Indonesia juga mengalami peningkatan yang ditandai dengan penandatanganan 13 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/ MoU) antara pelaku bisnis dari Rusia dan Indonesia pada tanggal 1 Agustus 2019 lalu.
Demikian pula dalam bidang pariwisata, di mana kunjungan wisatawan terus mengalami peningkatan. Baik dari Rusia ke Indonesia maupun sebaliknya. Oleh karena itu, kerja sama antara kedua negara di berbagai bidang penting untuk ditingkatkan, termasuk kerja sama di bidang hukum.

Menkumham atas nama Pemerintah Indonesia menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Rusia yang telah membantu dan memudahkan serta menjadikan Perjanjian MLA itu terwujud.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh dari Duta Besar Mohammad Wahid Supriyadi dan Kementerian/ Lembaga terkait, yaitu Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam), Kementerian Luar Negeri, Kepolisian Republik Indonesia, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang telah bersama-sama mewujudkan dan menyaksikan penandatanganan Perjanjian MLA RI dengan Rusia tersebut (Red)

US EMBASSY ATTACK: TRUMP THREATENS IRAN OVER VIOLENT PROTEST IN IRAQ
By: On:

US EMBASSY ATTACK: TRUMP THREATENS IRAN OVER VIOLENT PROTEST IN IRAQ

Photo: US. Embassy in Baghdad, source: Khalid Mohammed/AP/Shutterstock

Jayakartapos, US President Donald Trump has threatened Iran after blaming it for an attack on the US embassy in Iraq.

The compound in Baghdad was attacked by demonstrators furious over the deaths of militia members in US air strikes.

Mr Trump tweeted that Iran “will pay a very big price” for any damage or loss of life. “This is not a warning, it is a threat,” he said.

But Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei responded by saying the US “can’t do a damn thing”.

Anti-American sentiment was widespread in Iraq, he added.
Ayatollah Khamenei’s English-language Twitter account posted a translation of his remarks.

Demonstrators regrouped outside the US embassy on Wednesday. Reports said at least one Iraqi militia had ordered its supporters to leave the area.

The protests starkly illustrate the tenuous and difficult nature of the US relationship with Iraq. The question now is whether this relationship is tenable and, if so, for how long?

The struggle against the Islamic State (IS) group obscured the basic geometry of the Iraqi government’s position. It needed the US military presence to train and assist its forces. But its Shia government was closely allied with Tehran.

So developed a curious triangular relationship, with the US and Iran deeply suspicious of each other’s motives and eager that their rival’s influence should be reduced. Iraq steers a sometimes bumpy course between them that has got bumpier in recent weeks following a wave of domestic protest inside Iraq at the government’s incompetence, which has an element of hostility to Iranian meddling too.

Iran meanwhile has built up its links to Shia militias in the country, one of which is judged by the Americans to have been responsible for the rocket attacks against its bases – hence the US air strikes. The Americans see Tehran as behind the attacks and want the Iraqi authorities to ensure the safety of US facilities.

But with the Trump administration sending out conflicting signals about its future role in the region; in part a desire to limit its involvement and in part a message of deterrence against Tehran – it is easy to be confused. And amid this confusion the danger of a direct clash between Washington and Tehran only grows.
What happened on Tuesday?

The angry crowd set an empty guard post in the street on fire and breached a reception area in the embassy compound, leading US troops to fire teargas to repel them.

US marines were sent to the Baghdad embassy to boost security. US Defence Secretary Mark Esper later announced that about 750 soldiers would be deployed to the region. There are about 5,000 US troops already stationed in Iraq.

“The United States will protect our people and interests anywhere they are found around the world,” he wrote in a tweet.

There were no plans to evacuate the embassy, Secretary of State Mike Pompeo told Fox News. Ambassador Matthew Tueller was outside Iraq for a previously scheduled holiday and was reportedly returning to the embassy.

Iraqi soldiers and riot police were reportedly later deployed in the area, and the protest died down as night fell. Fifty people were treated for tear-gas inhalation at hospitals in Baghdad, a health ministry source told the BBC.

Mr Trump said he expected Iraqi forces to protect the embassy and its staff, and thanked Mr Abdul Mahdi for action taken during the attack.

Why was the embassy attacked?

Tuesday’s protest took place after funerals were held for the militia fighters killed in the US strikes.
The militia was an Iranian-backed force, the Kataib Hezbollah militia in western Iraq and eastern Syria.

At least 25 fighters died in the US bombing of their bases on Sunday, which Washington said was a retaliation for the death of an American civilian worker killed during a rocket attack on an Iraqi military base.

Iraqi Prime Minister Adel Abdul Mahdi said the strikes had violated his country’s sovereignty. The leader of the Kataib Hezbollah militia, Abu Mahdi al-Muhandis, warned that its response “would be very tough on the American forces in Iraq”.

On Wednesday Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei “strongly condemned” the US attack on Kataib Hezbollah.

Why did the US target Kataib Hezbollah?

The US said the militia had carried out repeated attacks on Iraqi bases that host US-led coalition forces fighting the Islamic State (IS) group.

In response, it added, US forces conducted “precision defensive strikes” on Sunday against five facilities, including weapon stores and command and control locations, that would degrade its ability to conduct future attacks.

Since 2009, the US has designated Kataib Hezbollah as a terrorist organisation and listed its leader Abu Mahdi al-Muhandis as a “global terrorist”.

The US defence department said the militia had a “strong linkage” with Iran’s Quds Force, the overseas operations arm of the Islamic Revolution Guard Corps (IRGC), and had “repeatedly received lethal aid and other support from Iran”.

The Pentagon denied reports earlier last month that the US was considering sending 14,000 more troops to the Middle East to counter Iran.

Source: BBC