Category: Nasional

Nur Gandir Karena Cintanya Tidak Direstui
By: On:

Nur Gandir Karena Cintanya Tidak Direstui

 

JP-Sukabumi, Nur (16) nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, Rabu (20/03) karena jalinan cintanya tidak direstui orang tua.

Pihak keluarga tidak menyangka jika Nur yang tamatan SMP itu bisa berbuat nekat. Peristiwa tersebut membuat geger Kampung Ciawitali RT 01/06, Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Nur melakukan gantung diri menggunakan selembar kain batik yang diikatkan di kusen pintu kamarnya. Peristiwa tragis ini pertama kali diketahui oleh temannya, Rina (18) sekira pukul 08.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, sebelum mengakhiri hidupnya Nur sempat datang ke rumah Rina, sekitar pukul 07.30 WIB.

Nur menangis dan menceritakan kepada Rina mengenai hubungannya dengan EP yang tidak direstui orang tuanya. Nur sangat kecewa dengan keluarganya dan sempat mengatakan ingin mati saja apabila putus dengan EP.

Usai menceritakan permasalahannya kepada Rina, Nur lalu pulang ke rumahnya. Diduga Nur yang sedang sendirian di rumahnya langsung melakukan aksi gantung diri dengan mengambil kain batik, kain tersebut diikatkan di ventilasi pintu dan dijeratkan ke lehernya sendiri.

Sebelum gantung diri, Nur sempat berpamitan dengan Rina melalui aplikasi Whatsapp, korban mengatakan ingin pamit pergi ke surga dan menitipkan kepada Rina untuk mengurus adiknya yang masih kecil.

Mendapat pesan tersebut, 30 menit kemudian, Rina pergi ke rumah korban dan menemukan korban yang mengenakan kaos berwarna hitam dan celana pendek tersebut sudah dalam keadaan tergantung dengan lidah menjulur keluar. Rina pun berteriak sejadi-jadinya sambil menangis dan warga yang mendengar teriakan Rina langsung berdatangan ke TKP.

Saat polisi datang, Nur masih dalam posisi menggantung. Korban segera diturunkan dan dievakuasi. Polisi juga mengamankan BB seperti kain batik, kursi plastik dan HP milik korban serta meminta keterangan beberapa saksi.(Icha)

Potensi Titik Balik Jokowi
By: On:

Potensi Titik Balik Jokowi

By Eep Saefullah Fatah

Setiap petahana menghadapi ancaman titik balik. Ketika titik balik itu sudah menggejala, biasanya sulit bagi sang petahana untuk “rebound”.

Potensi titik balik itulah yang saat ini dihadapi oleh Presiden Jokowi. Ada setidaknya tiga kemungkinan jalan bagi titik balik Jokowi.

(1) *Krisis Otentisitas*. Ketika mulai menjabat, sosok Jokowi sebagai “Presiden” adalah sebuah mitos — tak terukur. Sekarang “Presiden Jokowi” sudah menjadi sesuatu yang historis. Teraba. Terukur. Bisa dinilai.

Orang pun sudah bisa menilai seberapa otentik kah dirinya. Apakah yang dikatakannya adalah yang dilakukannya? Apakah memang ia semerakyat yang dikesankannya?

Jika Jokowi makin kehilangan otentisitasnya, maka daya magnet elektoralnya pun bakal meluntur. Ini bahaya yang saat ini sedang mengancam Jokowi.

(2) *Gagal Kebijakan*. Ketika “orang-orang” merasa kebijakan Presiden Jokowi tak membikin hidup mereka lebih baik, maka makin sedikit alasan bagi mereka untuk memilih Jokowi kembali.

Yang saya maksud sebagai “orang-orang” ini adalah mereka yang bergelut penuh keringat dengan hidup mereka — bukan pengamat atau analis yang “pintar” merumuskan keadaan sesuai selera mereka.

Dalam Pilpres 2014 Jokowi bisa menjual “akan”, “hendak”, atau sekadar “rencana”. Sekarang, dalam Pilpres 2019, ia hanya punya opsi jualan: “sudah” dan “sedang”. Dulu Jokowi bisa menghadapi pemilih dengan janji, sekarang hanya bisa dengan bukti.

Sepanjang perjalanan menuju 17 April 2019, Jokowi harus mengadapi orang-orang yang menilainya sebagai pembuat kebijakan yang gagal. Semakin besar himpunannya, semakin tegas titik balik Jokowi.

(3) *Krisis Representasi*. Ketika orang-orang yang paling dirugikan oleh keadaan merasa tak dipihaki, tak dibela, tak diwakili, maka mereka akan menolak Jokowi secara militan. Ironisnya, semilitan itulah mereka dulu mengelu-elukannya. Inilah krisis representasi.

Krisis representasi itu berpotensi melahirkan “protest voters”: Pemilih yang marah dan melawan.

 

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Fitnah kepada Kiai NU: Rahmat atau Laknat?
By: On:

Fitnah kepada Kiai NU: Rahmat atau Laknat?

Bagaimana rasanya Anda dituduh telah merevisi iman? Bagaimana rasanya Anda dibilang kumpulan orang sakit jiwa? Sebagai manusia biasa, tentu sakit hati. Kalau masih bisa sakit hati, itu artinya kita masih manusia biasa. Buru-buru saya teringat petuah Gus Dur: “Kalau masih terganggu dengan hinaan dan pujian, itu tandanya hamba amatiran”. Iya saya memang masih amatir.

Yang kasihan kawanku Abdul Moqsith Ghazali. Dia dituduh sebagai biang kerok bahsul masai soal status non-muslim yang diributkan itu. Dia dituduh sebagai sebagai arsiteknya. Padahal, menurut informasi dari kawan-kawan yang mengikuti Bahsul Masail Maudhu’iyah, dia justru banyak diam. Dia hanya menjadi moderator pada sesi kedua yang membicarakan mengenai konsepsi Islam nusantara.

Pada sessi pertama yang membahas status non-muslim kendali moderator dipegang Gus Ghofur. Saya tanya pada seorang teman yang mengikuti sessi itu, karena kebetulah saya memandu di Komisi Rekomendasi. “Cak Abdul Moqsith Ghazali bicara apa tentang status non-muslim”?, tanyaku. “Ngga ada mas. Mas Moqsith lebih banyak diam sambil manthuk-manthuk. Mungkin dia enggan bicara karena kiainya, Kiai Afifuddin Muhajir sudah banyak memberi pengayaan”, jawab teman itu.
Meski banyak diam, tapi dia diminta untuk menjadi juru bicara yang melaporkan hasil sidang bahsul masail maudhu’iyah, sebagaimana dalam Munas di Lombok pada 2017 dan Mukamar di Jombang 2015. Begitu tema yang dia sampaikan menjadi kontroversi, Abdul Moqsith Ghazali  pun menjadi sasaran tembak. Bahkan, sempat beredar wa yang seolah ditulis Gus Ghofur bahwa yang disampaikan Abd Moqsith merupakan pikirannya sendiri, bukan keputusan bahsul masail. Bersyukur akhirnya Gus Ghofur membantah dan memastikan ungkapan itu adalah hoax yang ditulis seseorang mengatasnamakan dirinya.

Seorang habib muda yang juga jajaran Syuriah PCNU Pasuruan juga menyerang Abdul Moqsith Ghazali membabi buta melalui twitter. Kebenciannya pada Abdul Moqsith Ghazali sedemikian rupa yang dituduh sebagai perusak bahsul masail.

“Biar saja saya difitnah. Kalau mau naik kelas memang harus melalui tahapan ini. Bahkan, kalau mau jadi wali fitnahnya semakin keras”, katanya dalam perbincangan sebuah WAG.

Saya tidak tahu, apakah fitnah itu menjadi rahmat atau laknat? Semoga menjadi rahmat bagi yang difitnah dan menjadi laknat bagi yang menfitnah. Kalau soal keimanan dan keislaman ulama-ulama NU gak usah diragukan.

Kalau Anda mengatakan NU mau merevisi iman hanya karena ajakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara untuk tidak menyebut non-muslim sebagai kafir, jalas itu tuduhan ngawur. Yang dibahas ulama-ulama NU bukan soal teologi. Mengapa? Karena soal teologi sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Sudah muttafaq alaih. Yg dibahas adalah statusnya sebagai warga negara.

Saya tahu, meskipun sudah dijelaskan, para penfitnah NU tetap tidak mau paham, karena pahamnya terhadap NU memang sudah begitu dari oroknya. Yang aneh justru orang NU –bahkan pengurus NU–yang ikut-ikutan terlarut dalam semburan fitnah yang ditiupkan para pembenci NU. Mereka menari dalam musik yang ditabuh para pembenci NU.

Teruslah engkau fitnah NU. Bersekutulah dengan aktivis-aktivis HTI (alm) yang kebenciannya pada NU sampai ke ubun-ubun. Karena NU-lah aktor penting di balik pembubaran HTI. Bahkan, untuk melawan NU sekarang ini, kabarnya mereka akan ikut mencoblos dalam pilpres, padahal ikut pemilu selama ini mereka haramkan. Mungkin eks HTI menganggap sekarang ini dalam kondiri darurat, sehingga boleh melakukan hal yang mereka haramkan sebelumnya. Terserah!

NU sudah biasa difitnah, dan biasanya orang-orang yang menfitnah NU akan bergelimpangan sendiri.

Bagaimana dengan fitnah kepada Abdul Moqsith Ghazali? Dia pasti menikmati. Bukan karena menaikkan popularitas, tapi bisa mempercepat menjadi wali seperti yang dicita-citakan. Kalau yang terakhir ini jangan diatanggapi serius.

Ciputat, Maret 2019

KH Dr Rumadi Ahmad, Ketua Lakpesdam PBNU.

 

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Refleksi Akhir Tahun Kemenkeu : APBN 2018 Kita Tutup Dengan Capaian Sangat Baik
By: On:

Refleksi Akhir Tahun Kemenkeu : APBN 2018 Kita Tutup Dengan Capaian Sangat Baik

Jayakartapos,  Seluruh jajaran Kemenkeu yang saya cintai dan banggakan, tahun 2018 baru saja kita lalui. Alhamdulillah, tugas pengelolaan APBN dan Keuangan Negara telah kita tunaikan dengan baik. Tahun 2018 bukanlah tahun yang mudah : ekonomi global, harga komoditas, arus modal dan nilai tukar bergejolak tinggi, suku bunga global dan dalam negeri mengalami kenaikan; perdagangan global masih lesu dan tidak menentu, dan ancaman kejahatan perpajakan, penyelundupan narkoba, dan perdagangan illegal terus mengancam.

Bencana alam menimpa di beberapa daerah dan Kemenkeu juga mengalami musibah tewasnya 21 jajaran Kemenkeu dalam kecelakaan pesawat. Semua itu dapat menjadi alasan kita untuk patah semangat.

Namun kita dan Indonesia tidak pernah menyerah! Indonesia bahkan menjadi tuan rumah event internasional bergengsi : Asian Games dan Para Games, dan Pertemuan Tahunan IMF/World Bank yang semuanya berjalan dan berhasil sukses. Dunia menghargai dan menghormati Indonesia.

APBN 2018 kita tutup dengan capaian sangat baik.

(1) Penerimaan negara baik pajak, bea cukai, dan penerimaan negara bukan pajak tumbuh tinggi dan sehat, terimakasih pada seluruh jajaran yang mengelola penerimaan negara.
(2) Belanja negara juga terealisir dengan baik, di pusat maupun daerah.
(3) Pembiayaan mengalami kontraksi, dengan defisit APBN sebesar 1.72% dari PDB, jauh lebih rendah dari angka UU APBN 2018 sebesar 2,19%. Ini adalah defisit terkecil sejak 2012.
(4) Keseimbangan primer adalah sebesar Rp 4,1 Triliun, ini surplus keseimbangan primer sejak 2011. Prestasi..!!

Kita akan terus menjaga APBN dan Keuangan Negara secara profesional, hati-hati dan bertanggung jawab. Kita terus melakukan pembiayaan yang inovatif baik melalui kerja sama pemerintah dan Badan Usaha/ Swasta maupun dengan “Blended Finance”. Agar Partisipasi swasta dan masyarakat terus meningkat, sehingga mereka ikut memiliki proses dan proyek pembangunan.

APBN dan Kebijakan Fiskal telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat : membantu keluarga miskin untuk makan, sekolah, kesehatan, mendukung operasi sekolah dan madrasah, meningkatkan pendidikan vokasi dan beasiswa bagi dosen, santri, murid/mahasiswa miskin, dan mereka yang berprestasi.

Kita menambah anggaran kesehatan untuk memerangi gizi buruk. Membayar BPJS kesehatan agar mampu menjalankan jaminan kesehatan secara baik dan berkelanjutan. APBN juga untuk membangun infrastruktur hingga ke perbatasan, juga membantu usaha kecil menengah/koperasi dan pelaku ultra mikro. APBN juga membantu daerah bencana.

Untuk pertama kali dalam 15 tahun, pemerintah tidak mengajukan perubahan dalam 15 tahun, pemerintah tidak mengajukan perubahan UU APBN 2018, hal ini mendorong semua kementerian/lembaga fokus menjalankan rencana anggaran secara penuh.

Saya berterimakasih atas kerjasama dan capaian oleh semua lembaga dan kementerian. Kita juga terus memperbaiki kualitas pengelolaan dan pemanfaatan asset negara, diantaranya melalui revaluasi asset.

Sebagai otoritas fiskal, kita terus bekerja sama dengan bank Indonesia, OJK dan LPS untuk menjaga stabilitas sektor keuangan termasuk mencegah terjadinya krisis keuangan. Ini pilar penting dalam menjaga kepercayaan.

Kemenkeu tidak boleh berhenti untuk mereformasi dan mentransformasikan organisasi agar terus mampu menjawab tantangan gejolak global, perubahan teknologi di era digital dan bonus demografi yang segera berakhir.

Alhamdulillah, kita terus mengukir prestasi dengan 37 penghargaan kita raih pada tahun 2018, baik dari lembaga internasional (World Government Summit, Global Capital-Euromoney, Global Market, dll) dan oleh lembaga nasional (KPK, Ombudsman, MENPAN RB, dll). Kita tidak akan dan tidak boleh berhenti berprestasi, karena ini adalah wujud nyata kecintaan kita kepada Indonesia.

Saya berterimakasih dan sangat menghargai kerja dan kinerja seluruh jajaran kemenkeu dengan dukungan keluarga. Mereka yang di kantor pelayanan, di lapangan, di kantor wilayah, di perbatasan, di laut lepas, dan di kantor pusat.

Terimakasih atas dedikasi dan keikhlasan semua dalam menjalankan tugas. Kita jaga estafet tanggung-jawab menuju cita-cita kemerdekaan.

Terimakasih kepada Presiden Jokowi dan Wapres Kalla, sehingga kita mampu bekerja memberi yang terbaik untuk Indonesia.

Kita Sambut 2019 dengan Optimisme namun tetap waspada dan hati-hati.

Selamat Tahun Baru para penjaga Keuangan Negara!!

Jakarta, 31 Desember 2018.

MENKEU : SRI MYLYANI INDRWATI.