JADILAH USTADZ YANG BENAR

Berita Nasional Sosbud
Foto: Andi Naja FP Paraga (Penulis)

oleh : Andi Naja FP Paraga

Stramed, Menjadi Ustadz di Zaman sekarang memang sangat mudah karena tanpa standar kelayakan. Kadang hanya karena Fasih berbicara bermodalkan dua tiga Ayat dan Hadist sudah mengustadzkan diri,diperparah lagi umat mudah mengustadzkan orang seperti itu.

Sering kita lihat Seorang Orator Demontrasi jadi Ustadz padahal demontran itu umumnya menyuarakan aspirasi,kritik hingga solusi. Tapi karena bisa hafal dua tiga Ayat Al Qur’an lantas dijulukilah ia Ustadz. Jika Ustadz itu adalah Guru Agama maka sesungguhnya ia akan mempertimbangkan menjadi orator demonstras tapi sebaliknya mengajarkan para demontrans untuk menempuh cara-cara yang diajarkan agama didalam menyampaikan pesan,kritik dan Solusi.

Ketika Politikus menjadi Ustadz tentu ia akan menggunakan cara-cara berpolitik yang sesuai dengan diajarkan agama. Tidak beda dengan Orator demontrans Politikus yang ustadz pun haruslah bisa menyampaikan pesan kepada pemerintah dengan cara yang benat. Ia harus bisa bekerja di Gedung Rakyat dengan tulus ikhlas jujur dan tak mudah tergoda dengan konspirasi apapun apalagi ikut koripsi mencuri uang rakyat. Jika tidak mampu mengajarkan cara berpolitik yang benar apalagi karena ia orang tidak benar maka sebetulnya ia bukanlah Ustadz yang benar.

Ada Juga Orang Kaya menjadi Ustadz. Ini tentu sangat bagus dan bisa dengan langsung mencontohkan cara mendapatkan harta yang halal,menjadi tauladan dalam bersedekah dan berzakat. Ia selalu menunjukkan lebih dahulu berinfaq sebelum mengaja orang kaya lainnya untuk berinfaq. Namun apabila yang terjadi sebaliknya dengan menjadi Ustadz ia berharap akan lebih kaya,lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari Bank untuk memperoleh kredit sebaiknya ia berhenti saja sebagai Ustadz. Orang Kaya yang seperti ini hanya memanfaatkan keustadzannya untuk memperbaiki ekonominya sendiri.

Ada Juga Aparat menjadi Ustadz. Ia selu dikirim untuk berceramah kepada kelompoknya dan memang memiliki kemampuan berceramah yang bagus. Namun sebagai aparat yang ustadz tentu ia harus menjafi tauladan hidup dalam kelompoknya itu. Ia menjadi Icon kejujuran dan ketulusan dalam kelompoknya. Ia menjadi tauladan dalam menegakkan disiplin kerja dan tugas. Ia juga membuktikan bahwa ia terbebas dari perbuatan korupsi,kolusi dan Nepotisme. Namun jika ia gagal menjadi Icon dan tauladan bahkan menyimpan aib yang besar sebaiknya ia berhenti saja menjadi Ustadz. Ia harus ikhlas kembali memperbaiki dirinya sendiri saja dan membiarkan orang yang pas menggantikan perannya.

Menjadi Guru/Ustadz itu tidaklah muda,disamping berilmu ia juga harus berakhlak. Ilmu tak cukup menjadi ukuran untuk menjadi Ustadz. Banyak diluar sana orang yang memiliki ilmu tapi tak siap menjadi Ustadz karena ia masih bergulat dengan kehidupannya yang sangat berat. Mereka justru menjadi guru bagi orang disekitarnya didalam menggeluti hidup ini. Ia selalu bicara benar dan berbuat benar. Ia menjadi Ayah yang baik bagi anak-anaknya dan menjadi suami yang baik bagi istrinya. Ia tak berfikir bahwa ialah ustadz/guru yang sebenarnya. Dia adalah Ustadz/guru yang kita cari dan jika menemukannya maka ikutilah ia. Orang yang seperti pasti mengajarkan apa yang ia sudah amalkan dengan konsisten bukan apa yang ia baca dalam kitab dan buku+buku agama saja.

Karena itu sebaiknya jangan nekad menjadi ustadz bahkan jika hanya pandai baca Al Wur’an jadilah Hafidz Al Qur”an saja. Jika Anda Orator Demonstran sebaiknya tetap menjadi pejuang dengan orasi dan gerakan-gerakan saja. Jika kita politisi berjuanglah bersungguh-sungguh mensejahterakan rakyat,buat perundang-undangan yang berpihak pada kepentingan rakyay banyak. Jika Seorang Pengusaha berjuanglah dengan berdermah. Ajari orang miskin untuk menjadi kaya sehingga ia bisa berderma. Jika ia Aparat cukup dengan menegakkan hukum dengan benar dan tidak memutuskan persoalan berdesarkan hawa nafsu.

Sebaliknya Jika kita Seorang Ustadz janganlah menjadi polisi atau jaksa bagi umat. Biarkan hal itu menjadi tugas dan kewrnangan mereka. Jika jadi Ustadz janganlah memerankan diri sebagai hakim ditengah umat,apalagi menghakimi keyakinan dan pendapat orang lain. Biarkan hal itu menjadi Kewenangan dan tugas Hakim yang sesungguhnya. Biarlah setiap orang memerankan diri sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Inilah pola yang benar dan akan terus benar sepanjang tak disimpangkan. Ingatlah menjadi Ustadz harus dengan Ilmu dan Akhlak. Jika tidak sepetti itu berhentilah menipu diri sendiri karena dampaknya bisa menipu orang lain.

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.