BERBUAT BUKAN BICARA

Berita Nasional
Foto: Andi Naja FP Paraga (Penulis)

oleh : Andi Naja FP Paraga

Jayakartapos, Christopher Columbus dikenal sebagai Tokoh Penemu Benua Amerika dalam ceritanya ia menghadiri sebuah acara jamuan makan dimana ia akan mendapatkan penghargaan dari seorang Spanyol. Pada saat itulah Seseorang tiba-tiba melecehkan Penemuan Dunia baru oleh Columbus dengan mengatakan bahwa setiap orang pun dapat menemukan dunia baru itu. Menghadapi cercaan itu Columbus kemudian menantang semua orang yang hadir untuk membuat telur berdiri tanpa memegang.

Banyak orang mencoba tantangan tersebut namun gagal. Mereka kemudian berpendapat bahwa mustahil membuat telur berdiri tanpa memegang. Columbus kemudian mengambil telur sedikit memecahkan bagian bawah telur itu kemudian menaruh. Telur itu pun berdiri tanpa dipegang olehnya. Columbus kemudian berkata bahwa hal tersebut paling sederhana di dunia. Setiap orang dapat melakukannya setelah orang ditunjukkan bagaimana caranya.

Di Indonesia saya melihat ketika ada krisis biasanya hanya menyalahkan tanpa solusi apapun seperti kelakuan orang yang melecehkan Columbus dan ketika Columbus bisa membuktikan dia bisa berbuat,orang pun berkata,’ ah itu gampang’ dan pasti ada cacat yang dia sampaikan. ‘Telur memang bisa berdiri tapi mengapa harus dipecah bagian bawahnya. Hal ini sama seperti ketika Presiden Joko Widodo mendapatkan solusi stimulus Rp 405 Triliun dan menjual global bond,mereka pun berkata” ah itu gampang”. Tetapi mengapa harus berhutang.

Hal yang paling sederhana dalam hidup ini adalah berbuat bukan bicara tetapi yang sederhana itu susah bagi para pecundang. Karena itu kritik-kritik nyaris tidak ada maknanya. Demikian pula kritik mereka terhadap penanganan crisis karena Virus Corona dan Omnibus Law yang berbentuk Rancangan Undang undang Cipta Kerja (RUU Caket) banyak yang memberi kritik tapi sedikit sekali yang memberikan Solusi apalagi dengan menyediakan draft Sandingan. Pemerintah dan DPR RI pun menjadi sasaran kritik sehingga muncul istilah Rezim yang memaksakan kehendak dan berbagai julukan sinis lainnya. Kalau berbuat adalah hal sederhana didunia tidak bisa ia lakukan apalagi untuk melakukan hal besar.

Christopher Columbus dan pengeritiknya adalah contoh untuk menggambarkan situasi di Republik Indonesia tercinta. Banyaknya orang cerdas yang semestinya bisa menjadi Christophe Columbus untuk negerinya justru hanya memposisikan diri sebagai pengeritik padahal pemerintah telah sangat terbuka untuk menerima gagasan-gagasan besar tanpa pandang waktu. Rezim saat ini sangat akomodatif dan demokratis tetapi tetap saja ada yang menuduhnya Otoriter dan memaksakan kehendak.

Jadilah Christopher Columbus bagi Indonesia karena NKRI adalah rumah kita bersama. Berkumpulnya pesaing pilpres dalam Pemerintahan saat ini adalah bentuk terobosan yang baru bagi Indonesia dan langkah Strategis mempersatukan gagasan dan kerja untuk Indonesia. Sesungguhnya Strategi ini tak kalah besar dari apa yang ditemukan Seorang Christopher Columbus walaupun nasibnya sama yaitu sama-sama menjadi Korban Kritik (ANFPP)

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.