TAQWA DAN KESABARAN

Berita Hijrah

Foto: Andi Naja FP Paraga (Penulis)

Oleh : Andi Naja FP Paraga

Jayakartapos, Sudah sangat banyak definisi Taqwa dan Kesabaran sehingga semakin kemari semakin defenitif. Saya lebih tertarik menyoroti kisah Nabi Adam AS vs Azzazil(Iblis) Laknatullah Alaihi daripada mendefinisikan taqwa dan Kesabaran. Saya yakin pada kisah keduanya dengan definisi yang kita punyai akan mengenal ketaqwaan dan Kesabaran itu.

Dikisahkan bahwa Iblis itu bernama Azzazil seorang Jin yang tergolong rajin beribadah. Konon setelah pencopotan kekhalifaan akibat kegagalan bangsa Jin mengatur dunia tak membuat Azzazil berputus asa menjadi hamba yang rajin beribadah. Ia termasuk Jin yang cukup lama menekuni Ibadah di bumi dan karenanya Allah SWT menaikkan kedudukannya dilangit yg pertama demi penghargaan atas ibadahnya dibumi selama ribuan tahun.

Dan memang Azzazil Ahli Ibadah yang tak tertandingi. Ia beribadah langit pertama 5000 tahun lalu diangkat lagi kedudukannya dilangit kedua dan disanapun ia beribadah 5000 tahun. Ia kembali memperoleh kedudukan terhormat diangkat derajatnya beribadah dilangit ketiga dan ia bisa melewatinya pula selama 5000 tahun. Jadi untuk 3 tingkatan langit saja ia sudah beribadah 15.000 Tahun belum ditambahkan dgn ibadahnya dibumi. Azzazil memang Ahli Ibadah. Rasanya tak ada manusia yg bisa mengimbangi record Ibadahnya.

Periode berikutnya Azzazil ditugaskan menjadi Imam Sholat bagi para Malaikat dan Jin dengan gelar Imam Muqarrabun. Sungguh kedudukan yang luar biasa. Ia semakin terhormat. Namun rencana Allah SWT menciptakan khalifah berikutnya dibumi telah merubah segala-galanya. Para Malaikat tak segan menyampaikan aspirasinya dengan memunculkan kalimat kekhawatiran akan terjadi kembali kerusakan dibumi bahkan pertumpahan darah lanjutan akan terjadi. Namun tentu Allah SWT Maha Tau terhadap segala sesuatunya dan Para Malaikat itu diberi pengetahuan yang sedikit dan mustahil mengetahui seluruh yang diketahui Allah SWT. Pada fase ini Azzazil tidak turut andil nampaknya ia lebih fokus pada tugas yang diembannya.

Ketika Jasad dan Jizim Adam AS selesai lalu Allah SWT meletakkan ruhnya maka sempurnalah sosok baru Sang Khalifah. Seluruh Penduduk langit menyaksikan kesempurnaan wujudnya. Adam AS memang produk sempurna karena dilengkapi dengan Ilmu Pengetahuan. Tak satupun pertanyaan yang tak mampu dijawab ketika uji kelayakan dan kapasitas dan hal itu membuat seluruh makhluk mengucapkan kekagumannya kepada Allah SWT. Tahapan berikutnya adalah pemberian penghormatan kepada Adam AS dengan serempak bersujud. Nampaknya ditengah khidmatnya suasana tersebut ada satu sosok yang tidak ikut bersujud. Sosok itu ternyata Azzazil Sang Imam Muqarrabun. Imam Besar inipun ditanya ditengah keramaian itu apa yang mendasari pembangkangannya terhadap perintah bersujud kepada Adam. Ia hanya menjawab :” Aku lebih baik dari dia(Adam). Engkau ciptakan aku dari Api sementara Adam Engkau ciptakan dari tanah’. Jawaban Azzazil ini membuat kemuliaan Allah SWT dan dia disebut Iblis(Sang Pembangkang).

Sampai disini kisah ini kita penggal mengingat begitu banyaknya pandangan terhadap sikap Azzazil ini,tapi secara garis besar dikategorikan 2(dua) pandangan saja.

Pertama : Pandangan yang menyimpulkan bahwa Iman Iblis ini bersih dari Syirik karena ia tidak mau bersujud kepada selain Allah SWT meskipun yang memerintahkan bersujud kepada Adam AS itu adalah Allah SWT. Konon inilah yang menjadi dasar penolakan banyak orang menolak bersujud kepada sesama manusia walaupun kepada kedua orang tuanya sendiri. Menurut kelompok ini tidak ada sujud selain kepada Allah SWT. Selanjutnya mereka pun berpandangan bersujud didepan raja,ulama apalagi bersujud kepada bangsawan seperti dimasa lampau itu adalah perbuatan Syirik. Kelompok ini memaknai Sujud adalah Ubudiyah sementara Ubudiyah kepada sesama makhluk tentu hal terlarang. Menariknya lagi tidak hanya tidak mau sujud bahkan kelompok ini tidak akan mau membungkukkan badan untuk sekedar bentuk penghormatan kepada sesama manusia. Menurut mereka inilah Tauhid dan Aqidah yang benar. Untuk kelompok ini seburuk apapun Iblis ia tetap makhluk yg bertauhid dan beraqidah dengan benar.

Kelompok kedua : Kelompok yang menyimpulkan bahwa Azzazil(Iblis) murni melakukan pembangkangan terang-terangan terhadap perintah Allah SWT. Perintah dan Larangan Allah SWT mutlak maka satu perintah atau satu larangan yang dibangkang secara terang-terangan dihadapan Allah SWT sama saja membangkang Perintah dan larangan secara keseluruhan. Dengan demikian pembangkangan itu telah menihilkan seluruh ibadah yang dilakukannya selama ribuan tahun bahkan seketika menghilangkan semua gelar kehormatan yang sudah diperolehnya. Azzazil berhenti dgn tidak hormat dalam kedudukannya sebagai Imam Besar atau Imam Muqarrabun. Azzazil kehilangan seluruh Fasilitas keimamannya termasuk tak bisa lagi memegang satu pun kunci Surga sebuah fasilitas super mewah yang pernah dinikmatinya cukup lama.

Nampaknya kuantitas Ibadah ribuan tahun tak mampu membuat Azzazil menjadi hamba yang sungguh-sungguh SANIKNA WA ATAKNA/ Mendengar dan Mematuhi. Ternyata yg menentukan Penghambaan itu tidak hanya kuantitas penyembahan tapi juga kualitas penyembahan. Untuk mendapatkan kualitas Azzazil haruslah berilmu. Iblis nampaknya tidak faham siapa Adam AS selain sebagai makhluk baru yang tidak punya prestasi ibadah ribuan tahun. Menurutnya Adam AS hanya anak kemarin sore yang tak memiliki kelayakan untuk dihormati. Sayang disayang Iblis lupa bahwa Ilmu itu membedakan kualitas termasuk kualitas penghambaan.

Akhirul kalam. Saya sedang mencoba meredifinisikan untuk diri saya sendiri tentang TAQWA dan SABAR yg baik dan benar. Kegagalan Azzazil dalam Taqwa dan Sabar membuat definisi awal saya berubah. Azzazil tak sampai meraih kembali Khusnul Khatimah karena langkah bertaubatnya tak mungkin ia tempuh. Beberapa keterangan menyebutkan syarat taubatnya hanya sederhana yaitu bersujud kepada Adam AS. Syarat ini yang ia rasa sangat sulit untuk dilakukannya andaipu tinggal mendatangi Maqam Sang Abal Bashar Adam AS berakhirlah kutukan terhadapnya. Ah saat Adam AS masih hidup saja aku tidak mau bersujud apalagi kini sudah mati. Kira-kira begitulah pikirannya.

Tulisan ini semoga menjadi coret-coretan penutup Sya’ban tahun 2020 ini dan atasnya aku berwasilah agar Allah SWT berkenan mengabulkan doa kita semua untuk dihentikannya wabah Covid 19 demi kemuliaan Keturunan Adam AS. Semoga menjadi Wasilah bagi terkabulnya harapan-harapan lain baik yang tersurat maupun yang masih tersirat. Aamiin Ya Ilahi. Anta Maqsudi wa Ridhoka Matlubi.

Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.