DI VIETNAM COVID-19 KO DI RONDE PERTAMA

Berita Global
Foto: Ilustrasi, sumber foto: Radar Lampung

Oleh : Mujahidin Nur, Direktur The Islah Centre

Jayakartapos, Jauh sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, sejak akhir Januari lalu saya sudah memeringatkan bahayanya serangan Covid-19 ini bagi bangsa kita. Karenanya, selain melakukan riset dan diskusi bersama tim The Islah Centre mengenai perkembangan virus ini di berbagai belahan dunia, saya juga melakukan komunikasi dengan kementrian-kementrian terkait dan menanyakan kesiapan infrastruktur kita untuk menghadapi serangan Covid-19 ini.

Hal ini kami lakukan karena kami memahami bahwa berperang melawan Covid-19 diperlukan infrastruktur yang baik; dari membangun kesadaran masyarakat akan bahayanya virus ini, menanamkan kedisiplinan dan pola hidup sehat, mempersiapkan rumah sakit, tenaga medis, pembiayaan dalam perang melawan Covid-19 dan berbagai keperluan penunjang lainnya. Intinya dalam berperang melawan Covid-19, kita harus well-armed dan well prepared. Persiapan kita harus matang dan senjata kita harus ampuh apalagi dengan infrastruktur kesehatan kita yang kurang memadai dan minimnya anggaran untuk berperang melawan Covid-19.

Kita harus belajar pada kesuksesan Republik Sosialis Vietnam dalam memerangi Covid-19 sehingga menjadikan Vu Duc Dam, politisi sekaligus salah satu deputi perdana menteri Vietnam yang berada di garda terdepan memimpin peperangan melawan Covid-19 dan kini dinobatkan sebagai national hero atau pahlawan nasional karena kemampuannya menyatukan dan menggelorakan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memusnahkan Covid-19 dari negaranya. Tokoh seperti Vu Duc Dam inilah yang menurut hemat saya belum ada di negara kita ini. Pemimpin yang menjadi sentral perlawanan dan sentral perjuangan yang menggerakan dan menggelorakan seluruh elemen bangsa untuk bahu membahu menghentikan serangan Covid-19 pada bangsa ini.

Kemenangan negara yang terletak di wilayah paling timur Semenanjung Indochina ini dalam berperang di ronde pertama melawan Covid-19 telah menjadikan Vietnam satu di antara ratusan negara di dunia yang dianggap sukses dalam menghadapi pandemic virus mematikan ini. Dengan budget rendah, infrastruktur kesehatan yang kurang memadai dan status sebagai negara terpadat ke 13 di dunia dan berbagai kekurangan lainnya tapi bisa membuat Vietnam sukses dalam perang melawan Covid-19! Dari 123 kasus positif Covid-19 yang dilaporkan semuanya sembuh. Tidak ada angka kematian sama sekali. Lalu, apa yang membuat Vietnam mendapatkan apresiasi dari berbagai penjuru dunia karena kesuksesannya dalam berperang melawan Covid-19 termasuk di dalamnya penghargaan dari organisasi kesehatan dunia, WHO (world health organization)?

Sedikitnya saya menemukan ada enam poin penting yang menjadi kunci kesuksesan Vietnam dalam memenangkan perang melawan pandemic virus Covid-19. Pertama, ketika pandemi Covid-19 mewabah di Wuhan, Hubei, China pada desember 2019, dalam rapat dengan partai komunis Vietnam, perdana menteri Vietnam, Nguyen Xhuan Phuc sudah mulai mengantisipasi dan merespon cepat ancaman itu dengan mengatakan, “Kita harus memerangi pandemik ini, kita harus memerangi musuh yang akan datang ke negara kita (Covid-19).” Sesudah hari itu Vietnam mulai mempersiapkan diri dan menyatakan berperang melawan Covid-19 jauh sebelum Covid-19 pertama kali masuk ke negara mereka (23 Januari). Vietnam sadar betul bahwa salah satu kunci melakukan peperangan melawan Covid-19 adalah kecepatan dalam me-respond issue dengan lemahnya infratruktur kesehatan dan minimnya anggaran pemerintah untuk berperang melawan Covid-19.

Kedua, Vietnam mengambil kebijakan karantina wilayah sebagaimana diterapkan Vietnam ketika pada tanggal 12 Pebruari 2019 pemerintah mendapati 10 warga Hanoi terinfeksi Covid-19, dengan cepat Vietnam langsung melakukan karantina kota Hanoi secara total dan menutup seluruh akses pintu masuk dan keluar ke kota Hanoi yang berpenduduk 10.000 jiwa itu termasuk mengkarantina mereka yang berinteraksi dengan pasien positif Covid-19 atau PDP dan mengkarantina individu-individu yang sesuai dengan kriteria yang sudah mereka tentukan untuk menghentikan transmisi virus Covid-19.

Sebagaimana disampaikan oleh Nguyen Than Pong, walikota Ho Chi Mien City, bahwa kota yang dia pimpin hanya memiliki 900 ruangan. Kalau seandainya Covid-19 tidak bisa dikendalikan ruangan yang dimiliki oleh rumah sakit di Ho Chi Mien tidak akan mampu menampung pasien positif Covid-19. Ini juga yang menjadi alasan pemberlakukan karantina total bagi mereka yang berstatus PDP (pasien dalam pengawasan).

Ketiga, dalam menghadapi Covid-19 Vietnam lebih mengandalkan kekuatan aparatur negara dibandingkan infrastruktur kesehatan atau tekhnologi. Aparatur negara baik dari unsur polisi maupun militer diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pengawasan secara ketat terhadap masyarakat selama masa Karantina wilayah termasuk di dalamnya intelijen-intelijen yang disebarkan sampai ke pelosok-pelosok desa untuk men-suply informasi terkait kondisi riil di lapangan dalam perang melawan Covid-19 dan untuk memastikan regulasi aturan yang dibuat oleh pemerintah dalam perang melawan Covid-19 benar benar ditaati dan dilaksanakan oleh masyarakat.

Keempat, gugus tugas penangan Covid-19 di Vietnam berhasil membangun kesadaran masyarakat sampai ke level paling bawah. Sehingga Anda jangan heran di negara berkembang seperti Vietnam masyarakat menganggap aib mereka yang melanggar aturan-aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah dalam rangka memusnahkan penyebaran virus Covid-19. Mereka yang melakukan pelanggaran akan dikucilkan dan dicaci maki oleh masyarakat baik itu secara langsung maupun melalui media sosial. Salah satu contohnya adalah ketika ada seorang perempuan datang dari negara terinfeksi virus kemudian dia tidak mau dikarantina –karena Vietnam mewajibkan karantina 14 hari bagi mereka yang baru bepergian dari luar negeri utamanya dari negara yang tekena pandemic virus—perempuan itu menjadi obyek hujatan, cemoohan dan cibiran masyarakat Vietnam karena dianggap membahayakan keselamatan masyarakat Vietnam.

Kelima, pemakaian retorika perang. Dalam melakukan penanganan Covid-19 di Vietnam, para pejabat Vietnam senantiasa menyampaikan retorika-retorika perang kepada masyarakatnya. Semua elemen masyarakat, pengusaha atau siapapun yang tinggal dipanggil untuk mengambil bagian dalam peperangan yang dilakukan oleh negara melawan Covid-19 dengan menggelorakan kalimat salah satunya, “ Anda semua harus menjadi benteng pertahanan untuk mencegah serangan Covid-19 masuk ke negara ini.”

Keenam, melakukan tracking secara professional dan all out pada orang-orang yang berinteraksi dengan positif Covid-19 atau biasa disebut pasien dalam pengawasan (PDP), men-tracking orang dalam pengawasan (ODP) yakni mereka yang bersentuhan dengan pasien PDP dan mentracking ODP karena berasal dari wilayah yang menjadi episentrum pandemic, termasuk Vietnam melakukan tracking pada mereka yang berinteraksi dengan ODP kemudian tiga kluster masyarakat inilah yang menjadi objek dilakukan rapid test di Vietnam. Kesuksesan dalam melakukan tracking mereka yang berinteraksi dengan pasien positif Covid-19 sangat menentukan sekali pada kecepatan penyelesaian pandemi virus di sebuah negara. Karenanya, pelibatan aparatur negara dalam melakukan tracking mutlak diperlukan demi efektifitas dan kecepatan tracking sebelum virus tertransmisi kemana-mana.

Alkhasil, sebuah perjalanan ribuan mil tentu dimulai dengan langkah kecil yang mengawalinya. Begitupun dalam peperangan melawan Coid-19. Langkah-langkah sederhana namun strategis yang diterapkan negara sosialis Vietnam yang terbukti sukses dalam melawan Covid-19 tentu perlu kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Dari mana kita memulainya? Dari langkah sederhana semua elemen bangsa ini termasuk Anda.

Mulai hari ini mari kita sama-sama menatap jauh ke depan. Akan seperti apa negeri ini andai kita tidak mampu memenangkan perang dengan Covid-19 ini? Karenanya, berhentilah beretorika saudaraku, berhentilah saling menghujat, berhentilah berpolitik di tengah pandemi dan penderitaan masyarakat. Mari kita bergandengan tangan, satukan barisan (shof) dan sama-sama mengambil peran strategis kita sesederhana apa pun yang bisa kita lakukan dalam peperangan melawan pandemi Covid-19.

Saudaraku, Pertiwi saat ini memanggil Anda! Pertiwi saat ini membutuhkan Anda! Torehkanlah sejarah indah untuk anak cucu Anda dengan langkah kongkrit dan strategis –sesederhana apapun peran yang bisa Anda lakukan—walau hanya mampu memanjatkan doa dan menaati aturan pemerintah terkait pemberantasan Covid-19. Kelak, ketika perang melawan virus ini usai, anak cucu Anda akan bangga bahwa Anda, dahulu, pernah bersama bangsa ini ikut serta berperang melawan Covid-19!***

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.