Category: Nasional

HARUS ADA PETUNJUK TEKNIS DARI IKATAN DOKTER INDONESIA ATAU KEMENKES TERKAIT PENGGUNAAN DISINFEKTAN PENGUSIR COVID 19 : MEMBAHAYAKAN ATAU TIDAK
By: On:

HARUS ADA PETUNJUK TEKNIS DARI IKATAN DOKTER INDONESIA ATAU KEMENKES TERKAIT PENGGUNAAN DISINFEKTAN PENGUSIR COVID 19 : MEMBAHAYAKAN ATAU TIDAK

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Indeks News

Oleh : Jelita Chantiqa *)

Jayakartapos, Keberadaan bilik atau chamber disinfektan belakangan ini makin mudah ditemukan baik di kantor-kantor pemerintah, kantor swasta maupun fasilitas publik, termasuk mudah ditemukan di pintu-pintu masuk perumahan. Penggunaan disinfektan yang diyakini dapat meminimalisir ancaman persebaran Covid 19 ini menimbulkan kegelisahan, kegundahan bahkan pertanyaan soal aman tidaknya atau membahayakan tidaknya penggunaan disinfektan bila disemprotkan langsung ke tubuh manusia?

Penggunaan yang masif ini juga menggugah para peneliti dari berbagai universitas untuk membuat bilik disinfeksi tersebut dengan semangat yang sama, yaitu berkontribusi dalam penanganan wabah yang saat ini harus dihadapi bersama-sama oleh negeri ini. Upaya pencegahan penyebaran virus dengan cara ini diadopsi di beberapa tempat oleh masyarakat, meskipun dengan menggunakan alat sesederhana botol semprot.

Berbagai macam cairan disinfektan yang digunakan untuk bilik disinfeksi ini diantaranya adalah diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70%, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2) dan sebagainya.

Beberapa bahan kimia yang sering dipakai sebagai disinfektan dalam bilik-bilik penyemprotan ternyata juga menimbulkan banyak risiko antara lain larutan hipoklorit berisiko memicu iritasi dan kerusakan kulit pada paparan terus menerus dalam jangka waktu lama.

Kemudian, inhalasi bisa memicu iritasi ringan pada pernapasan; Electrolyzed Salt Water: berisiko memicu iritasi; Kloroksilenol (bahan aktif cairan antiseptik komersial): berisiko memicu iritasi kulit dan mata, berisiko keracunan bila tertelan; Hidrogen peroksida (H2O2): pada kadar tertentu bisa memicu iritasi kulit.

Lewat akun resminya di media sosial, WHO Indonesia mengatakan hal itu sebaiknya tidak dilakukan.

Menyemprotkan bahan-bahan kimia disinfektan langsung ke tubuh manusia bisa membahayakan jika terkena pakaian dan selaput lendir seperti mata dan mulut.

Bahan-bahan seperti alkohol dan klorin, menurut WHO bisa berguna sebagai disinfektan untuk permukaan benda mati. Itu pun harus sesuai petunjuk penggunaannya.

Para pakar dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung mempertegas pendapat tersebut dengan mengatakan tidak ada data ilmiah yang menunjukkan seberapa efektif bilik disinfektan bisa membunuh virus. Penggunaan bahan-bahan kimia tertentu sebagai disinfektan juga punya risiko bagi kesehatan.

“Inhalasi gas klorin (Cl2) dan klorin dioksida (ClO2) dapat mengakibatkan iritasi parah pada saluran pernapasan,” tulis para pakar ITB dalam rilisnya baru-baru ini.

Cara yang paling aman untuk menghindari infeksi virus corona COVID-19 sejauh ini adalah dengan saling menjaga jarak (phisycal distancing) dan sering-sering mencuci tangan dengan sabun selama 20-30 detik. Sabun atau detergen secara ilmiah efektif merusak selubung virus corona.

Kalaupun harus melewati bilik atau chamber disinfektan, pastikan tahu betul jenis bahan kimia yang digunakan dan konsentrasinya. Dan jangan kaget jika terkadang petugas yang mengoperasikan bilik-bilik tersebut juga tidak tahu disinfektan jenis apa yang mereka gunakan.

Yang jelas kehadiran negara dan ketegasan negara harus ada dengan masifnya penggunaan disinfektan ini, agar setelah Covid 19 dapat kita kalahkan, jangan sampai muncul pandemik penyakit lainnya karena penggunaan disinfektan secara masif, sebab jika ini terjadi akan divonis sebagai kesalahan terbesar sepanjang sejarah Indonesia yang diciptakan oleh pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Bentuk kehadiran negara adalah harus ada petunjuk teknis atau Juknis dari Ikatan Dokter Indonesia atau IDI atau Kementerian Kesehatan, karena saat ini ada fenomena kelatahan untuk secara swadaya membuat bilik disinfektan karena paranoid dengan penyebaran Covid termsuk di perumahan-perumahan dan perkantoran.

*) Penulis adalah kolumnis. Tinggal di Manado Sulawesi Utara.

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

IKHTIAR PEMERINTAH DAN RAKYAT INDONESIA HADAPI CORONA VIRUS
By: On:

IKHTIAR PEMERINTAH DAN RAKYAT INDONESIA HADAPI CORONA VIRUS

Foto: Toni Ervianto (Penulis)

Oleh : Toni Ervianto *)

Jayakartapos, Pandemik korona saat ini telah berdampak pada beberapa negara, menjangkiti hampir 550 ribu orang, dan menimbulkan lebih 25 ribu kematian. Nilai stok market terjerembab, pusat-pusat bisnis tutup, dan negara-negara terkena harus menyediakan dana besar untuk penanggulangan. Indonesia saat ini harus mengalihkan Rp62 triliun dana APBN untuk menanggulangi pandemik ini.

Sejak kasus covid-19 merebak di Tiongkok dan mulai menyebar ke berbagai negara lain, pemerintah pusat sudah mengeluarkan pelbagai kebijakan dan langkah antisipatif guna menghindari dampak buruk yang ditimbulkan, bahkan sejak covid-19 belum masuk ke Indonesia. Setelah dua warga Depok terkonfirmasi positif covid-19, pemerintah pusat kembali mengeluarkan aturan dan kebijakan, salah satunya mengenai aturan social distancing yang dimulai pada Senin (16/3)-Minggu (29/3).

Perkembangan pandemik virus korona di Indonesia harus diakui mulai masuk pada tahap yang mengkhawatirkan. Data epidemiologi kasus korona per 27 Maret 2020 sore mencengangkan. Dari sekitar 3.500 orang yang menjalani tes, yang terjaring positif sebanyak 1.046 orang (positive rate 29,8%). Dari kasus positif ini, yang meninggal 87 orang (case fatality rate/CFR 8,3%). Tingkat positive rate dan CFR ini termasuk ekstrem. Di Filipina dan Malaysia, CFR-nya berturut-turut berkisar 6,3% dan 1,1%. Sementara itu, pada tingkat gobal, CFR berkisar 4,3%.

Pemerintah Indonesia dalam mengatasi Corona virus juga menggunakan prinsip penanggulangan pandemi meliputi fase-fase anticipation, early detection, containment, control and mitigation, dan elimination atau eradication. Dua fase awal, yakni fase-fase anticipation and early detection, tidak relevan lagi dibicarakan karena pandemik telah terjadi. Karenanya, fase selanjutnyalah yang menjadi amat penting, yaitu containment serta control and mitigation.

Hanya sayangnya kedisiplinan warga untuk patuh dan melaksanakan anjuran/himbauan negara kurang diindahkan antara lain bekerja di rumah, ibadah di rumah dan tinggal dirumah.

Beberapa daerah merespons cepat
Ada beberapa wilayah yang sudah atau berencana melakukan karantina wilayah (karena Indonesia tidak mengenal istilah lockdown). Tujuannya : Melindungi masyarakat dari penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat; Mencegah dan menangkal penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat;

Meningkatkan ketahanan nasional di bidang kesehatan masyarakat; Memberikan pelindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dan petugas kesehatan.

Dampak positif lockdown atau karantina wilayah dinilai memperlambat penyebaran virus korona melalui kontak langsung. Aktivitas transportasi dan bisnis terhenti sementara, berdampak pada penurunan emisi. Tidak adanya aktivitas transportasi berdampak pada tidak adanya kemacetan di jalan raya. Industri yang mendukung aktivitas lockdown, misalnya, gim, pembelajaran daring, dan streaming TV akan mencatat peningkatan kinerja.

Sedangkan, dampak negatif karantina wilayah atau lockdown adalah adanya panic buying karena kekhawatiran minimnya persediaan pangan. Kemungkinan adanya ekses-ekses keamanan dan sosial.

Pertumbuhan ekonomi melambat karena tidak adanya transaksi/kegiatan ekonomi, kecuali secara virtual dari rumah dan belanja kebutuhan pokok di toko terdekat.

Perusahaan bisnis besar yang berhubungan langsung dengan masyarakat, dari perbankan, ritel, logistik, hingga restoran, akan tertekan. Pendapatan sektor informal turun drastis. Peningkatan stres pada masyarakat karena berada dalam rumah pada waktu yang lama.

Sebenarnya sudah ada ketentuan pemerintah dalam UU Kekarantinaan Kesehatan, dimana pasal-pasal penting dalam UU Kekarantinaan Kesehatan antara lain : Pasal 9 Setiap orang wajib mematuhi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan. Setiap orang berkewajiban ikut serta dalam penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan.

Pasal 49 Dalam rangka melakukan tindakan mitigasi faktor risiko di wilayah pada situasi kedaruratan kesehatan masyarakat, dilakukan karantina rumah, karantina wilayah, karantina rumah sakit, atau pembatasan sosial berskala besar oleh pejabat karantina kesehatan. Karantina rumah, karantina wilayah, karantina rumah sakit, atau pembatasan sosial berskala besar harus didasarkan pada pertimbangan epidemiologis, besarnya ancaman, efektivitas, dukungan sumber daya, teknis operasional, pertimbangan ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan. Karantina wilayah dan pembatasan sosial berskala besar ditetapkan oleh menteri.

Pasal 93 Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sehingga menyebabkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Beberapa daerah yang sudah melakukan karantina wilayah antara lain Jakarta dengan menerapkan social distancing.

Disamping itu, Anies Baswedan juga memerintahkan ibadah, sekolah, dan bekerja dari rumah sejak Senin-Jumat (16-29/3, untuk anak sekolah bahkan diperpanjang sampai 5 April 2020). Pembatasan koridor Trans-Jakarta. Tidak melaksanakan salat Jumat selama dua pekan. Tidak ada car free day. Penerapan jarak antarpenumpang di Trans-Jakarta, MRT, LRT, dan KRL.

Kemudian, Kota Medan, Sumatra Barat Penutupan di 12 ruas jalan mulai Sabtu (28/3) sampai waktu atas normal pemerintah pusat. Pagi pukul 09.00 WIB-15.00 dan malam 19.00 WIB- 23.00. Sedangkan, Bangka Belitung Usulan pembatasan angkutan udara dan laut akan dimulai pada 28 hingga 30 Maret 2020. Pada 31 Maret-6 April, angkutan udara dan laut ini dihentikan untuk sementara. Sementara itu, Depok Warga Perumahan Grand Putra Mandiri di Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat, menginisiasi melakukan karantina wilayah sejak 26 Maret. Tegal menerapkan karantina total mulai 30 Maret 2020-30 Juli 2020, walaupun diprotes oleh kelompok pedagang kaki lima yang keberatan dengan kebijakan tersebut. Surabaya melakukan penutupan di Jalan Tunjungan dan Jalan Darmo Surabaya dilakukan pada 27-28 Maret 2020 pukul 19.00 WIB sampai 23.00 WIB. Penutupan kendaraan dan segala aktivitas masyarakat pada 28-29 Maret 2020 pukul 10.00 sampai 14.00 WIB.

Di Wilayah Timur Indonesia, Maluku misalnya melalui SK Gubernur Nomor 148 Tahun 2020 tentang Penetapan Status Darurat Bencana Non Alam Virus Corona (Covid-19) menyebutkan menutup jalur penerbangan dan pelayaran dari dan ke Maluku selama 14 hari sejak 22 Maret 2020.

Sementara, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Kabupaten Maybrat sejak 26 Maret 2020 membatasi akses darat, baik dari Sorong, Sorong Selatan, Tambrauw, maupun Kabupaten Manokwari. Sedangkan, di Papua sejak 26 Maret 2020 berlaku hingga 14 hari ke depan, akses masuk dan keluar orang melalui bandar udara maupun pelabuhan laut di seluruh kabupaten/kota di Papua ditutup sementara.

Ada beberapa hal positif ditengah mewabahnya virus Corona antara lain : pertama, lonjakan pengiriman bahan pangan diperkirakan terus terjadi seiring dengan kebijakan sejumlah pemerintah daerah untuk memperpanjang masa belajar sekolah di rumah serta bekerja dari rumah atau work from home.

Kedua, penerapan kebijakan bekerja dari rumah alias work from home (WFH) terbukti mampu menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di DKI Jakarta. Selama satu pekan, angka kecelakaan menurun sebanyak 10%.

Ketiga, meningkatnya kepedulian sosial dan kesalehan masyarakat dengan fenomena untuk memenuhi kebutuhan masyarakat prasejahtera dan pekerja informal yang paling terdampak akibat pandemi covid-19, sebanyak 50 warteg di wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, dan Tangerang menyediakan makanan gratis. Bagi pembeli yang mau makan gratis di warteg tersebut, tidak ada aturan kaku. Setiap warteg sudah distimulus dengan 100 porsi gratis. “Beberapa warteg malah menggratiskan atau mendiskon di luar yang 100 porsi itu,” kata Direktur Komunikasi Aksi Cepat Tanggap (ACT), Lukman Azis.

Ikhtiar pemerintah dan rakyat Indonesia
Menghadapi ancaman virus Corona yang belum dapat dipastikan kapan berakhirnya, Pemerintah Indonesia dan rakyat Indonesia sudah melakukan sejumlah ikhtiar dengan serius.

Ada beberapa ikhtiar atau usaha yang telah dilakukan dan akan dilakukan pemerintah bersama rakyat Indonesia antara lain : pertama, sejumlah kepala daerah meminta warga asal wilayah mereka yang merantau di kota-kota besar di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan daerah lain tidak mudik selama pandemi virus korona baru (covid-19). Pasalnya, bersama dengan aktivitas mudik dikhawatirkan terjadi penularan covid-19 secara masif dan membentuk episentrum penyebaran baru di luar wilayah Jabodetabek.

Kedua, Presiden Joko Widodo telah memberi arahan terkait dengan bantuan yang akan diberikan pemerintah untuk masyarakat a.l. relaksasi kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk untuk pengemudi ojek dan taksi daring, subsidi kredit pemilikan rumah (KPR), bantuan bagi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), dan menambah penyaluran bagi penerima Kartu Sembako. Bantuan tersebut diharapkan mampu meredam gejolak ekonomi yang timbul akibat kian meluasnya pandemi di Indonesia. Meskipun Jokowi telah menekankan bahwa salah satu fokus bantuan adalah untuk mempertahankan daya beli masyarakat, tetapi skema penyaluran maupun penerima manfaatnya masih perlu diperjelas.

Ketiga, kebijakan stimulus juga terus dikeluarkan. Terhitung sudah tiga jilid kebijakan stimulus yang sudah diterbitkan, yakni jilid I hingga III. Kebijakan Stimulus Jilid I (Bidang Pariwisata) Diskon tiket penerbangan domestik Pembebasan pajak restoran serta hotel Insentif berupa diskon tiket untuk penerbangan internasional (ditunda)

Jilid II (Fiskal dan Nonfiskal) Pembebasan pajak penghasilan (PPh) 21 untuk pekerja Penundaan pengenaan PPh Pasal 22 Impor Pengurangan PPh Pasal 25 Badan sebesar 30% Percepatan dan kenaikan batas maksimum restitusi pajak. Jilid III Bidang kesehatan Perlindungan sosial Menjaga kinerja pelaku usaha.

Keempat, Pemerintah mengeluarkan insentif bagi tenaga kesehatan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam perang melawan wabah Corona. Insentif bulanan Dokter spesialis: Rp15 juta; Dokter umum/gigi: Rp10 juta; Bidan/perawat: Rp7,5 juta Tenaga medis lain: Rp5 juta dan santunan kematian sebesar Rp300 juta.

Kelima, pemerintah membangun RS Darurat berlokasi di Pulang Galang dengan perkiraan dana Rp400 miliar, dimana RS ini memiliki kapasitas 900 ranjang ruang perawatan, kapasitas 80 ranjang ruang perawatan isolasi 20 ranjang ruang ICU Menyiapkan Wisma Atlet dan beberapa hotel di DKI Jakarta untuk mendukung pemberantasan covid-19.

Keenam, pemerintah memastikan memenuhi kebutuhan alat pelindung diri (APD) dan ventilator di rumah sakit untuk penanganan pandemi covid-19. Sebanyak 170 ribu APD yang diimpor dari Tiongkok telah masuk lagi ke Indonesia dan siap didistribusikan ke sejumlah provinsi di Tanah Air. Selain itu, bantuan peralatan medis dari pemerintah Tiongkok kepada Indonesia juga tiba semalam dari Shanghai. Paket bantuan medis tersebut berupa alat tes korona, masker N95, masker bedah, pakaian pelindung medis, ventilator portabel, dan lain-lain. Pasokan medis itu akan digunakan untuk pencegahan dan pengendalian pandemi covid-19 melalui BNPB.

Sebelumnya, pemerintah telah menyalurkan 105 ribu APD ke sejumlah daerah, antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, dan Yogyakarta.

Ketujuh, Kapolri Jenderal Idham Azis mengatakan jajaran Polri telah membubarkan 7.031 kerumunan massa sejak dikeluarkan Maklumat Kapolri tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Korona (Covid-19).

Pada akhirnya memang peran para pelaku usaha, termasuk di sektor jasa keuangan nonbank, dapat menjadi kunci yang membantu mengatasi penyebaran wabah. Saat ini, berbagai pihak sedang bahu membahu untuk memutus mata rantai sekaligus mengatasi dampak COVID-19. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana sekaligus Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengakui dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, akademisi, media, hingga pengusaha, sangat diperlukan.

Dukungan pebisnis terutama terkait dengan komitmen pembatasan sosial lewat mekanisme bekerja dari rumah (work from home/WFH) serta bantuan donasi. Semoga langkah bersama kita diridhoi Alloh SWT dan segera mengakhiri wabah Corona ini. Aamiin Ya Robbal Alamiiin.

*) Penulis adalah kolumnis dan pemerhati masalah komunikasi massa serta kajian strategis Indonesia. Alumnus pasca sarjana Universitas Indonesia (UI)

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

EKONOMI NASIONAL MULAI MERADANG KARENA COVID 19
By: On:

EKONOMI NASIONAL MULAI MERADANG KARENA COVID 19

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Luthfy Syahban-Tim Infografis-Detik

Oleh : Evita Rahayu *)

Jayakartapos, Sejumlah emiten perkebunan kelapa sawit mulai waswas dengan kebijakan Pemerintah India yang memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona (COVID-19). Direktur Keuangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. Lucas Kurniawan mengatakan, pihaknya masih memantau lockdown India dan dampak yang kemungkinan akan ditimbulkan, terutama terhadap prospek penjualan crude palm oil (CPO).

Peningkatan aset perbankan pada tahun ini akan sulit menyamai torehan tahun lalu. Kondisi ini diperparah dengan COVID-19 yang cukup menyulitkan perekonomian. Dengan adanya wabah corona, pertumbuhan ekonomi akan terpangkas drastis yang artinya pertumbuhan kredit juga akan sangat rendah. Dengan demikian pertumbuhan aset pada 2020 juga akan sangat rendah jauh di bawah capaian 2019. Dengan kondisi ekonomi yang terpapar virus corona, perbankan sulit mendorong pertumbuhan aset. Hal yang bisa dilakukan adalah menekan kredit bermasalah yang berisiko meningkat.

Satu demi satu pengusaha pusat perbelanjaan memutuskan untuk menutup sementara atau sebagian operasional mal di Jakarta akibat anjloknya jumlah kunjungan, seiring dengan terus meluasnya penyebaran pandemi COVID-19. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengaku, kunjungan ke pusat perbelanjaan menurun drastis sejak isu penyebaran virus corona merebak dibandingkan dengan kondisi normal.

Menurutnya, pendapatan semua pusat perbelanjaan dipastikan menurun terimbas isu COVID-19. Hanya saja, APPBI belum mencatat berapa potensi kerugian yang terjadi. Saat ini, para pengusaha pusat perbelanjaan masih fokus dalam penanganan operasional yang dinilai cukup kompleks. Hal ini lantaran di satu sisi pelaku pusat belanja harus turut serta membantu pencegahan COVID-19, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Rusmin Lawin membenarkan pengelola pusat perbelanjaan tengah menghadapi tantangan berat menyusul merebaknya virus corona jenis baru itu. Sejumlah mal telah menutup sementara operasionalnya, seperti jaringan mal Summarecon, Senayan City, Lippo Mall, dan Plaza Indonesia. Adapun, mal lainnya kemungkinan akan menyusul. Dalam jangka pendek, sejumlah pusat perbelanjaan memang telah mengantisipasi penyebaran COVID-19 dengan hanya mengurangi jam operasional, menyediakan cairan sanitasi tangan dan masker, serta mengadakan beberapa promo.

Pada perkembangan lain, Perumda Pasar Jaya juga melakukan penutupan sementara sampai 5 April 2020 seluruh pasar yang berada di kawasaan Tanah Abang yang dikelola oleh Pasar Jaya.

Penutupan ini dilakukan di Pasar Tanah Abang Blok A, Blok B, dan Blok F. Hanya Pasar Tanah Abang Blok G yang masih buka, meskipun dibatasi untuk pedagang yang berjualan jenis bahan pangan saja. Penutupan ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penyebaran COVID-19.

Pelaku usaha tambang batu bara diperkirakan merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) perusahaan di tengah pandemi virus corona (COVID-19). Sejalan dengan itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menerbitkan beleid yang mengatur tentang tata cara pemberian wilayah, perizinan, dan pelaporan pada kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara.

Beleid tersebut, tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2020. Permen yang ditandatangani oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 6 Maret sekaligus mencabut sebagian maupun seluruhnya Permen ESDM No. 48/2017, Permen ESDM No. 11/2018, Permen No. 22/2018, Permen No.51/2018.

Salah satu poin dalam beleid ini mengatur perubahan waktu revisi RKAB produksi batu bara. Dalam Permen ESDM No. 7/2020 Pasal 89, perusahaan dapat mengajukan revisi RKAB dengan menyampaikan laporan periode kuartal pertama dan paling lambat 31 Juli pada tahun berjalan.

Situasi saat ini yang me maksa segenap masyarakat untuk bekerja dari rumah (work from home/ WFH) dan belajar dari rumah, bukanlah perkara yang mudah. Pengeluaran untuk di luar rumah memang berkurang, tetapi beban rumah tangga (RT) malah bertambah, terutama untuk kebutuhan listrik. Kenaikan konsumsi listrik sebagian besar berasal dari penggunaan pendingan udara, kenaikan frekuensi penggunan pompa air karena penggunaan air yang meningkat, serta penggunaan internet, dan perangkat rumah tangga seperti pemanas air.

Pengamat perbankan Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefi anto mengatakan, kondisi ekonomi pada saat ini masih sulit diprediksi. Bahkan, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan hanya menyentuh angka 3%.

Bagaimanapun juga, wabah pandemik Covid19 memang merupakan “pukulan mematikan/deadly punch” dan juga pendadakan strategis yang kurang diantisipasi sebelumnya. Hanya dengan sinergi, kolaborasi, kerjasama, mematuhi aturan negara/pemerintah, tenang dan tetap berpikiran positif dengan berdoa sehingga wabah atau mungkin sebagian orang menilainya sebagai azab ini akan segera berakhir.

Karena dalam perspektif keagamaan, Covid 19 bisa terjadi sebagai ujian atas keserakahan manusia, korupsi yang tidak henti, like and dislike yang mematikan karir seseorang, maksiat, kurang peduli dengan nasib sesama, serta termasuk kurang sabar menerima cobaan dan kurang dalam sedekah maupun membayar zakat. Banyak pelajaran yang dapat dipetik. Semoga.

*) Penulis adalah pemerhati masalah Indonesia.

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

CORONAPHOBIA DAN PSIKOMATIS COVID-19
By: On:

CORONAPHOBIA DAN PSIKOMATIS COVID-19

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Radar Lampung

Oleh: DR Adi W Gunawan, ST.,MPd.,CCH

Jayakartapos, Saya dihubungi beberapa calon klien yang minta waktu jumpa saya untuk menjalani sesi terapi. Kata mereka ini kondisi mendesak dan minta agar mereka bisa segera jumpa saya.

Saya tanya, apa masalahnya, ternyata mereka rata-rata mengalami perasaan takut, cemas, yang berakibat pada kondisi pikiran tidak tenang, hati tidak damai, dan sulit tidur.

Saya tanya lagi, mulai kapan gangguan emosi ini muncul atau mereka alami, hampir semua menjawab mereka mengalami kecemasan tinggi sejak ramai diberitakan tentang virus corona (Covid-19).

Bahkan ada tiga calon klien yang mengaku mengalami gejala serupa dengan Covid-19 seperti flu, batuk kering, tenggorokan sakit, dan demam.

Saya tanya lagi, apakah mereka ada keluar rumah, ke tempat ramai, kumpul-kumpul sama teman, bersalaman atau berdekatan dengan orang yang mengalami Covid-19 atau orang dalam pengawasan, dan semua menjawab tidak.

Mereka bahkan mengatakan bahwa sudah dua minggu lebih mereka tidak ke mana-mana, hanya istirahat dan melakukan kegiatan dari rumah.

Saya tanya lagi, apakah mereka rutin atau sering baca informasi atau berita, baik itu dari media massa seperti televisi, surat kabar, atau dari media sosial, terutama dari grup percakapan seperti WA atau Telegram, dan mereka semua menjawab ya. Sekarang jelas duduk persoalan dan akar masalahnya.

Saya mohon maaf karena belum bisa jumpa mereka. Saat ini saya dan semua hipnoterapis AWGI, untuk sementara waktu, berhenti total melakukan terapi. Ini untuk kebaikan bersama dan mematuhi himbauan pemerintah untuk melakukan social/physical distancing untuk meredam penyebaran Covid-19.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini?

Saya beri mereka beberapa saran dan masukan. Pertama, mereka berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait Covid-19.

Tidak ada gunanya untuk hidup mereka dengan mengetahui sudah berapa banyak orang yang terkena Covid-19, berapa yang meninggal, dan berapa yang sembuh.

Saya minta mereka berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait Covid-19 minimal selama dua minggu dan setelahnya mereka bisa beri laporan perkembangan yang dialami.

Kedua, saya sarankan mereka untuk banyak membaca buku-buku positif, nonton film atau video yang lucu, karaoke, senam atau olahraga, rileksasi atau meditasi, berdoa, atau apa saja yang positif dan bisa membuat pikiran dan perasaan mereka tenang dan bahagia.

Cukup sudah kita menebar dan menyebar informasi terkait virus corona (Covid-19) di media sosial dan grup percakapan seperti WA atau Telegram yang justru semakin menguatkan berbagai emosi negatif seperti takut, khawatir, cemas, merasa tidak berdaya, dll.

Sekarang waktunya kita melawan virus corona (Covid-19) dengan berpikir positif dan merasakan emosi positif, mengirimkan vibrasi positif untuk diri sendiri dan lingkungan, menyebar informasi yang sifatnya meneduhkan, menenangkan untuk kebaikan diri sendiri dan bersama.

Lalu, bagaimana sampai orang mengalami psikosomatis Covid-19?

Informasi masuk ke pikiran bawah sadar melalui lima jalur:

1. Otoritas : informasi, benar atau salah, yang disampaikan oleh figur otoritas pasti dengan mudah masuk dan diterima oleh pikiran bawah sadar (PBS) sebagai kebenaran.

2. Emosi : setiap informasi yang diterima individu, bila disertai emosi intens, baik positif atau negatif, akan dicatat oleh PBS sebagai sesuatu yang penting.

3. Repetisi : informasi serupa bila terus diulang, dilihat, dibaca, dibicarakan, diingat, dibayangkan, atau didengarkan pasti masuk ke memori PBS.

4. Identifikasi Kelompok: saat informasi ini diterima atau dinyatakan benar oleh satu kelompok atau komunitas, setiap anggota kelompok ini menerimanya sebagai kebenaran.

5. Relaksasi pikiran : saat pikiran rileks, sore atau malam hari saat mau tidur, atau pagi hari saat baru bangun tidur, bila kita membaca, mendengar, menonton tayangan atau informasi tertentu, informasi ini langsung masuk ke PBS tanpa bisa disaring oleh faktor kritis pikiran sadar.

Informasi tentang Covid-19, benar atau salah, yang telah terekam di PBS, tidak akan pernah bisa hilang. Informasi ini akan terus ada di memori sampai dilakukan upaya secara sadar untuk mengganti informasi ini dengan informasi lain.

Semakin seseorang membaca dan mengingat gejala-gejala Covid-19, semakin ia mengulang memunculkan informasi ini di pikirannya, semakin kuat informasi ini jadinya, dan semakin ia terpengaruh. Ia menjadi semakin cemas dan takut.

Disadari atau tidak, ia akan memeriksa kondisi fisiknya, apakah ada gejala yang sama atau menyerupai Covid-19. Ini sesungguhnya adalah hal yang wajar karena semua orang pasti ingin selamat, ingin tetap hidup. Dan fungsi utama PBS adalah melindungi dan menjaga keselamatan hidup kita.

Semakin ia melakuan pengecekan, semakin PBS mendapat informasi bahwa ini adalah sesuatu yang penting. Dan sesuai hukum pikiran, apa yang menjadi fokus pasti bertumbuh dan menguat. Ini menjadi semakin kuat saat dilandasi emosi negatif intens.

Akhirnya, PBS memunculkan simtom atau gejala yang sama atau serupa dengan gejala Covid-19. Saat ini terjadi, individu menjadi semakin cemas, takut, panik, dan gejalanya menjadi semakin nyata, semakin kuat.

Semakin ia cemas atau takut, semakin stres ia, semakin banyak hormon stres diproduksi oleh tubuhnya, dan semakin tertekan kerja sistem imun, dan semakin besar kemungkinan ia jatuh sakit, semakin besar risikonya bila ia benar-benar terpapar virus corona.

Virus corona belum tentu mengenai semua orang. Namun saat ini hampir semua orang sudah tertular virus pikiran yang membuat mereka cemas, khawatir, takut, paranoid.

Sekarang saatnya kita bangkit bersama melawan virus corona. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk menghambat kemungkinan virus corona semakin tersebar.

Dan berlakulah CERDAS dan BIJAK. Sebarkan hanya berita-berita positif. SARING sebelum SHARING.

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

LOCKDOWN’S IN EVERYWHERE, WILL WE GO TO GLOBAL UNCERTAINTY?
By: On:

LOCKDOWN’S IN EVERYWHERE, WILL WE GO TO GLOBAL UNCERTAINTY?

Photo: Ilustration, source: Harapan Rakyat

By : Jelita Chantiqa

Jayakartapos, 3.3 million unemployment claims were filed in the US — the highest number of initial jobless claims in history.Nearly a third of the world’s population are living under coronavirus-related restrictions. US Senate passed a $2 trillion economic relief package. It goes to the House next. NYC is the epicenter of the US outbreak. Known cases double every three days.

Previously, several countries such as Spain, Italy, Germany, France, United Kingdom, Saudi Arabia, Japan, Singapore, China, Australia, New Zealand, Malaysia, etc had taken lockdown policy to doom or to overcome the deadly viruses. Until now, several countries such as South Korea, Nothern Ireland and Indonesia do not want to lockdown nationwide and they will efforts through rapid test and several “others strategies”.

Since yesterday, Moscow was closed all restaurants, cafes, bars, shops and parks from March 28 until April 5 for the “stay-at-home holidays” announced by Russian President Vladimir Putin, the city’s mayor said in a statement.
Russia has seen its sharpest spike in numbers in the past 24 hours, adding 182 confirmed coronavirus cases, 136 of which are in Moscow. The total number of cases in the country now stands at 840, with three deaths, according to Russian health authorities.

The Russian government has also moved to ban all regular and charter international flights starting from March 27, per government decree.
Meanwhile, the Indian government has announced a relief package worth $22.6 billion to assist those most affected by the coronavirus pandemic and the nationwide lockdown. The relief package includes medical insurance cover of $66,400 per person to those working on the frontlines, such as medical workers, sanitation workers and community health workers. This measure will cover around 2 million people.

The government will provide 800 million people — nearly two-thirds of the country’s population — with 5 kilograms of rice or wheat each month for the next three months for free. “We do not want anyone to go hungry,” Sitharaman said.

Other measures announced include fast-tracking subsidies and benefits for farmers, construction workers, widows and the disabled as well as increasing the minimum wage.

The 87 million farmers who currently receive $80 a year will be given the first instalment for the next financial year immediately, in the first week of April.

Workers under the Mahatma Gandhi National Rural Employment Guarantee Act (MGNREGA) — which guarantees 100 days of unskilled manual work per year — will have their wages increased by $26. Senior citizens, widows and the disabled will get a one-time $13 payment over the next three months in two instalments, benefiting 30 million people. The 200 million female Jan Dhan (government’s direct benefits transfer scheme) account-holders will get a one-time amount of $6.60 each per month for the next three months.

Women on the Ujjwala (government gas subsidy scheme) will be given free cylinders for three months. This will benefit 83 million families living below the poverty line.

Jordan on Wednesday eased one of the world’s strictest lockdowns over the coronavirus after it prompted chaotic scenes in the country. Days after a total curfew went into effect, people clamored to receive bread distributions from government trucks, the emergency hotline went offline after it apparently became overloaded with phone calls, and some reported they had nothing at home to eat.

But on Tuesday, the government backtracked, loosening restrictions on movement. After four days of total lockdown, people were allowed to leave their homes on foot for essential trips, such as purchasing food from small convenient stores and obtaining medicine. A curfew is still in place from 6 p.m. to 10 a.m.

However, Covid19’s saga is strategic surprises which everyone is not predict earlier, and those saga has shocked several countries either they are poor countries or rich countries and to overcome those “deadly viruses” lockdown policy is a good policy which need to try.

At least, if any country want to make decision related to lockdown policy. They must have and fullfil four conditions such as they must have enough cash flow money to give a relief package; their goods, food and fresh water must ready on enough stock during lockdown; their supply chain goods, food and fresh water must have smoothly done and last but not least citizen’s obey to all of government’s instructions to stay, to work and to pray at home must be perfectly done by them.

If United States as the main of global economic machine will harm through Covid19’s attacks and they are worrying those attacks can devastating their national economic, those facts is means all of countries around the world must be worried to because being admit or not, the gobal society will enter global uncertainty which can makes global unstable situations and global mass riots. We do not want it happens but we must prepare if its comes.

*) The writer is global and strategic issues observer. Living in Manado, North Sulawesi.

Disclaimer: Every opinion in this media is the responsibility of the author. If there are parties who object or feel aggrieved with this article, according to the press rules, that party can give the right of reply to the author of Opinion and Editor will publish the article in a balanced manner.