GENERASI MUDA PAPUA HARUS BACA DAN TAHU SEJARAHNYA

Berita Nasional

Jayakartapos, Markus Fatem, Pengacara HAM di Papua Barat mengharapkan semua anak Papua perlu banyak membaca buku-buku sejarah. Karena menurut dia pengetahuan tentang sejarah tidak banyak dimuat dalam buku-buku pelajaran.

Hal itu, kata Fatem sangat berdampak kepada anak-anak Papua untuk mengenal dan mengetahui jati dirinya sebagai anak Papua dan juga sejarahnya.

“Saya harap anak-anak Papua banyak baca buku. Buku-buku yang menulis tentang sejarah dan catatan-catatan tentang Papua. Juga tentang sejarah Otsus dan penerapannya. Supaya dengan dasar sejarah itu anak-anak Papua jadikan acuan,” ujarnya.

Menurut hemat Fatem, saat ini minat baca anak-anak Papua sangat minim. Dan anak-anak Papua lebih banyak belajar sejarah orang, sejarah Papua tidak pernah belajar.

“Karena memang tidak ada dalam buku-buku ajar pendidikan di Indonesia. Orang Papua lebih tahu daerah lain. Sejarahnya sendiri tidak banyak tahu. Itu karena tidak pernah ditulis dalam sejarah Indonesia,” terangnya.

Dia berharap agar sejarah Papua juga dimasukkan dalam buku ajar dalam sistem pendidikan Indonesia. Sehingga orang papua tahu sejarahnya, dan orang non papua juga belajar sejarah Papua. Sebab, sejarah itu pengetahuan umum yang harus dipahami setiap manusia.

Untuk di sekolah, dia berharap agar ada mata pelajaran yang digunakan untuk ajar sejarah Papua.

“Sejarah Papua ini bisa diajarkan di sekolah. Supaya anak-anak-anak Papua tahu sejarah mereka. Sejarah Papua ini harus diajarkan dari SD, SMP dan SMA,” katanya.

Kata dia, sejarah adalah pedoman dan peta hidup dalam karir perjalanan kebebasan manusia dalam belajar, membaca, dan menciptakan ide-ide atau gagasan secara kolektif. Sehingga dirinya berharap agar orang Papua dapat membaca buku lebih banyak.

“Saya minta semua orang Papua yang ada di provinsi Papua ini harus membaca buku,” ujar Fatem penerima penghargaan internasional di bidang hak asasi manusia tahun 2017 dari Thailand ini.

Seperti dilansir dari suaraIndonesia.co.id, Kepala Dinas Pendidikan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Christian Sohilait, pun mengakui kurangnya minat baca yang menyebabkan masih banyak anak-anak di Papua saat ini yang belum bisa membaca dan menulis.

“Kami akan mencanangkan tahun ini sebagai tahun Literasi bagi seluruh masyarakat Papua, supaya dimana mana masyarakat selalu membaca dan menulis,”ujarnya.(SuaraPapua)