DISKUSI PERKADERAN : NASIB PERKADERAN HMI DI TENGAH COVID-19

Berita Nasional Sosbud
Foto: Logo HMI, sumber foto: Qureta.com

Oleh : Arbar Wijaya

(Moderator dalam Diksusi Perkaderan dan Alumnus Senior Course Tingkat Regional BPL HMI Cabang Ciputat 2020)

Jayakartapos, Pasal 8 Anggaran Dasar HMI tentang Fungsi mengatakan bahwa HMI berfungsi sebagai organisasi kader. Dalam pola perkaderan HMI, fase pembentukan dan pengembangan seorang kader sudah dimulai sejak anggota (kader) mengikuti Latihan Kader I (Basic Training) HMI sampai dengan habis masa keanggotannya. Fase pembentukan dan pengembangan ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu perkaderan formal dan perkaderan informal. Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis selaras dengan pedoman perkaderan. Berbicara mengenai perkaderan HMI yang sadar dan sistematis, maka kita membicarakan tentang perkaderan formal yang ada di HMI. Namun, belakangan ini kita terpaksa untuk tetap di rumah aja akibat dari pandemi covid-19 yang mengakibatkan berbagai jenjang perkaderan formal HMI harus dihentikan.

Tren belajar dari rumah belakangan ini sedang eksis di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Proses belajar mengajar dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sepeti penggunaan aplikasi rapat secara dalam jaringan (daring). Tak menutup kemungkinan jika HMI dalam melaksanakan perkaderan fomalnya dilakukan dengan metode daring ini. Namun, pertanyaannya adalah seberapa efektif kah apabila para pengurus HMI menjalankan jenjang training dengan sistem daring?. Karena pada hakikatnya perkaderan harus tetap berjalan, akan tetapi kita sudah terbiasa dengan perkaderan yang dilakukan dengan cara konvensional (jumpa muka, fikiran, dan jiwa).

Alumni Senior Course (SC) Tingkat Regional BPL HMI Cabang Ciputat 2020 melaksanakan diskusi daring bersama Pengurus BPL PB HMI yang juga menjadi Koordinator MOT SC Regional BPL HMI Cabang Ciputat 2020, yakni Ihsan Harivy Addas (Bin Joe), dengan mengusung sebuah tema “Nasib Perkaderan HMI di Tengah Covid-19”, pada Sabtu, 25 Juli 2020 dengan metode daring menggunakan aplikasi Google Meet. Dari diskusi tersebut, Bin Joe menjelaskan bahwa saat ini, BPL PB HMI sedang membicarakan terkait metode perkaderan jika dilaksanakan dengan sistem daring. BPL PB HMI mengkonfirmasi bahwa terdapat komisariat yang telah melaksanakan Latihan Kader I (LK I) dengan sistem daring dikarenakan mereka sudah melakukan proses rekruitmen anggota sebelum pandemi ini merajalela. Hingga saat ini BPL PB HMI masih menunggu laporan mengenai keefektifan dalam melakukan proses perkaderan daring ini yang selanjutnya akan dilakukan proses analisis.

Dalam melaksanakan perkaderan formal HMI secara daring ini, setidaknya terdapat unsur-unsur manajemen yang harus dipertimbangkan, yakni Man, Mechine, Methods, Materials, dan Money. Man, bagaimana kesiapan unsur-unsur training, seperti Organizing Committee, Steering Committee, Pemandu/ Master of Training, Pemateri/Instruktur/Fasilitator, dan Peserta dalam melaksanakan perkaderan formal secara daring; Mechine, alat atau aplikasi apa yang cocok digunakan agar perkaderan formal ini dapat berjalan dengan lancar dan maksimal; Methods, metodologi apa yang tepat dalam menyampaikan materi-materi HMI, seperti pendagogi, andragogi, atau heutagogi; Materials, bagaimana keseuaian bahan ajar yang digunakan dalam pelaksanaan perkaderan formal daring ini; dan Money, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk perkaderan formal daring ini.

Selanjutnya Bin Joe menjelaskan bahwa permasalahan yang muncul jika dilakukan perkaderan formal secara daring adalah pada sistem penilaian dan monitoring karena dalam setiap jenjang perkaderan formal HMI, HMI memiliki target-target yang harus dicapai sebagai sebuah output yang didapatkan oleh para peserta training. Selain itu, prinsip-prinsip perkaderan, yakni integratif, keseimbangan, persamaan, kasih sayang, keteladanan, dan ketaatan akan sulit untuk diterapkan dalam perkaderan dengan sistem daring ini.

Jika kita melakukan analisis SWOT dalam perkaderan formal daring HMI, Strenght (kekuatan) yang akan tercapai dalam Taksonomi Bloom yang dimiliki HMI hanya pada aspek kognitif (pola fikir) saja, sedangkan weakness (kelemahan) akan muncul pada aspek afektif (pola sikap) dan psikomotorik (pola tindak/respon) karena sulit untuk terpenuhi oleh peserta training formal. Bin Joe berasumsi bahwa Basic Training tidak memungkinkan jika dilaksanakan dengan sistem daring ini, dikarenakan dalam aspek penilaian Basic Training ini, penilaian tertinggi berada pada aspek afektif dengan persentasenya mencapai 50 (lima puluh) persen.

Sangat dimungkinkan apabila perkaderan formal ini dilaksanakan pada jenjang Intermediate Training (Latihan Kader II) karena pada jenjang ini penilaian tertinggi berada pada aspek kognitif yakni 40 (empat puluh) persen. Syarat perkaderan formal daring untuk LK II ini harus dilaksanakan secara berkala, tidak dipaksakan dengan melakukan daring selama satu minggu berturut-turut. Begitu pula dengan jenjang Advace Training (Latihan Kader III) yang dalam teknis pelaksanaannya tidak begitu jauh dengan LK II juga dengan Training Non Formal, seperti Senior Course, Training of Trainer (TOT), Training Instruktur NDP, dan sebagainya serta training lainnya seperti Latihan Khusus Kohati. Jika hal ini terjadi maka Oppurtunity (Peluang) yang akan didapatkan adalah akan muncul sebuah reformasi perkaderan yang awalnya perkaderan dilakukan dengan tatap muka berubah menjadi tatap layar. Dan terakhir, Threatmen (ancaman) dari perkaderan formal dari ini adalah penurunan kualitas yang dimiliki oleh kader-kader HMI.

Mengenai perkaderan informal, seperti Follow-Up, Upgrding, Diskusi, Promosi, Coaching/Pendampingan, dan sebagainya, sejauh ini tidak ada masalah jika proses perkaderan dilaksanakan dengan sistem daring. Hanya saja mungkin terkendala pada masalah teknisnya saja.

Kemudian mendekati masa penerimaan mahasiswa baru ini, apa yang harus dilakukan oleh para pengurus dalam melakukan proses rekruitmen anggota? Solusi yang ditawarkan dalam diskusi adalah pelaksanaan Masa Perkenalan Calon Anggota (Maperca) yang dilakukan secara daring karena memang tidak terdapat penilaian dan monitoring yang jelas dalam kegiatan maperca ini. Walaupun masa keanggotaan hanya sampai 6 (enam) bulan sejak Maperca paling tidak para pengurus komisariat bisa menjalankan proses perkaderan untuk menarik minat para mahasiswa baru sembaring menunggu BPL PB HMI selesai menyusun Petunjuk Juknis (Juknis) perkaderan formal dengan sstem daring ini. Harapannya adalah pandemi ini akan selesai dalam waktu dekat ini, sehingga para pengurus bisa menjalankan Basic Training sebelum masa anggota muda berakhir.

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.