JENDERAL TNI (PURN) DJOKO SANTOSO DAN PEMIKIRANNYA TENTANG TRISULA ANGKATAN DARAT DI MASA LALU DAN DI MASA KINI

Berita Militer dan Keamanan
Foto: Mayjen TNI (Purn) Prijanto (Penulis)

OLEH: MAYJEN TNI (PURN) PRIJANTO
ASTER KASAD 2006-2007
RUMAH KEBANGKITAN INDONESIA

Jayakartapos, “Pada era milenium ketiga, perang sebagai tujuan untuk menghancurkan bangsa dan negara dengan menggunakan kekuatan senjata sebagai mesin perangnya, bukanlah satu-satunya pilihan. Penghancuran moral dan budaya bangsa adalah sangat menarik dan menguntungkan bagi yang menggunakan, sebagai satu pilihan yang cerdas”.

Sosok Prajurit yang Konsisten
Wafatnya Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso, 10/5/2020, membuat penulis merasakan kehilangan tidak saja sebagai sahabat seangkatan lulusan Akabri Darat tahun 1975, tetapi juga sebagai atasan, komandan dan guru. Ketika penulis Kepala Staf Pribadi (Kaspri) Pangdam Jaya, almarhum Assospol Kodam Jaya. Ketika beliau Waas Sospol di Mabes ABRI, penulis Koordinator Staf Pribadi Menhankam /Panglima ABRI. Tampak almarhum memiliki karakter dan kapasistas unggul. Pangkat Kolonelnya mendahului temen seangkatannya, ketika menjadi anggota DPR RI, sebelum menjadi Assospol Kodam Jaya.

Keterdekatan penulis dengan almarhum tidak saja dalam dua jabatan di atas. Tetapi ketika almarhum sebagai Pangdam Jaya dan Kepala Staf TNI AD dan penulis sebagai Kasgartap I/Jakarta, Kasdam Jaya, dan Aster Kasad. Bahkan, ketika penulis Aster Kasad, perintah sebagai Cawagub mendampingi Cagub Dr. Ing. Fauzi Bowo dalam Pilkada DKI 2007, juga atas perintah almarhum selaku Kasad.

Cerita jabatan di atas, bertujuan untuk menguatkan, jika penulis memberikan kesan terhadap almarhum, karena cukup lama bersama-sama.

Bahwasanya, almarhum sosok prajurit yang konsisten atas apa yang pernah disampaikan, baik sewaktu dinas maupun setelah pensiun. Hal ini terbukti ketika penulis bicara per telepon pada 1 Mei 2020, pukul 11.03 WIB, artinya satu hari sebelum almarhum sakit mendadak pada 2 Mei 2020 saat berbuka puasa dan berkelanjutan.

Waktu penulis menelepon, almarhum sedang ditemani Ajudan dan Sekretaris Pribadi di kediaman Bambu Apus. Bicara dan ketawanya lewat telepon sangat jelas, tidak ada tanda-tanda sakit. Ada 3 hal yang disampaikan :

Pertama, almarhum bercerita memiliki data tentang wabah Covid 19 baik Indonesia maupun Luar Negeri.
Kedua, bercerita tentang perkembangan penanganan Covid 19 di Indonesia, baik yang menyangkut kebijakan, keuangan, ketersediaan pangan dan kondisi rakyat.
Ketiga, berpesan agar Sekretariat Bersama Alpajuli (Alumni Perwira Akabri Tujuh Lima) Darat, sifatnya kekeluargaan dan koordinatif. Sehingga Sekber Alpajuli Darat di daerah dapat bebas menyelenggarakan kegiatan secara independen dan mandiri.

Apa yang disampaikan di atas, menguatkan kesan penulis terhadap almarhum sebagai sosok prajurit yang konsisten terhadap apa yang disampaikan. Bahwasanya, diberbagai acara (walau sudah pensiun) beliau sering mengulang-ulang pesannya, bahwa pengabdian seorang prajurit itu, walau sudah pensiun, harus sampai akhir hayatnya.

Sikap militansi, rela berkorban, tidak kenal menyerah dan berpikir untuk rakyat, harus selalu melekat. Terbukti almarhum konsisten atas pesan-pesannya. Sehari sebelum jatuh sakit yang berkelanjutan, beliau masih berpikir dan bicara untuk bangsa dan negaranya secara jelas. Juga masih berpikir untuk organisasi temen-temen seangkatannya.

Trisula TNI AD, Kekuatan Bermata Tiga
Pernyataan di awal artikel ini, bahwa penghancuran moral dan budaya bangsa sebagai satu pilihan, penulis kutip sewaktu almarhum Kasad, tahun 2007. Karena itu, beliau menekankan, untuk menghadapi ancaman tersebut, TNI AD harus memiliki “kekuatan bermata tiga” yaitu TNI AD sebagai ‘Kekuatan Moral’, ‘Kekuatan Kultural dan ‘Kekuatan Pertahanan’. Ketiga kekuatan ini dinamakan almarhum sebagai “Trisula TNI AD”.

TNI AD sebagai Kekuatan Moral, artinya sebagai kekuatan yang selalu mengedepankan moral, memgutamakan kepentingan bangsa dan negara serta berpikir, berbuat dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila.

TNI AD sebagai Kekuatan Kultural, artinya sebagai kekuatan yang selalu mempertahankan nilai-nilai luhur budaya bangsa, yang memiliki wawasan atas kemajemukan bangsa sebagai modal kekuatan bangsa dan memandang kemajemukan bangsa, sebagai satu kesatuan yang utuh dalam bingkai NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

TNI AD sebagai Kekuatan Pertahanan, artinya sebagai kekuatan yang siap menghadapi segala bentuk ancaman militer secara terorganisir, yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa Indonesia.

Dalam konteks konsepsi Trisula TNI AD, setelah pensiun dari Panglima TNI, lagi-lagi almarhum menunjukkan konsistensiannya untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sebagai kekuatan moral bangsa. Ajakan almarhum bersama kawan-kawan untuk kembali ke UUD 1945 (asli) hakikatnya agar pasal-pasal dalam Undang-undang Dasar dijiwai nilai-nilai Pancasila, sehingga aturan turunannya dapat membentuk kekuatan moral bangsa.

Ajakan almarhum bersama kawan-kawan untuk bangkit, bersatu, bergerak dan berubah agar tidak punah, yang didasarkan pada nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika, hakikatnya untuk membangun kekuatan kultural bangsa. Dalam upaya membangun kekuatan moral dan kultural bangsa, almarhum melakukannya bersama para tokoh masyarakat, pakar intelektual, aktivis pejuang dan masyarakat dalam Gerakan Selamatkan NKRI (GSNKRI), Rumah Amanah Rakyat (RAR) dan Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI).

Apel Persada
Kawan-kawan pergerakan mencatat isi hati, pikiran dan cita-cita almarhum yang masih belum tercapai; seperti perbaikan nasib Boemipoetra, Kembali ke UUD 1945 (asli) dan lahirnya Pemimpin yang Pancasilais. Namun takdir telah menentukan. Almarhum menghadap Tuhan Yang Maha Esa mendahului kita.

Walau ada yang tidak tahu atau tahu tetapi lidah kelu atas kepergiannya, tidak menjadi masalah. Wafatnya almarhum sudah dengan jelas disampaikan oleh Panglima TNI selaku Inspektur Upacara saat pemakaman :

“Atas nama Bangsa, Negara dan Tentara Nasional Indoesia, dengan ini mempersembahkan ke Persada Ibu Pertiwi jiwa raga dan jasa-jasa almarhum Djoko Santoso, Jenderal TNI (Purn), mantan Panglima TNI, Kesatuan Mabes TNI, putra almarhum bapak H. Djoko Soedjono, yang telah meninggal dunia demi kepentingan serta keluhuran Negara dan Bangsa, pada hari Minggu tanggal 10 Mei 2020 pukul 06.30 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto karena sakit. Semoga jalan Dharma Bhakti yang ditempuhnya dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua dan arwahnya dapat tempat yang semestinya di alam baka”.

Selamat jalan Jenderal Djoko Santoso saahabatku, atasanku, komandanku dan guruku, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan tempat yang mulia untuk Jenderal. Amin. [*]

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.