NARSISISME MENGHALANGI LANGKAH MENUJU TUHAN

Berita Hijrah
Foto: Andi Naja FP Paraga (Penulis)

oleh : Andi Naja FP Paraga *)

Jayakartapos, Dalam Legenda Yunani konon ada Seorang Pangeran yang sangat gagah dan tampan. Banyak Putra-putri cantik mengungkapkan cinta kepadanya namun tak satu cinta pun yang ia terima,tak satupun diantara sekian banyak Putra-putri itu yang bisa membuatnya jatuh cinta. Sikapnya ini mengecewakan banyak Putra-putri. Pangeran Narsisus merasa tak satupun putri yang bisa memadani ketampanan dan kegagalannya.

Suatu hari Pangeran Nardisus keluar berburu jauh ke pedalaman. Ia menunggangi Seekor kuda pilihannya dan membawanya hingga ketepian sungai yang sangat bening. Nampaknya bayangan wajahnya didalam air dikira wajah dari Seorang Putri. Seketika ia tertarik dan jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Berulang kali ia mencoba menggapai bayangan itu berulang kali pula bayangan itu ambyar. Namun ia tetap saja mengulangi perbuatannya dan menjadi penyebab kematiannya. Konon istilah *Narsisme* berasal dari nama Sang Pangeran *Narsisus*.

Dikisah yang lain tapi dikisah *Sufi* ditemukan cerita Seorang Ksatria tengah menunggang kudanya demikian kencang. Sudah bermacam lembah dan ngarai ia lewati hingga sampai juga ketepian sebuah sungai yang sangat bening. Tiba tiba kuda yg ditungganginya berhenti. Sang Ksatria memperhatikan kudanya sedang bercermin di air sungai yang bening itu. Ia pun berkali-kali memecut kudanya agar bisa berjalan tetapi semua upayanya sia-sia. Sang Ksatria memperhatikan ada Sosok orang shaleh mendatangi kemudian ia bertanya ada apa dengan kudanya. Orang Sholeh itu menjawab bahwa kudanya memang sedang bercermin dan tertarik dengan wajahnya sendiri. Sang Sufi menasehatinya agar memukul air sungai tersebut sebagai cara membuyarkan bayangan wajah kudanya. Ternyata dengan cara itu Sang Kuda tidak lagi dapat menemukan wajahnya didalam air dan kakinya pun melangkah menembus sungai hingga berhasil sampai ke Seberang.

2(dua) kisah diatas sesungguhnya pelajaran berharga bagi siapapun yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada kesempatan dilewatkan tanpa ditujukan untuk kepentingan dan kebesarannya sendiri. *All about Me* . Sesungguhnya sikap diatas adalah bentuk *Narsisme* . Apapun bisa digunakan untuk membuat dirinya *All about Me*. Media Sosial dibuat menjadi sarana untuk mempertahankan *kediriannya* sampai harus berganti-ganti foto akun dan tak henti membuat Status demi *kediriannya*. Acapkali ia tak perduli lagi apakah kalimat yang diuraikan itu terkait hal yang ia Fahami atau tidak ia fahami asal tetap membuat Status atau memberi komentar untuk sebuah Status.

Narsisisme menjadi penghalang diri kita untuk mendekati Tuhan. Sikap Narsis tidak membawa pemiliknya kepada kepribadian yang baik. Ia akan menderita jika orang lain tak memperhatikan dirinya. Ia menjadi sangat sakit ketika ada yang meluruskannya. Sikap Narsis membuat seseorang mudah tersinggung dan tentu tak satupun pengajaran yang bisa ia terima dari siapapun karena ia merasa dirinya sudah memiliki semuanya. Narsisisme lah yang membuat banyak orang penting kehilangan wibawa bahkan kehilangan segala-galanya. Orang yang Narsis pun berpotensi merugikan bahkan mengorbankan orang lain asal ia tetap terjaga kehormatannya. Narsisisme bisa membawa pemiliknya naik pada tingkat *Egoisme* dan pada tingkat ini Seorang yang Narsistis bisa menuhankan dirinya sendiri.

Semoga Saya dan kita semua dijauhkan dari Narsisisme dan kembali merasa bahwa *Cermin* kita ada pada orang lain. Bulan Suci Ramadhan adalah salah satu *momentum* untuk menihilkan Narsisisme yang ada pada diri kita. *Berpuasa satu bulan* jika sekedar untuk menahan haus dan lapar tentu tak menghasilkan apa-apa bagi jiwa. Eloklah kiranya *satu bulan* ini diniatkan untuk membenahi jiwa. *Ramadhan* adalah jalan menyucikan jiwa sehingga *Sang Jiwa menjadi Mutmainnah* dan sekiranya harus segera pulang kepada Tuhan sudah tidak ada lagi kekhawatiran yang mengganjalnya.

Al Faqir
Andi Naja FP Paraga

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.