Category: Politik

Agum Gumelar: Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas Akan Netral Dalam Pemilu 2019
By: On:

Agum Gumelar: Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas Akan Netral Dalam Pemilu 2019

 

JP-Jakarta. Melalui Surat Edaran Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) Nomor : SE/02/III/2019/IKAL tertanggal 28 Maret 2019 yang ditanda tangani oleh Agum Gumelar menyatakan bahwa, sebagai sebuah organisasi atau kelembagaan, IKAL harus bersifat netral.

“Namun, sebagai individu anggota IKAL mempunyai hak politik yang sama dengan warga negara lainnya, sehingga bagi masing-masing individu dipersilahkan untuk menentukan pilihan sesuai hati nurani, dengan tidak membawa atribut IKAL,” ujar Agum Gumelar sebagai Ketua Umum IKAL dalam surat edaran tersebut.

Selanjutnya, surat edaran itu berisi perbedaan memilih bersifat sementara, diharapkan segera berakhir begitu perhelatan demokrasi selesai, dan kembali menjadi satu keluarga besar yang utuh serta menghormati apapun yang menjadi keputusan demokrasi. (Red)

Kiai Maruf Sangat Mengejutkan, Sandiaga Jadi Terlihat Kuno
By: On:

Kiai Maruf Sangat Mengejutkan, Sandiaga Jadi Terlihat Kuno

 Oleh: Alifurrahman.

Mengejutkan. Mungkin itu yang bisa saya simpulkan dari debat Cawapres kali ini. di luar ekspektasi saya, dan mungkin di luar perkiraan banyak orang. Begitu tenang, begitu jelas, dan sangat-sangat tepat, terukur dan mudah dipahami. Tidak ada pertanyaan yang tak mampu dijawab dengan baik, pemilihan katanya pun begitu variatif. Sementara sebaliknya, Sandiaga tetap begitu, sebut nama orang yang entah ada atau tidak, kemudian jualan Oke Oce. Tak ada kebaruan, tak ada solusi.

Kiai Maruf begitu fasih menjelaskan KIP Kuliah, Kartu Sembako Murah dan Kartu Pra Kerja. Dan yang cukup membuat saya merinding, ketika beliau dengan percaya diri mengatakan “la takhof wa la tahzan, anak-anakku jangan takut bermimpi, negara hadir untuk memenuhi seluruh kebutuhan kalian.”

Saya terkejut ketika Kiai Maruf bisa dengan tenang menjelaskan permasalahan stunting. Bahwa penanganannya harus dilakukan sejak anak dalam kandungan, bukan setelah lahir, apalagi setelah usia 2 tahun. Dari sisi kedokteran dan fiqh bisa beliau jelaskan, bertemu di satu solusi yang sama. Ini bukan saja sekedar membuat kita yakin bahwa Kiai paham betul cara menangani stunting di Indonesia, tapi juga menyadarkan kita bahwa teori kedokteran dan syariah bisa sejalan.

Poin ini sangat penting, karena selama ini di kalangan muslim fanatik, beberapa ada yang meragukan ilmu kedokteran. Sekali lagi, Kiai berhasil menyadarkan kita semua, bahwa ilmu kedokteran dan fiqh pada dasarnya sama dan tidak saling bertentangan.

Begitupun ketika menjelaskan soal infrastruktur, Kiai Maruf dengan sangat yakin membahas pembangunan palapa ring. Dunia usaha dan dunia industri, opera house, infrastruktur langit, decacorn, cyber university dan basic capital and maximize utility. Semua adalah istilah-istilah modern dan kekinian, yang berhasil disampaikan secara detail.

Bahkan soal birokrasi, tentang instrumen pemantau anggaran dari pusat ke daerah, Kiai Maruf Amin bisa menjelaskan dengan baik. Dengan Neraca Pendidikan Daerah serta Data Pokok Pendidikan.

Dan bagian yang paling menarik, sangat telak, adalah saat Sandiaga dengan percaya dirinya mengeluarkan KTP, untuk menggantikan kartu-kartu sakti yang ditawarkan oleh Jokowi Amin. Jawaban Kiai benar-benar di luar perkiraan, jauh lebih modern melampaui ide Sandi.

“KTP belum ready digunakan. Karenanya kita pakai kartu per sektor supaya lebih mudah. Kalau masyarakat sudah siap, pakai handphone saja nantinya,” jawab Kiai Maruf santai.

Jawaban ini kalau diibaratkan main bola, seperti aksi tendangan jarak jauh yang langsung menghujam tanpa ampun ke gawang lawan. Sangat fantastis. Haha

Bahasan-bahasan tersebut pada akhirnya membuat kita sadar, bahwa Kiai Maruf bukanlah Kiai kolot, kaku, ketinggalan jaman ataupun tak paham teknologi. Justru, di usianya yang sudah tidak muda, Kiai Maruf malah jauh lebih paham soal teknologi dibanding Sandiaga.

Kiai sangat menguasai permasalahan hingga teknis dan solusi yang akan ditawarkan. Begitu detail. Bahkan mampu menggambarkan visi Indonesia maju 10 tahun ke depan.

Waaaaw….!

Saya sebagai yang jauh lebih muda dari Kiai, bahkan sempat meragukan kapasitasnya dalam dunia digital dan berpikir beliau ini hanya tau soal agama, saat menuliskan ini saya merasa sangat-sangat malu.

Kiai yang tampil dengan surbannya itu, terlihat begitu luar biasa dan visioner. Berpikir jauh ke depan. Memahami segala hal permasalahan yang ada di Indonesia, baik masalah ibu-ibu hingga anak muda. Sementara Sandi yang tampil dengan jas mewahnya, terlihat jauh lebih muda, tapi nyatanya tak paham apa-apa.

Saya pikir, malam ini akhirnya kita paham kenapa Presiden Jokowi memilih Kiai Maruf Amin sebagai wakilnya hingga 2024. Bukan sekedar mengamankan suara NU, bukan sebatas menjadi tameng serangan kelompok radikal. Tapi lebih dari itu, Maruf Amin memang sangat pantas untuk menjadi Wapres. Lagi-lagi, saya malu sekali karena dulu sangat menolak Kiai Maruf sebagai pendamping Jokowi. hahaha

Terakhir, inilah saatnya Indonesia memiliki dua pemimpin terbaik yang lahir dari rahim rakyat biasa. Bukan konglomrat, maju bukan karena punya logistik dan kardus. Jokowi dan Kiai Maruf adalah dua orang yang benar-benar memiliki kapasitas dan mau untuk bekerja, membawa negara ini ke arah yang lebih maju. Begitulah.

*#JokowiAminMENANG*

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Analisis Sosiologis Pemenang Pemilu Presiden 2019
By: On:

Analisis Sosiologis Pemenang Pemilu Presiden 2019

Oleh : Musni Umar, Ph.D

Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta

Sejak pemilihan Presiden RI secara langsung pada tahun 2004, sebagai sosiolog saya telah mengamati dan mengalisis Pemilu Presiden dengan mewawancarai banyak orang untuk mengetahui siapa yang akan dipilih rakyat dalam Pemilu Presiden RI sebelum Pemilu dilaksanakan.

Begitu juga, saya aktif mengamati dan menganalisis Pemilihan Gubernur DKI, karena Jakarta sebagai ibukota negara adalah barometer nasional dalam segala hal termasuk dalam bidang politik.

Alhamdulillah semua pengamatan dan analisis saya sebagai sosiolog tidak pernah meleset – selalu tepat dan benar.

Pada Pemilu Presiden RI pertama secara langsung tahun 2004, bertarung lima pasang calon, yaitu Megawati Sukarno-Hasyim Muzadi, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, M. Amien Rais-Siswono Yudohusodo, Hamzah Haz-Agum Gumilar, Wiranto-Salahuddin Wahid.

Pada saat itu saya mewawancarai banyak orang dan jauh sebelum hari H saya sudah mengatakan kepada banyak pihak bahwa SBY-JK akan memenangi Pemilu Presiden RI.

Begitu pula dalam Pemilu Presiden RI 2009 bertarung tiga pasangan calon Presiden yaitu Susilo Bambang Yudhoyono-Budiono, Megawati Sukarno Putri-Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla-Wiranto. Saya juga melakukan hal yang sama dan memastikan jauh sebelum H., SBY-Budiono akan memenangi Pemilu Presiden RI 2009.

Pada Pemilu Presiden RI tahun 2014 bertarung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa melawan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Saya juga melakukan wawancara dengan banyak orang dan bahkan saya menulis buku “Jokowi Satrio Piningit Indonesia” yang diluncurkan di Megawati Center Jalan Proklamasi Jakarta. Pengamatan dan analisis sosiologis saya menjadi kenyataan, Jokowi-JK terpilih menjadi Presiden-Wakil Presiden RI periode 2014-2019.

Prabowo-Sandi 2019

Tanpa bermaksud mendahului Pemilu 17 April 2019 dan keputusan KPU tentang hasil Pemilu, sebagai sosiolog dan akademisi yang memegang nilai-nilai kejujuran, kebenaran dan keadilan, saya sampaikan bahwa berdasarkan hasil wawancara saya dengan banyak orang sejak dimulai kampanye 23 September dan terakhir 30 Desember 2018 saat saya jalan kaki di Car Free Day Jalan Jenderal Sudirman-Jalan MH. Thamrin Jakarta, serta hasil pengamatan dan analisis sosiologis saya sebagai Sosiolog, dengan ini saya kemukakan bahwa Pemilu Presiden 2019 akan dimenangi Prabowo-Sandi.

Indikator sosiologis bahwa Pemilu Presiden akan dimenangi Prabowo-Sandi, pertama, hasil wawancara saya dengan para tokoh di daerah melalui telepon dan wawancara langsung dengan para anggota dewan dari 26 DPRD seluruh Indonesia yang mengikuti Bimtek di Jakarta yang dilaksanakan LPPM Universitas Ibnu Chaldun Jakarta.

Kedua, hasil wawancara langsung dengan peserta reuni 2012 (1-2 Desember 2018) yang menginap di Hotel Takes Mansion Thamrin Jakarta, yang datang dari Medan, Bengkulu, Jambi, Samarinda, Surabaya, dan daerah lain serta ratusan peserta yang saya wawancarai di jalan MH. Thamrin Jakarta saat reuni akbar 212. Semuanya menghendaki ganti Presiden 2019.

Ketiga, hasil wawancara saya di kawasan padat di Mangga Besar, Pecenongan dan jalan Juanda Jakarta dengan rakyat jelata, yang mengimpikan perubahan Indonesia seperti yang terjadi di DKI dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Keempat, kampanye yang dilaksanakan Sandiaga Salahudin Uno, Calon Wakil Presiden RI di berbagai daerah seluruh Indonesia yang selalu membludak dihadiri ribuan orang. Begitu pula, kampanye Prabowo Subianto, Calon Presiden RI yang kampanye di berbagai daerah seluruh Indonesia.

Kelima, seluruh polling di media sosial dimenangi pasangan Prabowo-Sandi dengan kemenangan telak (mutlak).

*Alasan Ganti Presiden*

Banyak faktor yang mendorong rakyat mau ganti Presiden 2019 antara lain:

Pertama, faktor ekonomi. Rakyat jelata bertambah sulit hidupnya (nelongso), susah cari pekerjaan, sembako mahal, perusahaan banyak gulung tikar, banyak pengangguran, tenaga kerja China banjiri Indonesia, kekayaan alam Indonesia dikuras bukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Kedua, faktor Agama. Ulama di kriminalisasi, umat dipecah belah dan komunis ditengarai bangkit di Indonesia.

Ketiga, korupsi merajalela. Korupsi di eksekutif, legislatif dan yudikatif sendiri-sendiri serta berjamaah masif dilakukan. Pembangunan infrastruktur yang dijadikan andalan tidak luput dikorupsi.

Keempat, utang pemerintah Indonesia serta BUMN semakin bertambah besar jumlahnya, sehingga amat membebani APBN karena sangat besar dana dialokasikan untuk bayar bunga dan utang pokok. Dampaknya, rakyat tidak merasakan kesejahteraan dalam pembangunan

Kelima, kedaulatan Indonesia tergadai. Untuk mengecam pembantaian Muslim Rohingya dan Uighur tidak berani dilakukan.

Keenam, kesenjangan, ketidakadilan dan separatisme dibiarkan.

Atas dasar itu, kita menyaksikan dukungan rakyat kepada Prabowo-Sandi dalam Pemilu Presiden 2019 bagaikan tsunami yang menerjang-tidak bisa dibendung oleh siapapun, seperti yang pernah dialami Jokowi dalam Pilgub DKI 2012 dan Pemilu Presiden 2014.

Wallahu a’lam bisshawab.

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Erick Thohir Tidak Percaya Survei. Ada Apa?
By: On:

Erick Thohir Tidak Percaya Survei. Ada Apa?

By : Djadjang Nurjaman.
(Pengamat Media dan Ruang Publik)

Erick Thohir Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf membuat pernyataan yang aneh. Survei tidak penting. Yang lebih penting adalah gerakan massif di daerah.

Apa gak salah niy Pak Erick. Bukannya publikasi survei selama ini menjadi andalan utama Jokowi? Sampai ada julukan Jokowi adalah Presiden Republik Survei Indonesia.

SMRC dan LSI Denny JA baru saja mempublikasikan hasil survei. Denny JA memastikan pilpres sudah selesai. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58,7 persen, Prabowo-Sandi cuma 30,9 persen. Ada selesih 27,8%.

Direktur SMRC Jayadi Hanan mengatakan butuh keajaiban bagi Prabowo-Sandi untuk menang. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 57,6 persen, Prabowo-Sandi 31,8 persen. “Angkanya melampaui 25 persen,” kata Jayadi.

Kalau benar seperti dikatakan SMRC dan LSI Denny JA harusnya tidak perlu lagi gerakan massif di daerah. Untuk apa. Kan sudah menang? Buang-buang tenaga dan uang saja. Lebih baik dananya disiapkan untuk merayakan kemenangan Jokowi.

Pasti ada-apa-apanya hingga Erick menyampaikan pernyataan semacam itu. Usut punya usut Erick tidak salah ucap. Dalam berbagai kesempatan Jokowi menyatakan secara terbuka kepada pendukungnya agar waspada. Elektabilitas mereka sedang turun. Jokowi malah menyebut di Jabar elektabilitasnya turun 8 persen.

Kita tentu lebih percaya Jokowi dibanding lembaga-lembaga survei. Tidak mungkin lah Jokowi melemahkan semangat para pendukungnya sendiri. Tidak mungkin lah dia buka rahasia. Pernyataan Jokowi adalah ekspresi kekhawatiran yang sangat dalam.

Kalau melihat manuver Jokowi maupun tim kampanyenya, tidak menunjukkan perilaku orang yang sudah menang perang. Yang muncul adalah perilaku orang yang putus asa dan kalap.

Kenaikan gaji ASN, TNI, dan Polri diobral. Bansos juga habis-habisan digelontorkan. Warga Jabar sampai basah kuyup karena digelontor Bansos dan CSR dari berbagai BUMN.

Pengerahan ASN dan Polri sangat terasa di lapangan. Ferry Mursidan Baldan Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandi sampai berani menyimpulkan,” yang kami hadapi di lapangan adalah aparat negara,” ujarnya.

Ferry benar. Jokowi dalam sebulan terakhir aktif bertemu kalangan milineal di berbagai kota besar di Indonesia. Kunjungannya difasilitasi oleh Polri melalui program “Milenial Road Safety Festival.” Foto-foto Jokowi tersebar di kota-kota besar di seluruh Indonesia sebagai ikon keselamatan berkendara.

Bersamaan dengan itu gerakan Prabowo-Sandi di lapangan banyak dihambat. Di Yogyakarta dan Bandung, Pidato Kebangsaan Prabowo harus berkali-kali pindah gedung. Pemilik gedung ditekan dan tidak berani menyewakan.

Ketika berkunjung ke Banten, Helikopter Prabowo juga dilarang Bupati Pandeglang mendarat di alun-alun milik Pemkab. Prabowo terpaksa memindahkan pendaratan di sebuah lapangan di Serang.

Konser solidaritas Ahmad Dhani di Surabaya tidak diberi izin polisi. Konser itu semula akan dihadiri Sandiaga Uno.

Dalam setiap kunjungan ke berbagai daerah baik Prabowo maupun Sandi disambut lautan manusia. Sebaliknya kampanye yang dihadiri Jokowi, apalagi Ma’ruf Amin sepi. Yang dialami Ma’ruf Amin lebih tragis lagi. Dia batal berkampanye karena hanya beberapa gelintir pendukungnya yang hadir.

Wajar kalau Erick Thohir menganggap hasil survei tidak penting. Itu hanya membuai dan menina-bobokkan mereka. Cara-cara lama menipu publik, tapi sudah tidak laku. Pilihannya sudah benar. Gerakan massif di bawah.

Pertanyaannya siapa yang akan digerakkan di bawah? Untuk hadir kampanye saja, rakyat sudah ogah. Apalagi kampanye, bergerak _door to door._ Tidak ada alasan cukup kuat yang bisa menggerakkan mereka.

Parpol dan para calegnya juga tengah fokus mencari selamat sendiri-sendiri. Kalau sampai Jokowi kalah dan mereka tidak terpilih menjadi anggota legislatif, bakal rugi dua kali.

Jalan satu-satunya bagi Jokowi adalah menggerakan aparat negara. Mulai dari ASN, Polisi, intelijen, dan TNI.

Tapi tunggu dulu. Apa mereka juga mau mempertaruhkan jabatan dan masa depannya untuk Jokowi?

Mereka tidak bisa menutup mata, ada arus besar yang tengah bergerak.
Arus besar perubahan di tengah masyarakat yang menginginkan pergantian kepemimpinan nasional.

Dalam situasi seperti ini kita jadi teringat pada ucapan Presiden George W Bush Jr. _”Either with us OR with Enemy. ?!”

Mau tetap bersama Jokowi, atau bersama rakyat?!

The End

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Potensi Titik Balik Jokowi
By: On:

Potensi Titik Balik Jokowi

By Eep Saefullah Fatah

Setiap petahana menghadapi ancaman titik balik. Ketika titik balik itu sudah menggejala, biasanya sulit bagi sang petahana untuk “rebound”.

Potensi titik balik itulah yang saat ini dihadapi oleh Presiden Jokowi. Ada setidaknya tiga kemungkinan jalan bagi titik balik Jokowi.

(1) *Krisis Otentisitas*. Ketika mulai menjabat, sosok Jokowi sebagai “Presiden” adalah sebuah mitos — tak terukur. Sekarang “Presiden Jokowi” sudah menjadi sesuatu yang historis. Teraba. Terukur. Bisa dinilai.

Orang pun sudah bisa menilai seberapa otentik kah dirinya. Apakah yang dikatakannya adalah yang dilakukannya? Apakah memang ia semerakyat yang dikesankannya?

Jika Jokowi makin kehilangan otentisitasnya, maka daya magnet elektoralnya pun bakal meluntur. Ini bahaya yang saat ini sedang mengancam Jokowi.

(2) *Gagal Kebijakan*. Ketika “orang-orang” merasa kebijakan Presiden Jokowi tak membikin hidup mereka lebih baik, maka makin sedikit alasan bagi mereka untuk memilih Jokowi kembali.

Yang saya maksud sebagai “orang-orang” ini adalah mereka yang bergelut penuh keringat dengan hidup mereka — bukan pengamat atau analis yang “pintar” merumuskan keadaan sesuai selera mereka.

Dalam Pilpres 2014 Jokowi bisa menjual “akan”, “hendak”, atau sekadar “rencana”. Sekarang, dalam Pilpres 2019, ia hanya punya opsi jualan: “sudah” dan “sedang”. Dulu Jokowi bisa menghadapi pemilih dengan janji, sekarang hanya bisa dengan bukti.

Sepanjang perjalanan menuju 17 April 2019, Jokowi harus mengadapi orang-orang yang menilainya sebagai pembuat kebijakan yang gagal. Semakin besar himpunannya, semakin tegas titik balik Jokowi.

(3) *Krisis Representasi*. Ketika orang-orang yang paling dirugikan oleh keadaan merasa tak dipihaki, tak dibela, tak diwakili, maka mereka akan menolak Jokowi secara militan. Ironisnya, semilitan itulah mereka dulu mengelu-elukannya. Inilah krisis representasi.

Krisis representasi itu berpotensi melahirkan “protest voters”: Pemilih yang marah dan melawan.

 

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.