IMAM HUSEIN PEMIMPIN MARTIR KEBENARAN

Berita Hijrah

oleh : Andi Naja FP Paraga

Pengantar

Jayakartapos, Tragedi Karbala Tahun 60 Hijriah menjadi perbincangan eksklusif diantara Tokoh-tokoh besar dunia,bahkan Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia Dr Ir Ahmad Soekarno dan Pemimpin Besar India Mahatma Gandhi memiliki pandangan yang istimewa terhadap Jejak Rekam Imam Husein Bin Ali Bin Abithalib Putra kedua dari Fatimah Azzahra Putri Muhammad Rasulullah dan meyakini Revolusi Besar didunia terinspirasi dari Perjuangan Ksatria Islam ini.

Adalah Imam Husein bersama Istri,anak dan saudara-saudarinya serta sahabat-sahabatnya yang hanya berjumlah 83 orang telah menjadi martir islam melawan 30.000 Tentara Pasukan Dinasti Umayyah dimasa Khalifah Yazid bin Muawiyah Bin Abu Sofyan Bin Harb menjadi Khalifah kedua Dinasty Umayyah. Imam Husein meraih Syahadahnya dalam pertempuran tak seimbang dengan kepala disembelih dan tubuh diinjak-injak ribuan kuda pasukan Yazid bin Muawiyah.

Muharram bulan haram perang tapi terjadi peperangan

Logika berislam Umat Islam terganggu dengan Tragedi Pembantaian Imam Husein bersama keluarga Rasulullah beserta sedikit pengikutnya di Karbala karena bulan Muharram satu dari empat bulan hijriah dimana diharamkan terjadi pertumpahan darah. Namun fakta adalah fakta yang sulit dibantah karena tidak hanya pengakuan parah tokoh besar namun Kitab-kitab hadist pun memuat Sejarah Tragedi Berdarah-darah tersebut.

Agama Islam mencintai perdamaian bahkan Kitab Suci Al Qur’an sangat menekankan perdamaian. Sekiranya harus berperang tidak dibolehkan pada Bulan-bulan haram termasuk bulan Muharram. Tapi dalam Tragedi Karbala Dinasti Umayyah sebuah Khilafah Islamiyah besar justru memerangi Cucu Nabi Muhammad SAWW dan Putra Ali Bin Abithalib Pejuang Penegak dan Pembela Islam Sejati. Logika yang mana lagi untuk digunakan menerima fakta sejarah ini.

Tahun 60 Hijriah Imam Husein melaksanakan Ibadah Haji dan sempat berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAWW Kakek Kandungnya bersama keluarga dan Sahabatnya sebelum menuju Padang Karbala dimana Ribuan Pasukan dari Umat yang mengaku Umat Islam bertekad menghabisi dirinya,Keluarga dan Pengikutnya. Imam Husein tentu pecinta perdamaian sebagaimana Ayah dan Kakeknya dan telah menawarkan perdamaian namun semua upayanya ditolak. Pada Akhirnya perang yang menodai kesakralan Bulan Muharram itu tak terelakkan.

Siapa Pemilik Kebenaran dari 2 Kubu di Karbala

Seperti diungkap diatas Dinasti Umayyah dijuluki Khilafah Islamiyah bersifat Dinasti,sedangkan Imam Husein,Keluarga dan Sahabatnya tak diragukan adalah Cucu Nabi Muhammad Nabi Imam Islam,ia juga Putra Ali Bin Abithalib Pendamping setia dalam Sejarah Perjuangan Nabi Muhammad. Pertanyaan diatas harus didapatkan jawabannya sehingga Umat Islam memiliki referensi kebenaran yang sesungguhnya.

Cara untuk memastikan Siapakah Pemilik Kebenaran diantara kedua kubu itu sesungguhnya bisa dipastikan dengan Kreteria sederhana.

Pertama Kelompok manakah yang masih setia berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang menekankan Keutuhan dan Persatuan Umat Islam.

Kedua
Kelompok manakah yang berpihak kepada Kelompok teraniaya/tertindas yang didalam Islam disebut Kelompok Mustadh’afin dan Kelompok Mazlum

Ketiga Jika menggunakan Barometer Kebenaran itu pada pihak dimana hubungan darah/nasabnya tersambung langsung kepada Nabi Muhammad SAWW tentu jawaban yang dicari sudah ditemukan.

10 Muharram 61 Hijriah Jelas Sejarah Tragedi Karbala

Imam Husein AS,Keluarga dan Sahabatnya telah terkepung 30.000 Tentara Pasukan Dinasti Bani Umayyah dan Hari 10 Muharram itu datang juga. Imam Husein memimpin Keluarga dan Sahabatnya ditengah Kepungan besar itu. Seperti Kakek dan Ayahnya ia berpidato mengajak untuk perdamaian sebagaimana diajarkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi,namun semua upayanya sia-sia belaka. Lalu pertarungan satu lawan satu hingga satu lawan puluhan Pasukan Yazid bin Muawiyah terjadi. Perlawanan yang keras dari pihak Pasukan Yazid semakin keras hingga satu persatu Pria dalam kelompok kecil Imam Husein menemui Syahadahnya.

Imam Husein maju ke Medan Perang langsung disambut ribuan pasukan Yazid bin Muawiyah. Pedang,tombak dan panah diarahkan kepada Imam Husein. Tubuh Pria berumur 63 Tahun itu dipenuhi ratusan anak panah,puluhan tombak dan tebasan pedang. Tubuh Cucu Nabi Muhammad SAW tumbang ke bumi lalu majulah satu orang dengan Pedangnya menggorok leher Putra Ali dan Fatimah itu hingga terputuslah kepala dari badannya. Kepala Imam Husein ditusuk dengan ujung tombak setelah ditendang dari satu kaki ke kaki yang lain.

Tubuhnya diseret-seret kesana kemari dan diinjak-injak ribuan kaki kuda pasukan Yazid bin Muawiyah. Tubuh Imam Husain remuk,tidak kafankan,tidak dishalatkan,tidak dikuburkan. Jenazah itu ditinggalkan oleh puluhan ribu Pasukan Yazid yang beranjak pulang,sementara Para Wanita dan anak-anak yang masih hidup menjadi sandera digiring berjalan kaki menuju Kota Syam. Mereka membala Kepala Imam Husein untuk diperlihatkan kepada Khalifah Yazid Bin Muawiyah.

Penutup

Muharram jelas bukan bulan Suka Cita melainkan bulan Duka Cita karena Sejarah Duka Para Nabi dan Para Imam Islam dari Keluarga Nabi Muhammad SAWW mengalami derita akibat perlakuan umat-umat mereka. Tragedi Karbala membuka mata dunia antara Keyakinan dan Fakta.

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.