Category: Global

White Nationalism And Semetism Are Dangerous Terrorist
By: On:

White Nationalism And Semetism Are Dangerous Terrorist

By : Toni E

One times again, US President, Trump has made blunder statement on case of mosque in New Zealand. Trump said white nationalist is not a rising threat after a white nationalist kills 50 in mosque attacks. Those statement has been countered by Rashida Tlaib, Muslim Senator from Democrat Party. I think Rashida’s opinion is true.

Brenton “the butcher and slaughter” Tarrant who had been brutality killed muslim worship in New Zealand, had made statement that he had white supremacy ideology who were worried about the influx of muslim immigrant and muslim influences around the world.

I think the rise of white nationalism and semetism would be endangered human kind existences around the world. After 911 attacks in New York and Pentagon, white supremacy ideology and agenda including semetism are global common enemy. Those disease has been replacing and maybe cooperate with global terror cells to make abraupt and deadly damage which can rise global uncertainty situation and global tensions will harm up.

Locally and globally, mosque attacks in New Zealand has been politicizing by politician including in Indonesia eventhough the government had given warning to do not spreading “Tarrant’s dotard action” video. In the US, several senator from Democrat have been condemned President Trump who did not show big condolence gimmick on brutal and uncivilized Tarrant’s action. Indeed, Rashida Tlaib, one of muslim senator democrat had been warned that she was worried about rising white ideologyst in US which has been reflected as Islamo phobia.

I think all of countries around the world must be together to crush “global disease” such as terrorism, semetism, white supremacy, neo Nazi etc because all of those can break global peace climate.

The writer is global issues observer.

Save Uighur, Kumpulkan Sumbangan, Salah Jokowi Lagi
By: On:

Save Uighur, Kumpulkan Sumbangan, Salah Jokowi Lagi

By Eko Kuntadhi

Jayakartapos,  “Hore ada isu baru lagi,” mereka bersorak gembira. Dengan memainkan isu ini bisa dapat sumbangan besar. Bisa juga digunakan menuding pemerintah. Bisa memobilisasi umat Islam yang kebelet jihad.

Maka isu muslim Uighur di China didengung-dengungkan. Sebentar lagi akan ada gerakan #SaveUighur, lalu spanduk permohonan sumbangan beredar di jalan-jalan. Menjual penderitaan atas nama agama. Gambar-gambar wajah anak yang sengsasa dibentangkan, di bawahnya tertera nomor rekening dengan font yang besar. Duit bakalan terkumpul banyak. Cihuiii.

Bagi kelompok politik pembenci, isu Uighur ini lumayan keren. Mereka akan memainkan isu ini untuk menimbulkan sentimen anti Cina. Menggelar demo besar-besaran seperti membela agama. Karena muslim Uighur memang berhadapan dengan pemerintah Tiongkok. Tujuannya membentuk persepsi rasial disini.

Sebagian ada yang menuding Jokowi. Kenapa gak membela Uighur? Mau belain pemerintah China, ya? Gak bersimpati pada umat Islam, ya? PKI, ya? Busyet, urusan yang terjadi luar negeri, yang kena Jokowi lagi.

Padahal kemarin di Poso, beberapa teroris yang tertangkap ternyata berasal dari Uighur. Mereka masuk ke Indonesia untuk membuat kekacauan. Targetnya membunuhi aparat. Bikin kerusuhan dan mencari korban sebanyak-banyaknya.

Teroris Uighur bukan hanya ada di Poso. Juga ada di Mindanao, bergabung dengan Abu Sayaf, menculik pelaut kita minta uang tebusan. Yang masuk ke Suriah atau Irak bahkan lebih banyak lagi. Diperkirakan 100 ribu lebih, orang Uighur masuk ke Suriah, membantu Alqaedah menghancurkan negeri itu. Mereka masuk melalui Turki.

Seorang teroris asal Uighur di Suriah, dalam wawancara dengan AP, pernah berkata. “Kami hanya mau belajar memegang senjata. Belajar perang. Setelah itu kami akan kembali ke China untuk memerdekakan wilayah kami.”

Nah, lho. Terus kamu pikir dengan semangat sparatis begitu pemerintah China wajib mengelus-elus mereka?

Warga Uighur tinggal di daerah Xinjiang. Tapi mereka lebih mengidentifikasi dirinya sebagai suku Turk, berkomunikasi dengan bahasa Turki. Sebagian besar tidak bisa bahasa Mandarin. Secara kebudayaan juga jauh berbeda dengan etnis Han, yang merupakan etnis terbesar Tiongkok.

Xinjiang adalah wilayah China yang berbatasan dengan banyak negara. Sebut saja Kazakhstan, Tajikistan, Rusia, Mongol, Pakistan, Afganistan dan India. Nah, sebagian orang Uighur mendirikan sebuah gerakan sparatis yang dinamakan East Turkestan Islamic Movement (ETIM). Tujuan gerakan ini melepaskan diri dari China, dengan slogan agama sebagai alasannya.

Kelompok ETIM inilah yang berdekatan dengan Alqaedah, Taliban bahkan ISIS. Sebagian tentara teroris disuplai oleh orang dari Uighur. Bahkan di China sendiri beberapa kali terjadi aksi teroris yang didalangi ETIM yang ujungnya menyebabkan konflik rasial, khususnya dengan suku Han.

Nah, karena persoalan inilah pemerintah China mengawasi orang-orang Uighur secara ketat. Sebetulnya tidak semua penduduk Uighur radikal begitu. Hanya sebagian kecil saja. Tapi mereka memang terikat kekeluargaan dengan yang lain. Inilah yang membuat pemerintah China mencurigai keluarga-keluarga teroris yang masih berada di Xianjiang. Mereka yang keluarganya diketahui bergabung dengan teroris di Afganistan, Suriah, atau Irak akhirnya terkena dampak. Diawasi secara ketat.

Sebetulnya untuk menangani gerakan sparatis di Uighur, China sudah menjalankan kebijakan asimilasi. Anak-anak Uighur diajar bahasa Mandarin agar mereka bisa berkomunikasi dengan warga lain. Juga bekerja di pemerintahan. Mungkin juga didoktrin kembali dengan ideologi negara. Inilah yang menjadi isu soal kamp konsentrasi dimana jutaan warga Uighur wajib menjalani metode pembelajaran.

Tapi mungkin saja, dalam proses itu ada kekerasan. Sebab ada sentimen rasial dari suku Han yang sering menjadi korban kekerasan oleh ETIM tadi. Pengawasan pada gerakan ekstrim Uighur menyebabkan sebagian penduduknya mengalami tekanan pemerintah China.

Artinya China lebih berkepentingan menangani gerakan sparatis yang membahayakan wilayahnya ketimbang memberangus warganya yang beragama Islam.

Sebab, etnis Hui yang juga beragama Islam hidupnya biasa saja di China. Masjid dan mushola banyak berdiri. Acara keagamaan bebas dilaksanakan. Tidak ada tekanan terhadap aktifitas ibadah mereka. Islam etnis Hui bebas berkembang di China.

Karena orang Hui tidak bermimpi untuk mengibarkan gerakan sparatis seperti Uighur. Corak keislaman etnis Hui mirip NU di Indonesia. Banyak mengikuti ajaran tarekat dan sufisme. Mereka menyatu dengan kebanyakan rakyat Tiongkok. Berbeda dengan etnis Uighur yang terimbas pola pikir ekstrimis.

Lalu kenapa isu Uighur sekarang meledak? Kita ingat, AS lagi angot-angotnya dengan China. Mereka terlibat perang dagang yang keras. Nah, isu Uighur ini bisa digunakan untuk menekan China. Meskipun mereka juga tahu, Uighur adalah salah satu supplier teroris dunia. Dengan diangkat isu Uighur ini, akan ada tekanan dunia internasional khususnya dari negara-negara Islam kepada China.

Sebetulnya pemerintah China punya andil juga menjadikan sebagian etnis Uighur bertindak radikal. Dulu saat Uni Sovyet menyerang Afganistan, China ikut membiayai Taliban untuk menahan ekspansi Sovyet. Sebagian pejuang Taliban juga berasal dari Uighur.

Seperti biasa, isu Uighur juga makanan empuk di Indonesia. Maka, ramai-ramai lah orang berteriak membela Uighur lalu menuding pemerintah China memerangi Islam. Mereka gak akan mengangkat semangat sparatisnya. Sama persis, mereka juga berteriak Save Aleppo, justru ketika para teroris sedang digencet pasukan Suriah di Aleppo.

China memang menangani agak keras etnis Uighur. Tapi kita tidak mendengar ada pembantaian. Berbeda dengan Saudi terhadap Yaman. Rakyat Yaman dibantai. Distop jalur makanannya. Dihujani bom. Jutaan anak Yaman kelaparan. Jutaan nyawa rakyat melayang. Masjid dan madrasah hancur di Yaman.

Tapi pernahkah kita mendengar slogan Save Yaman di Indonesia? Pernahkah kita mendengar protes AS di PBB atas aksi brutal koalisi Saudi di Yaman? Pernahkah ada demo kedutaan Saudi memprotes kebengisannya terhadap rakyat Yaman?

Gak pernah. Karena isu Yaman gak menguntungkan AS untuk dimainkan. Oleh sebab itu, isu tersebut juga gak direspon di Indonesia. Apalagi isu Yaman tidak bisa digunakan untuk menembak Jokowi.

“Warga Yaman, kan semua Islam, mas. Kenapa mereka gak membela? Toh, Yaman maupun Uighur sama-sama manusia. Mestinya kan dibela,” tanya Abu Kumkum.

“Mereka sebetulnya gak peduli pada Islam atau pada penderitaan manusia, Kum. Mereka hanya peduli pada agendanya saja.”

“Karena isu Yaman gak bisa digunakan untuk cari sumbangan, ya mas?”

Sumber :  www.ekokuntadhi.id

Surat Terbuka Untuk HMI Yang Unjuk Rasa Bela Muslim Uighur Di Cina
By: On:

Surat Terbuka Untuk HMI Yang Unjuk Rasa Bela Muslim Uighur Di Cina

oleh Novi Basuki, santri yang kini terdaftar sebagai Mahasiswa Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina
Jayakartapos, Santri yang lagi kuliah di Cina ini bikin surat terbuka untuk sahabat-sahabat HMI yang melakukan demo ke Kedutaan Besar Cina di Jakarta soal bela muslim Uighur.
Oke, jadi begini.
Disebabkan kakanda dan ayunda sekalian sudah ngegas duluan dengan menggelar unjuk rasa serempak di beberapa kota wabil khusus di Kedutaan Besar Cina di Jakarta, saya merasa tak perlu untuk banyak berbasa-basi di surat ini. Saya mau langsung ke pokok permasalahan saja.
Begini. Ada satu kalimat dalam Kitab Han (Han Shu) susunan Ban Gu (32–92) yang berbunyi: “Bai wen bu ru yi jian.”
Terjemahan ugal-ugalannya: “Informasi yang didapat dari mendengar penuturan orang sebanyak seratus kali, keakuratannya akan kalah dengan yang diperoleh dari melihat sendiri meski cuma sekali.”
Saya tiba-tiba kepikiran wejangan tersebut sehabis membaca berita berisi pernyataan kakanda Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (Ketum PB HMI) yang bilang kaum Uighur di Xinjiang “dilarang beragama” oleh Pemerintah Cina.
Terus terang saya kaget dibuatnya. Awalnya saya kira medianya yang salah kutip. Eh, setelah saya menemukan video di Youtube, ternyata kakanda Ketum PB HMI memang mengatakan begitu dalam orasinya yang heroik di depan gedung Kedubes Cina, kemarin (18/12).
Saya jadi pengin tahu dari mana sebenarnya kakanda Ketum PB HMI mendapatkan informasi itu? Semoga bukan dari Ibu Ratna Sarumpaet ya?
Bukan apa. Sependek dan sesempit pengetahuan saya yang sejak 2010 menimba ilmu di Cina, saya tidak pernah tahu kalau Pemerintah Cina sampai melarang warganya dari suku mana pun untuk menganut agama apa saja yang hendak diimani.
Mau memeluk agama yang mesiasnya bernama Hulaihi Wasalam—umpamanya—ha monggoh. Tak akan ada masalah. Konstitusi Cina menjaminnya.
Makanya, kalau kakanda Ketum PB HMI lagi selo, saya sarankan membaca soal jaminan kebebasan beragama ini dalam Undang-Undang Dasar Cina Bab 2 Pasal 36. Agar nggak ganggu jadwal demo kakanda Ketum PB HMI yang padat merayap, saya bantu kutipkan sekaligus alihbahasakan di sini:
Warga negara Cina mempunyai kebebasan beragama. Instansi negara, kelompok masyarakat, dan perorangan tidak boleh memaksa warga negara untuk menganut agama atau tidak menganut agama.
Tidak boleh mendiskriminasi warga negara yang menganut agama dan yang tidak menganut agama. Negara melindungi aktivitas keagamaan yang normal (zhengchang de zongjiao huodong). Siapa pun tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat merusak ketertiban sosial, merugikan kesehatan warga negara, dan merintangi sistem pendidikan negara dengan menggunakan agama.”
Na‘am, yang dijamin sama Pemerintah Cina bukan hanya kebebasan warganya untuk beragama, melainkan pula kebebasan mereka untuk tidak beragama dengan menjadi ateis a.k.a kafir kafah.
Sedangkan bagi yang beragama, Pemerintah akan terus berusaha mengayomi sepanjang aktivitas keagamaannya tetap berada dalam koridor “normal” alias tidak melanggar norma dan hukum yang berlaku.
Mungkin terkecuali di bumi datar, saya haqqul yaqin tidak akan ada negara mana pun di bumi bulat ini yang akan tinggal diam mengetahui aktivitas keagamaan warganya yang kerjaannya memprovokasi jemaatnya untuk memberontak kepada pemerintahan yang sah, misalnya.
Sialnya, justru hal seperti itulah yang kini terjadi di Xinjiang yang kebetulan penduduknya mayoritas bersuku Uighur penganut agama Islam.
Kita tahu, orang-orang Uighur—terutama yang tinggal di Xinjiang bagian selatan—memang sudah lama ingin memerdekakan diri dari Cina. Bahkan sejak Cina masih dikuasai Dinasti Qing. Yakni sebelum Cina diperintah Partai Nasionalis yang pengaruhnya sejak 1949 disingkirkan Partai Komunis sampai sekarang.
Sejak dulu—sebagaimana dipaparkan Wang Ke dalam mahakaryanya yang berjudul Dong Tujuesitan Duli Yundong: 1930 Niandai zhi 1940 Niandai (Gerakan Kemerdekaan Turkestan Timur: 1930–1940) terbitan The Chinese University of Hong Kong—kelompok-kelompok separatis Xinjiang memang menggunakan agama (dalam hal ini Islam) untuk melegitimasi gerakannya.
Kenapa? Sebab, kata guru besar Kobe University itu, hanya agamalah yang bisa dipakai buat menarik simpati suku lain yang juga tinggal di sana. Andaikan kelompok-kelompok separatis Uighur memakai isu kesukuan, niscaya muslim bersuku Kazakhs yang juga tak sedikit jumlahnya di Xinjiang, akan sulit bersimpati kepada mereka.
Terbukti, bahkan kakanda dan ayunda yang berada di Indonesia pun bersimpati—untuk tidak menyebut “terkompori”. Padahal, yang dibidik oleh Pemerintah Cina—baik tatkala masih kedinastian maupun sekarang yang komunis—bukanlah agamanya. Juga bukanlah muslim yang moderat. Melainkan kelompok-kelompok separatis yang menggulirkan sentimen agama guna mencapai tujuan politiknya.
Anehnya, kelompok-kelompok separatis ini agaknya tidak benar-benar berniat memperjuangkan Islam. Buktinya, Jüme Tahir, imam besar Masjid Id Kah Xinjiang yang terkenal moderat dan pro-pemerintah itu pun dihabisi dengan keji selepas memimpin salat Subuh pada 30 Juli 2014 silam.
Akhirnya saya jadi bertanya-tanya: yang dibela oleh kakanda dan ayunda itu muslim Uighur yang mana?
Muslim Uighur yang moderat?
Meski sebenarnya mereka sih kayaknya nggak perlu dibela juga. Karena sepengamatan saya, mereka masih bisa beribadah dan berbisnis laiknya sedia kala. Ayo deh, mari kapan-kapan saya temani kakanda dan ayunda pergi ke Xinjiang untuk mengetahuinya. Ajak Abang Fadli Zon juga boleh deh.
Atau muslim Uighur yang suka membikin gaduh suasana Xinjiang pakai isu agama buat meraih agenda politiknya yang kakanda dan ayunda bela?
Ingat, justru muslim garis kaku nan ngamukan macam itulah yang—kata Profesor Beijing Foreign Studies University Xue Qingguo dalam esai bahasa Arabnya di harian Al-Hayat edisi 30 Agustus 2017—merusak citra Islam sebagai agama yang damai dan menjadikan “beberapa tahun belakangan Islamophobia mempunyai pangsa pasar yang cukup signifikan di Cina”.
Sebentar, sebentar, ini saya ngomongin negara mana sih sebenarnya? Kok rasanya rada-rada mirip sama sebuah negeri yang bentar lagi mau Pilpres ya?
Sumber : https://mojok.co/nvb/esai/surat-terbuka-untuk-hmi-yang-unjuk-rasa-bela-muslim-uighur-di-cina/
Mattis Mengundurkan Diri Setelah Berselisih Dengan Trump
By: On:

Mattis Mengundurkan Diri Setelah Berselisih Dengan Trump

Jayakartapos,  Menteri Pertahanan Jim Mattis mengundurkan diri Kamis setelah berselisih dengan Presiden Donald Trump mengenai penarikan tiba-tiba pasukan AS dari Suriah, setelah dua tahun perselisihan mendalam atas peran Amerika di dunia.

Mattis, mungkin pejabat kebijakan luar negeri yang paling dihormati di pemerintahan Trump, Mattis akan pergi pada akhir Februari setelah dua tahun yang penuh gejolak berjuang untuk melunakkan dan memoderasi kebijakan presiden yang keras dan terkadang berubah tajam. Dia mengatakan kepada Trump dalam surat bahwa dia akan pergi, dan “Anda memiliki hak untuk memiliki Sekretaris Pertahanan yang pandangannya lebih selaras dengan Anda,” tulis Mattis, seperti yang dikutip dari Associated Press.

Kepergiannya segera respon oleh pembuat kebijakan luar negeri dan para pembuat undang-undang di kedua sisi lorong, yang memandang jenderal Angkatan Laut yang sudah pensiun sebagai suara sederhana di telinga seorang presiden yang tidak pernah memegang jabatan politik atau bertugas di militer. Bahkan sekutu Trump menyatakan ketakutan atas keputusan Mattis untuk berhenti.

Dalam cuitannya di twitter, Senator Florida Marco Rubio mengatakan“Baca saja surat pengunduran diri Jenderal Mattis “ dan “Ini membuatnya sangat jelas bahwa kita menuju serangkaian kesalahan kebijakan serius yang akan membahayakan bangsa kita, merusak aliansi kita dan memberdayakan musuh kita. ”

Mengutip dari Associated Press, Mattis tidak menyebutkan perselisihan atas Suriah dalam suratnya atau mengajukan pemotongan yang mendalam kepada pasukan AS di Afghanistan, dan sengketa kebijakan penting lainnya. Dia mencatat “keyakinan inti” -nya bahwa kekuatan Amerika “terkait erat” dengan aliansi bangsa dengan negara-negara lain, posisi yang tampaknya bertentangan dengan kebijakan Presiden AS.

Menteri Pertahanan juga mengatakan Cina dan Rusia ingin menyebarkan “model otoriter” mereka dan mempromosikan kepentingan mereka dengan mengorbankan Amerika dan sekutunya. “Itulah mengapa kita harus menggunakan semua alat kekuasaan Amerika untuk menyediakan pertahanan bersama,” tulisnya.

Pengumuman ini terjadi sehari setelah Trump mengejutkan sekutu AS dan anggota Kongres dengan mengumumkan penarikan semua pasukan AS dari Suriah, dan Trump terus mempertimbangkan untuk mengurangi separuh penempatan Amerika di Afghanistan pada musim panas ini.

Keputusan Trump untuk menarik pasukan dari Suriah telah dikritik tajam karena meninggalkan sekutu Kurdi Amerika, yang mungkin menghadapi serangan Turki begitu pasukan AS pergi, dan telah ditentang keras oleh Pentagon.

Mattis, dalam surat pengunduran dirinya, menekankan pentingnya membela sekutu AS dan itu merupakan kritik implisit atas keputusan presiden tentang masalah ini dan lainnya.

“Sementara AS tetap menjadi bangsa yang sangat penting di dunia bebas, kami tidak dapat melindungi kepentingan kami atau menjalankan peran itu secara efektif tanpa mempertahankan aliansi yang kuat dan menunjukkan rasa hormat kepada sekutu-sekutu itu,” tulis Mattis.(Dina/RED)