SOEKARNO SAMA DENGAN BENNY WENDA???

Berita Nasional

Oleh : Wilnas dan TW Deora

Jayakartapos, Salah seorang politisi di DPR RI mengatakan, diplomasi luar negeri untuk perjuangan sipil Politik Papua oleh Benny Wenda, jangan pernah dianggap remeh oleh Pemerintah RI, karena jalan diplomasi yang sedang dilakukan Benny Wenda pernah dilakukan oleh sang proklamator RI, Soekarno, dalam merebut Indonesia dari tangan Belanda.

Selanjutnya, politisi tersebut mengingatkan Pemerintah agar tidak selalu melakukan pendekatan militer di tanah Papua, yang saat ini sedang berada dalam masa-masa politik di dunia internasional. Perjuangan dan pergerakan Benny Wenda di luar negeri, telah mendapat perhatian sejumlah negara baik di bagian pasifik maupun Afrika.

Orang Asli Papua butuh pendekatan damai dan sentuhan pembangunan. Bukan pendekatan militeristik, karena sampai kapan pun pendekatan militeristik yang dilakukan oleh Pemerintah akan dianggap sebagai ancaman oleh orang Papua di atas negerinya sendiri. “Sebagai politisi asal Papua Barat yang cinta terhadap tanah air, saya hanya mengingatkan, agar Pemerintah dan aparatnya jangan sampai gagal paham tentang Papua dan diplomasi Benny Wenda di luar Negeri,” katanya.

Sementara itu, Ketua United Liberation Movement for West Papua, Benny Wenda menyatakan referendum untuk menentukan kemerdekaan Papua Barat menjadi satu-satunya solusi yang adil, demokratis dan layak untuk Papua Barat atas konflik dan kekerasan di Tanah Papua. Hal itu dinyatakan Benny Wenda melalui siaran pers tertulisnya pada Senin (6/7/2020) menanggapi berkembangnya wacana tentang evaluasi Otonomi Khusus (Otsus) Papua serta revisi Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus Papua.

Benny Wenda menyatakan pelaksanaan otonomi daerah maupun Otsus Papua tidak menghentikan praktik kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua, sehingga tidak layak dilanjutkan.

“Selama 50 tahun, Indonesia terus menjanjikan ‘otonomi’ untuk Papua Barat, dan selama itu ‘otonomi’ dijalankan dengan penuh kebohongan, dan berlandaskan peluru dan pembunuhan rakyat Papua Barat. Dengan habis berlakunya UU tahun 2001 tentang Otsus Papua, ULMWP dan seluruh rakyat Papua Barat bersatu menentang ‘otonomi’ yang dikontrol oleh pemerintahan Indonesia. Hanya ada satu solusi untuk permasalahan kita, yakni referendum untuk menentukan kemerdekaan Papua Barat,” demikian siaran pers Benny Wenda.

Tidak sama

Menyamakan Soekarno yang merupakan proklamator kemerdekaan Indonesia dengan tokoh separatis Papua, Benny Wenda yang hidup di pengasingan yaitu Inggris dan sebelumnya melarikan diri dari Rutan di Jayapura karena tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah kebablasan pemikiran dan kurang layak disampaikan oleh kader politisi yang levelnya sudah masuk DPR RI.

Jelas tidak sama antara Soekarno dengan Wenda, karena perjuangan Soekarno didukung oleh seluruh rakyat Indonesia dan dipilih oleh semua tokoh perjuangan dari berbagai daerah yang bersatu, sedangkan Benny Wenda memperoleh kekuasaannya dengan “mengklaim” dan sosok kontroversial yang selalu “memperdagangkan” nasib Papua di luar negeri ini belum tentu diterima oleh seluruh lapisan masyarakat yang ada di Papua.

Soekarno adalah political leader sekaligus administrator kenegaraan yang ulung, sedangkan Benny Wenda hanya sekelas agitator, propagandis dan pimpinan dari sekelompok kecil masyarakat Papua yang memang sejak lama sudah anti NKRI, dan kelompok ini kurang memahami sejarah Papua itu sendiri.

Menyamakan Soekarno dengan Benny Wenda jelas sebuah kesalahan besar, karena esensi perjuangan Soekarno adalah memerdekakan atau meliberasi Indonesia dari penjajah Belanda, sedangkan Papua dan Papua Barat bukan wilayah jajahan Indonesia, melainkan wilayah teritorial Indonesia yang disahkan oleh konstitusi Indonesia dan konstitusi internasional alias ada pengakuan internasional bahwa Papua dan Papua Barat adalah wilayah sah Indonesia.

Last but not least, menyamakan perjuangan Soekarno dengan Benny Wenda jelas merupakan upaya menurunkan atau mendowngrade pamor Soekarno yang selama ini masih terjaga dengan baik, sebaliknya secara tidak langsung meningkatkan atau mengupgrade pamor Wenda. Pernyataan seperti ini harus tidak boleh terulang kembali di kemudian hari. Papua adalah Indonesia, Indonesia adalah Papua.

*) Penulis adalah pemerhati masalah Papua.

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.