Berlindung kepada Allah dari ditutup-rapatnya Hati (QS. al Baqoroh [2]: 6-7) Bagian ke-1

Berita
﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ۝ (البقرة[٢]:٦-٧)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mau beriman itu sama saja atas mereka, mau engkau ancam mereka ataupun engkau tidak ancam mereka, tidak akan mereka beriman • Allah telah materaikan atas hati-hati mereka;  dan atas pendengaran mereka dan atas penglihatan-penglihatan mereka ada tutupan. Dan adalah bagi mereka adab yang besar • (QS. al Baqoroh [2]: 6-7)
Tafsir Jalalain
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا
Orang-orang yang kafir seperti halnya Abu jahal, Abu Lahab, dan orang-orang seperti mereka.
سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ
Lafadz _a, andzartahum_bisa dibaca dengan dua hamzah (أَأَ) atau hamzah yang kebdua diganti alif  dan dibaca ringan (َأَا)
أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُون
Sama saja bagi mereka, diberi peringatan ataupun tidak. Mereka tidak akan beriman karena Allah Maha Mengetahui tentang mereka. Karena itu, janganlah kamu terlalu berharap mereka akan beriman.
Yang dimaksud dengan _indzar = peringatan, itu adalah pemberitahuan disertai ancaman.
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ
Allah menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan.
وَعَلَىٰ سَمْعِهِم
Menutup alat pendengaran mereka sehingga kebenaran yang mereka dengar tidak akan berguna.
وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ
Menutup mata mereka sehingga mereka tidak bisa melihat kebenaran
وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم
Dan bagi mereka siksa yang dahsyat lagi abadi.
Siroh Nabawi :
Dakwah yang dilakukan Nabi Saw. secara terang-terangan ditolak dan ditentang oleh kaum Quraisy, dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama yang telah mereka warisi dsri nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka.
Pada saat itulah Rosululloh Saw. mengingatkan mereka tentang perlunya membebaskan akal dan pikiran mereka dari belenggu taqlid. Selanjutnya dijelaskan oleh Nabi Saw. bahwa Tuhan-tuhan yang mereka sembah itu tidak dapat memberi manfaat atau menolak bahaya sama sekali. Tradisi nenek moyang mereka dalam menyembah tuhan-tujan itu tidak dapat dijadikan alasan kuat untuk diikuti, karena itu adalah taqlid buta.
Firman Allah Azza wa Jalla pada ayat lain menggambarkan bagaimana jawaban mereka dan kerasnya penolakan mereka.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (al Maidah [5]:104)
Ketika Nabi Saw. mencela Tuhan-Tuhan mereka, membodohkan mimpi-mimpi mereka, dan mengecam tindakan taqlid kepada nenek moyang mereka dalam menyembah berhala, mereka menentang nllnya dan sepakat untuk memusuhinya, kecuali pamannya Abu Tholib yang membelanya. (Fiqhus Siroh)
Allahu A’lam bish Showab.​
بارك الله لكم جميعا ونفعنا الله بالعلوم النافعة
MATAN IBNU MAJAH​
Majlis Ta’lim dan Kajian

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.