Archives

HENDARDI : ICW DAN PUSAKO PUNYA INTEREST MENJATUHKAN CAPIM KPK TERUTAMA DARI JAKSA DAN POLISI
By: On:

HENDARDI : ICW DAN PUSAKO PUNYA INTEREST MENJATUHKAN CAPIM KPK TERUTAMA DARI JAKSA DAN POLISI

Foto: Hendardi, sumber foto: Tokoh.id

 

Stramed,  ICW dan PuSAKO dkk meributkan LHKPN sekarang karena memiliki interest untuk menjatuhkan orang-orang yang mereka tidak sukai seperti Capim KPK berlatarbelakang Polisi dan Jaksa serta mendorong figur favoritnya yang berasal dari kalangan KPK. Pastinya pekerja atau pejabat asal KPK sudah lebih siap dengan LHKPN karena dokumen itu memang pelaporannya ke KPK. Karena itulah syarat menyerahkan LHKPN di awal-awal seleksi menjadi akal-akalan mereka untuk menggugurkan pihak yang tidak mereka sukai, namun Pansel KPK pantang didikte siapapun.

Demikian dikemukakan Hendardi kepada Redaksi di Jakarta seraya menambahkan, Pansel memang bukan alat pemuas ICW. Pansel mempertanggungjawabkan kerjanya pada Presiden, bukan pada ICW atau koalisi ini-itu.

“Mereka menyatakan publik tidak puas dengan 40 pilihan Pansel melalui seleksi test psikologi yang baru diumumkan. Mereka mengatasnamakan publik atas dasar hasil riset atau survey atau mereka baru menang Pemilu? Bisa serta merta dan dengan enteng mengatasnamakan public,” ujar anggota Pansel KPK 2019 ini.

Menurut aktifis senior ini, jika hanya ICW atau PuSAKO atau sedikit lembaga-lembaga semacam ini yang tidak puas, sudah sejak awal Pansel dibentuk mereka selalu nyinyir karena memang sangat mungkin memiliki vested interest.

“Dari mula bekerja Pansel mengundang mereka mendaftar untuk mencalonkan Capim KPK tapi sedikit atau malah hampir tidak ada yang maju. Ketika pihak lain maju mendaftar seperti polisi, jaksa atau hakim mereka sewot,” ujar Hendardi.

Menurut mantan Direktur YLBHI ini, menyangkut LHKPN yang mereka ributkan, sederhana jawabannya. Kenapa ketika seleksi tahun 2015 dan periode-periode sebelumnya ICW dkk tidak meributkan? Tidak ada persyaratan yang berbeda dari periode sebelum-sebelumnya.

“Ketika pendaftaran mereka disyaratkan membuat pernyataan tertulis diatas meterai akan menyerahkan LHKPN jika terpilih dan nanti jika terpilih syarat itu akan ditagih,” ujar Hendardi selanjutnya (Red).

AGUM GUMELAR : KHILAFAH LEBIH BERBAHAYA DARIPADA KOMUNIS
By: On:

AGUM GUMELAR : KHILAFAH LEBIH BERBAHAYA DARIPADA KOMUNIS

Foto: Agum Gumelar, sumber foto: Id.wikipedia.org

 

Stramed,  Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar mengungkapkan, kekuatan Pancasila saat ini tengah digoyang sekelompok masyarakat yang ingin sistem khilafah diterapkan di Indonesia.

Gerakan mereka sangat sistematis sehingga perlu diwaspadai.
Saking besarnya ancaman tersebut, Agum yang saat ini sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) mengaku lebih khawatir menghadapi penyebaran khilafah dibandingkan marxisme komunis. Alasannya, kecil kemungkinan PKI bisa bangkit lagi karena sudah ada payung hukum yang melarang keras penyebaran paham komunis di Indonesia.

Dia melihat kampus harus punya imun yang kuat untuk menghadapi paham-paham yang ingin menggantikan kekuatan Pancasila. “Marxisme komunis, kapitalisme, radikalisme, dan khilafah sangat berbahaya. Namun, saya tidak terlalu khawatir dengan Marxisme ini karena sudah ada Tap MPRS 25 Tahun 1966.

Yang jadi ancaman besar sekarang adalah upaya menggantikan NKRI dengan khilafah. Ini harus jadi perhatian kita bersama termasuk dunia pendidikan, sekolah dan kampus,” tutur Agum usai memberikan pembekalan kepimpinan tentang ketahanan nasional dan bela negara di Kampus Universitas Terbuka (UT), Kamis 1 Juli 2019.

Menurut Agum, penyebaran paham khilafah sangat rapi dan sistematis. Semuanya disasar dengan cara beragam. Di sini perlu kesadaran masyarakat termasuk akademis. Makanya diberikan pembekalan wawasan kebangsaan dan bela negara di lingkungan kampus agar bisa membentengi diri. Kalau daya tangkal masyarakat termasuk dunia kampus kurang, paham tersebut bisa saja masuk.

“Makanya sangat penting ada pembekalan kepimpinan seperti yang dilakukan UT. Di mana seluruh dekan, dosen, dan staf ikut dalam kegiatan tersebut agar bisa memberikan pendidikan kepada anak didiknya untum bisa membentengi diri,” terangnya.

Dengan jumlah mahasiswa 320 ribu, lanjut Agum, UT adalah perguruan tinggi yang sangat strategis untuk mengawal bangsa ini. Membantu negara dalam menjaga kekuatan Pancasila.
Sementara itu, praktisi hukum dan pemerhati politik di Jakarta, Airla mengatakan, pasca Pilpres 2019, Presiden Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputri tidak ingin selalu dinilai sebagai anti Islam atau Islamophobia, karena bagaimanapun juga suara Islam masih sangat diperlukan pada Pilpres 2024. “Oleh karena itu, orang-orang atau tokoh-tokoh yang diduga menyebabkan Jokowi atau Megawati akan dinilai anti Islam cenderung tidak akan dipakai lagi atau dipinggirkan,” ujarnya seraya menambahkan, kemungkinan besar LGBT, Syiah, Islamophobia dan LGBT akan berkembang pesat jika tidak dicegah oleh Jokowi (Red).

Radikalis Anggap Jokowi Abu Jahal Masa Kini, Wajib Ditumbangkan
By: On:

Radikalis Anggap Jokowi Abu Jahal Masa Kini, Wajib Ditumbangkan

Foto:  Ilustrasi, sumber foto: Istimewa

 

Stramed,  Salah satu paham yang diajarkan oleh kelompok radikal kepada para anggotanya adalah menganggap kondisi hari ini Jahiliyah sama seperti kondisi negara mekah ketika di pimpin oleh Amr Bin Hisyam alias Abu Jahal.

Amr bin Hisyam alias Abu Jahal adalah salah seorang pemimpin penduduk Mekkah, yang terkenal akan permusuhannya terhadap kaum Muslim.

Pendiri NII Crisis Center yang juga merupakan mantan aktivis NII, Ken Setiawan juga mengamini bahwa pada saat ia bergabung juga diajarkan bahwa kondisi hari ini dianggap jahiliyah dama seperti kondisi mekah saat di pimpin oleh Abu Jahal.

Kenapa kok jaman masakini dianggap jahiliyah dan presiden dianggap Abu Jahal? Walaupun cerdik dan pintar tapi radikalis anggap jokowi ingkar terhadap ayat Allah dan bahkan memusuhi umat Islam dengan mengkriminalisasi beberapa ulama panutan radikalis.

Kelompok radikalis menganggap presiden dan pemerintahan dzalim, aparatnya mengkriminalisasi tokoh agama, orang yang hendak mendirikan negara Islam ditangkap dan dipenjarakan.

Jokowi juga dianggap Abu Jahal masakini karena dianggap pemerintahan dibawah jokowi telah melawan hukum Allah, misalnya ada minuman keras legal dan tersebar di toko toko berarti pabriknya di ijinkan pemerintan fan otomatis pemerintah juga melawan hukum Allah sebab minuman keras dilarang dalan agama Islam.

Kelompok radikalis akan dengan segala upaya akan menggulingkan pemerintahan Jokowi dan hari ini apapun nama organisasinya asal sama sama anti terhadap pemerintah maka kini mereka bersatu dalam aksi.

Kelompok radikalis yakin bila pemerintahan jokowi tumbang maka mereka akan mengganti sistem negara dengan Khilafah atau negara Islam yang menurut mereka adalah Janji Allah untuk diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Ken mengatakan bahwa kelompok radikalis yang menganggap Jokowi sebagai Abu Jahal masakini sudah cukup banyak di Indonesia, tersebar di seluruh provinsi, masyarakat harus waspada.

Perekrutan radikalis sangat masif, bukan hanya kalangan sipil, tapi dikalangan aparat dan pemerintahan juga banyak yang terpapar paham radikalis tersebut, bila tidak dicegah maka mereka akan terus membesar dan dapat membahayakan kedaulatan bangsa. Tutup Ken.

Hotline NII Crisis Center
Pengaduan Whatsapp 08985151228

Sumber http://kamtibmasnkri.com/2019/08/01/radikalis-anggap-jokowi-abu-jahal-masakini-wajib-ditumbangkan/

Boleh di share/ bagikan

Ken Setiawan: Monster Perongrong Pancasila Kini Berbaju Agamis
By: On:

Ken Setiawan: Monster Perongrong Pancasila Kini Berbaju Agamis

Foto: Ken Setiawan, sumber foto: Tribunnews.com

 

Jayakartapos,  Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center yang juga merupakan mantan aktifis kelompok radikal Ken Setiawan menyoroti persebaran kelompok radikal dan anti Pancasila yang kini dianggap sudah sangat terstruktur masif dan sistematis masuk di semua lini masyarakat.

Bahkan persebaran kelompok anti Pancasila sudah masuk dalam pendidikan anak usia dini (paud). Faktanya kini banyak anak anak sampai usia dini secara masif diajarkan untuk intoleransi, tidak menerima perbedaan, tidak mau bergaul dengan teman yang beragama lain, bahkan ada yang tidak mau berteman dengan yang seagama karena berbeda pakaian tidak islami, menganggap hanya kelompoknya saja yang benar, sementara kelompok lain salah, bahkan diajarkan untuk jihad sampai mati alias membunuh atau bunuh diri.

Tidak sedikit orang tua yang melarang agar anaknya bergaul dengan orang di luar agamanya dengan alasan kafir, bahkan guru dan kepala sekolah juga ada yang mengarahkan agar tidak lagi mewajibkan upacara dna hormat bendera di sekolahnya karena dianggap sama saja hormat kepada taghut/ berhala Pancasila yang diartikan sama sama dengan menyekutukan Allah.

Ken Setiawan mencohtohkan salah satu modus yang mudah di dapatkan adalah lewat sebuah lagu yang tanoa sadar banyak masyarakat mengikuti dnman menyanyikan yaitu lagu “Tepuk Anak Soleh”

Sepintas menurut Ken tidak ada yang aneh, tapi bila di dengarkan dengan seksama pasti ada yang aneh.

Berikut lirik lagu “Tepuk Anak Soleh”

Aku prok.prok..prok .. Anak Sholeh prok.. 3x

Rajin Sholat prok..3x Rajin ngaji Prok..3x

Cinta Islam prok..3x Sampai Mati.

Lailaahaillallah,muhammadu rasululloh

Islam.. Islam yes…kafir,kafir No…

Ada kata kata Islam Yes, Kafir No, dan Cinta Islam sampai mati.

Apalagi beberapa guru menurut Ken, dalam menyanyikan lagu dengan gerakan tangan, pada lagu Cinta Islam Sampai mati dengan gestur tangan di leher seperti memenggal kepala yang dapat di artikan jihad cinta Islam itu sampai mati dengan membunuh atau bunuh diri. Ini sangat berbahaya.

Ken Setiawan juga menyoroti adanya film kartun anak Nussa dan Rara yang menurutnya sangat digandrungi oleh para pengagum khilafah, bahkan dijadikan salah satu rekomendasi dan film kartun terbaik versi pendukung khilafah karena dalam film itu pakaiannya gamis, celana cingkrang dan hijab.

Tapi menurut Ken itu adalah pola arabisasi dan sebuan doktrin baru untuk anak anak bahwa pakaian yang ideal adalah pakaian gamis, cingkrang dan hijab sebab dalam film kartun tersebut aktor berbusana dari bangun tidur sampai tidur kembali menggunakan pakaian tersebut, hal itu berdampak pada psikologi anak karena bila tidak berpakaian seperti dianggap tidak ideal dan jauh dari Islam.

Film Nussa dan Rara juga di dukung oleh bos toko online bukalapak yang beberapa waktu yang lalu cukup fenomenal dan kontradiktif karena mengkritik Jokowi dan singggung keinginan Presiden baru. Bahkan para tokoh yang turut mengkampanyrkan HTI seperti Felix Siaow juga gencar sosialisasikan film Nussa dan Rara Tersebut lewat media sosialnya.

Beberapa fenomena tersebut menurut Ken bukalah kemajuan, tapi justru merupakan kemunduran sebab pola intoleransi justru akan membuat potensi perpecahan di kalangan masyarakat itu sendiri, Tambah Ken.

Bagi Ken, Pancasila sudah Final dan merupakan kesepakan bersama seperti halnya Piagam Madinah ketika jaman Nabi Muhammad SAW.

Jadi bila ada yang mengatakan Pancasila itu sebagai taghut/ berhala dipastikan bahwa orang itu telah terinfeksi paham radikal dan bila orang sudah terpapar maka akan membahayakan lingkungannya, sebab kelompok anti Pancasila ini tidak diam saja, mereka dengan sangat masif juga mengajarkan faham mereka ke masyarakat sampai lingkungan sekitar mengikutinya.

Saran Ken Setiawan kepada masyarakat bila ada ajakan untuk anti Pancasila agar segera melapotkan ke aparat terdekat, Bhabin Kamtibmas atau Bhabinsa agar segera di tindak lanjuti sesuai hukum yang berlaku.

Orang atau organisasi masyarakat yang menolak atau anti terhadap pancasila itu melanggar hukum dan bisa dipenjara yaitu dengan Pasal 82A ayat (1) dan ayat (2) UU Ormas

(1) Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) huruf c dan huruf d dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 1 tahun.

(2) Setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3) huruf a dan huruf b, dan ayat (4) dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun.

Tidak perlu takut untuk melaporkan kepada aparat bila ada indikasi di lingkungan ada yang menyebarkan, laporkan saja virus anti Pancasila agar tidak menyebar luas di lingkungan masing masing.

Kita harus kritis dan waspada bahwa, berpakaian agamis dan membawa kitab suci tidak salah memang, tapi tidak semua yang berpakaian agamis dan membawa kita suci itu benar, dan ini menjadi pelajaran buat kita semua karena jaman dahulu dalam sejarah, Sayyidina Ali R.A itu meninggal dan dibunuh oleh seorang Ibnu Muljam yang berpaian agamis dan bahkan hafiz Alquran. Jadi kita harus waspada tapi jangan sampai pobia terhadap agama, apalagi sampai melarang anak untuk belajar agama yang nanti otomatis anak bila jauh dari agama akan dekat dengan pergaulan bebas, narkoba dll.

NII Crisis Center membuka pengaduan masyarakat terkait paham radikal dan anti Pancasila di hotline whatsapp 08985151228, tutup Ken (Red)