Category: Global

Trump Ancam Tutup Perbatasan Dengan Meksiko Minggu Depan
By: On:

Trump Ancam Tutup Perbatasan Dengan Meksiko Minggu Depan

Jayakartapos, Presiden Donald Trump mengancam akan menutup perbatasan selatan atau sebagian besar perbatasan, jika Meksiko tidak menghentikan imigran yang menyeberang ke AS tanpa otorisasi, dan ini akan dilakukan minggu depan, ujarnya Jum’at (29/03).

Melansir dari ABC News, Trump sepanjang hari mengulangi ancamannya dan mengatakan dia “tidak main-main” sambil berjanji untuk menutup perbatasan Selatan “untuk waktu yang lama” jika Meksiko tidak bertindak mencegah orang menyeberangi perbatasan ke Amerika Serikat.

Meksiko dapat menghentikannya tepat di perbatasan selatan mereka, ujar Trump kepada wartawan, Jumat (29/03). “Mereka memiliki perbatasan selatan dan mereka memiliki perbatasan yang dapat diatur dengan sangat baik.”

Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador, dalam sebuah acara di Veracruz, Jumat malam (29/03) mengatakan, bahwa dia tidak secara khusus membahas penutupan perbatasan, tetapi mendukung diplomasi.

“Kami telah memberi tahu Presiden Trump sendiri bahwa cara terbaik untuk menangani fenomena migrasi adalah menciptakan lapangan kerja dan memiliki kesejahteraan di Amerika Tengah dan Meksiko dan inilah cara kami memecahkan masalah, tidak dengan cara lain ujar Lopez Obrador, seperti yang dilansir dari ABC News.

Otoritas perbatasan AS memperkirakan jumlah imigran tidak berdokumen yang berhenti di perbatasan selatan dapat mencapai 1 juta pada akhir tahun, dan berpotensi dua kali lipat level tahun lalu serta meningkat 140 persen dibandingkan tahun pertamanya di kantor.

Ini bukan pertama kalinya Trump mengancam akan menutup perbatasan selatan. Setelah gelombang imigran berusaha memasuki San Diego pada November 2018, presiden merespons dengan ancaman serupa.(Icha)

Indonesians People Did Not Want ISIS Members Come Back To Indonesia
By: On:

Indonesians People Did Not Want ISIS Members Come Back To Indonesia

 

Jayakartapos, Indonesians taking refuge at the Kurdish-run Al-Hol camp in Al-Hasakah, Syria, are begging to come home because supplies are starting to run out.

Mariam Abdullah, one of about 50 Indonesians in the camp, asked for help so that she and her family can return to Indonesia in a two-minute video posted on Indonesian online news outlet Tirto.id. “We are asking for help so we can return home,” Mariah said as quoted by Tirto.id.

Indonesians taking refuge at the Kurdish-run Al-Hol camp in Al-Hasakah, Syria, are begging to come home because supplies are starting to run out.

Mariam Abdullah, one of about 50 Indonesians in the camp, asked for help so that she and her family can return to Indonesia in a two-minute video posted on Indonesian online news outlet Tirto.id. “We are asking for help so we can return home,” Mariah said as quoted by Tirto.id.

Mariam claimed that she, her husband and four children were from Bandung, West Java.

She said she and her children had fled the village of Baghouz two days prior to the interview with the online news outlet. Mariam told the reporter, Afshin Ismaeli, that her husband, Saifuddin, was missing.

A recent update from the World Health Organization (WHO) revealed that there were approximately 67,000 internally displaced people who resided in the camp as of March 14. This number is exceeding the original capacity of the camp, which was initially designed to hold 10,000 people.

Due to the unexpected number of incoming arrivals, there has been a shortage of health-care services in the area, which has resulted in the refugees suffering from hypothermia and various communicable diseases. As of March 14, the organization recorded 120 deaths in the camp, in which 80 percent of the casualties are children under 5 years old.

Despite of the camp’s alarming state, many Indonesian netizens showed no sympathy for Mariam as well as the other Indonesians who are suffering the same fate as her.
One Twitter user, @rizamsyafiq, questioned why they joined the Islamic State group in the first place.

“They made a conscious decision to go there, betrayed the nation in the process, and are begging to come home after the Islamic State group lost. I only have one thing to tell them: suck it,” he wrote on his account on Thursday. Another user, @qlytooq, blatantly told them not to come back to Indonesia. “Enjoy the paradise that you wanted, don’t ever come back to Indonesia.” he wrote (https://www.thejakartapost.com/news/2019/03/29/is-sympathizers-from-indonesia-want-to-come-home-amid-dire-conditions-in-camp).

Meanwhile, an international issues observer, Wildan Nasution in Pekanbaru, Riau said after Islamic State had completely been defeated by Syria’s military (SDF) which was backed up by the United States, several countries which have their citizens who had joined as ISIS symphatizers or members, have same problems because they want to come back to their country including Indonesia.

“I think the political stance of Indonesia’s government on this matter has been clear that we are not permit their come back to their homeland, because many of Indonesian’s people have been worried if ISIS symphatizers have given permit to come back, they have other chance to spread their radical values among our society,” Wildan said (Red).

White Nationalism And Semetism Are Dangerous Terrorist
By: On:

White Nationalism And Semetism Are Dangerous Terrorist

By : Toni E

One times again, US President, Trump has made blunder statement on case of mosque in New Zealand. Trump said white nationalist is not a rising threat after a white nationalist kills 50 in mosque attacks. Those statement has been countered by Rashida Tlaib, Muslim Senator from Democrat Party. I think Rashida’s opinion is true.

Brenton “the butcher and slaughter” Tarrant who had been brutality killed muslim worship in New Zealand, had made statement that he had white supremacy ideology who were worried about the influx of muslim immigrant and muslim influences around the world.

I think the rise of white nationalism and semetism would be endangered human kind existences around the world. After 911 attacks in New York and Pentagon, white supremacy ideology and agenda including semetism are global common enemy. Those disease has been replacing and maybe cooperate with global terror cells to make abraupt and deadly damage which can rise global uncertainty situation and global tensions will harm up.

Locally and globally, mosque attacks in New Zealand has been politicizing by politician including in Indonesia eventhough the government had given warning to do not spreading “Tarrant’s dotard action” video. In the US, several senator from Democrat have been condemned President Trump who did not show big condolence gimmick on brutal and uncivilized Tarrant’s action. Indeed, Rashida Tlaib, one of muslim senator democrat had been warned that she was worried about rising white ideologyst in US which has been reflected as Islamo phobia.

I think all of countries around the world must be together to crush “global disease” such as terrorism, semetism, white supremacy, neo Nazi etc because all of those can break global peace climate.

The writer is global issues observer.

Save Uighur, Kumpulkan Sumbangan, Salah Jokowi Lagi
By: On:

Save Uighur, Kumpulkan Sumbangan, Salah Jokowi Lagi

By Eko Kuntadhi

Jayakartapos,  “Hore ada isu baru lagi,” mereka bersorak gembira. Dengan memainkan isu ini bisa dapat sumbangan besar. Bisa juga digunakan menuding pemerintah. Bisa memobilisasi umat Islam yang kebelet jihad.

Maka isu muslim Uighur di China didengung-dengungkan. Sebentar lagi akan ada gerakan #SaveUighur, lalu spanduk permohonan sumbangan beredar di jalan-jalan. Menjual penderitaan atas nama agama. Gambar-gambar wajah anak yang sengsasa dibentangkan, di bawahnya tertera nomor rekening dengan font yang besar. Duit bakalan terkumpul banyak. Cihuiii.

Bagi kelompok politik pembenci, isu Uighur ini lumayan keren. Mereka akan memainkan isu ini untuk menimbulkan sentimen anti Cina. Menggelar demo besar-besaran seperti membela agama. Karena muslim Uighur memang berhadapan dengan pemerintah Tiongkok. Tujuannya membentuk persepsi rasial disini.

Sebagian ada yang menuding Jokowi. Kenapa gak membela Uighur? Mau belain pemerintah China, ya? Gak bersimpati pada umat Islam, ya? PKI, ya? Busyet, urusan yang terjadi luar negeri, yang kena Jokowi lagi.

Padahal kemarin di Poso, beberapa teroris yang tertangkap ternyata berasal dari Uighur. Mereka masuk ke Indonesia untuk membuat kekacauan. Targetnya membunuhi aparat. Bikin kerusuhan dan mencari korban sebanyak-banyaknya.

Teroris Uighur bukan hanya ada di Poso. Juga ada di Mindanao, bergabung dengan Abu Sayaf, menculik pelaut kita minta uang tebusan. Yang masuk ke Suriah atau Irak bahkan lebih banyak lagi. Diperkirakan 100 ribu lebih, orang Uighur masuk ke Suriah, membantu Alqaedah menghancurkan negeri itu. Mereka masuk melalui Turki.

Seorang teroris asal Uighur di Suriah, dalam wawancara dengan AP, pernah berkata. “Kami hanya mau belajar memegang senjata. Belajar perang. Setelah itu kami akan kembali ke China untuk memerdekakan wilayah kami.”

Nah, lho. Terus kamu pikir dengan semangat sparatis begitu pemerintah China wajib mengelus-elus mereka?

Warga Uighur tinggal di daerah Xinjiang. Tapi mereka lebih mengidentifikasi dirinya sebagai suku Turk, berkomunikasi dengan bahasa Turki. Sebagian besar tidak bisa bahasa Mandarin. Secara kebudayaan juga jauh berbeda dengan etnis Han, yang merupakan etnis terbesar Tiongkok.

Xinjiang adalah wilayah China yang berbatasan dengan banyak negara. Sebut saja Kazakhstan, Tajikistan, Rusia, Mongol, Pakistan, Afganistan dan India. Nah, sebagian orang Uighur mendirikan sebuah gerakan sparatis yang dinamakan East Turkestan Islamic Movement (ETIM). Tujuan gerakan ini melepaskan diri dari China, dengan slogan agama sebagai alasannya.

Kelompok ETIM inilah yang berdekatan dengan Alqaedah, Taliban bahkan ISIS. Sebagian tentara teroris disuplai oleh orang dari Uighur. Bahkan di China sendiri beberapa kali terjadi aksi teroris yang didalangi ETIM yang ujungnya menyebabkan konflik rasial, khususnya dengan suku Han.

Nah, karena persoalan inilah pemerintah China mengawasi orang-orang Uighur secara ketat. Sebetulnya tidak semua penduduk Uighur radikal begitu. Hanya sebagian kecil saja. Tapi mereka memang terikat kekeluargaan dengan yang lain. Inilah yang membuat pemerintah China mencurigai keluarga-keluarga teroris yang masih berada di Xianjiang. Mereka yang keluarganya diketahui bergabung dengan teroris di Afganistan, Suriah, atau Irak akhirnya terkena dampak. Diawasi secara ketat.

Sebetulnya untuk menangani gerakan sparatis di Uighur, China sudah menjalankan kebijakan asimilasi. Anak-anak Uighur diajar bahasa Mandarin agar mereka bisa berkomunikasi dengan warga lain. Juga bekerja di pemerintahan. Mungkin juga didoktrin kembali dengan ideologi negara. Inilah yang menjadi isu soal kamp konsentrasi dimana jutaan warga Uighur wajib menjalani metode pembelajaran.

Tapi mungkin saja, dalam proses itu ada kekerasan. Sebab ada sentimen rasial dari suku Han yang sering menjadi korban kekerasan oleh ETIM tadi. Pengawasan pada gerakan ekstrim Uighur menyebabkan sebagian penduduknya mengalami tekanan pemerintah China.

Artinya China lebih berkepentingan menangani gerakan sparatis yang membahayakan wilayahnya ketimbang memberangus warganya yang beragama Islam.

Sebab, etnis Hui yang juga beragama Islam hidupnya biasa saja di China. Masjid dan mushola banyak berdiri. Acara keagamaan bebas dilaksanakan. Tidak ada tekanan terhadap aktifitas ibadah mereka. Islam etnis Hui bebas berkembang di China.

Karena orang Hui tidak bermimpi untuk mengibarkan gerakan sparatis seperti Uighur. Corak keislaman etnis Hui mirip NU di Indonesia. Banyak mengikuti ajaran tarekat dan sufisme. Mereka menyatu dengan kebanyakan rakyat Tiongkok. Berbeda dengan etnis Uighur yang terimbas pola pikir ekstrimis.

Lalu kenapa isu Uighur sekarang meledak? Kita ingat, AS lagi angot-angotnya dengan China. Mereka terlibat perang dagang yang keras. Nah, isu Uighur ini bisa digunakan untuk menekan China. Meskipun mereka juga tahu, Uighur adalah salah satu supplier teroris dunia. Dengan diangkat isu Uighur ini, akan ada tekanan dunia internasional khususnya dari negara-negara Islam kepada China.

Sebetulnya pemerintah China punya andil juga menjadikan sebagian etnis Uighur bertindak radikal. Dulu saat Uni Sovyet menyerang Afganistan, China ikut membiayai Taliban untuk menahan ekspansi Sovyet. Sebagian pejuang Taliban juga berasal dari Uighur.

Seperti biasa, isu Uighur juga makanan empuk di Indonesia. Maka, ramai-ramai lah orang berteriak membela Uighur lalu menuding pemerintah China memerangi Islam. Mereka gak akan mengangkat semangat sparatisnya. Sama persis, mereka juga berteriak Save Aleppo, justru ketika para teroris sedang digencet pasukan Suriah di Aleppo.

China memang menangani agak keras etnis Uighur. Tapi kita tidak mendengar ada pembantaian. Berbeda dengan Saudi terhadap Yaman. Rakyat Yaman dibantai. Distop jalur makanannya. Dihujani bom. Jutaan anak Yaman kelaparan. Jutaan nyawa rakyat melayang. Masjid dan madrasah hancur di Yaman.

Tapi pernahkah kita mendengar slogan Save Yaman di Indonesia? Pernahkah kita mendengar protes AS di PBB atas aksi brutal koalisi Saudi di Yaman? Pernahkah ada demo kedutaan Saudi memprotes kebengisannya terhadap rakyat Yaman?

Gak pernah. Karena isu Yaman gak menguntungkan AS untuk dimainkan. Oleh sebab itu, isu tersebut juga gak direspon di Indonesia. Apalagi isu Yaman tidak bisa digunakan untuk menembak Jokowi.

“Warga Yaman, kan semua Islam, mas. Kenapa mereka gak membela? Toh, Yaman maupun Uighur sama-sama manusia. Mestinya kan dibela,” tanya Abu Kumkum.

“Mereka sebetulnya gak peduli pada Islam atau pada penderitaan manusia, Kum. Mereka hanya peduli pada agendanya saja.”

“Karena isu Yaman gak bisa digunakan untuk cari sumbangan, ya mas?”

Sumber :  www.ekokuntadhi.id