TIDAK PERLU UNJUK RASA TOLAK OMNIBUS LAW

Berita Hukum
Foto: Ilustrasi, sumber foto: Liputan 6

 

 

 

Oleh: Ramlan Sukamo Roto *)

Jayakartapos, Rencana proses legislasi Omnibus Law di DPR RI telah menimbulkan beragam respons baik pro dan kontra serta banyak juga kelompok kepentingan yang sudah jauh jauh hari akan “mengkapitalisasi atau menungganginya” terbukti masyarakat juga memandang ada fenomena aneh “warming up strikes atau unjuk rasa pemanasan” penolakan omnibus law dengan pertanyaan besarnya apakah mereka yang berunjukrasa mengerti Omnibus law atau OBL tersebut dan sejak kapan mahasiswa concern dengan masalah ketenagakerjaan.

Beberapa organisasi massa buruh, kelonpok kiri dan mahasiswa dikabarkan akan berunjukrasa atau konsolidasi akbar menolak OBL saat reses DPR RI bersidang yaitu 23 Maret mendatang sampai Mayday 2020 bahkan ancaman unjukrasa akan semakin massif dan lama durasinya jika omnibus law atau OBL tidak ditunda atau draftnya ditarik dari DPR RI. Diakui atau tidak, harus disadari bahwa ada kesan pemerintah terburu buru dalam menyusun OBL dengan kurang membuka partisipasi publik, sehingga OBL dinilai banyak cacat, tidak melindungi kepentingan nasional dan menguntungkan kepentingan asing, sehingga tidak mengherankan banyak pressure group menolaknya.

Penggunaan diksi ” menolak” inilah yang membuat geram, walaupun setelah dipelajari ternyata penggunaan diksi tersebut agar buruh dan mahasiswa ini diajak bicara dan dilibatkan dalam pembahasan omnibus law saat dibahas di DPR RI yang diprediksi awal April mendatang. Karena sejatinya banyak organisasi taktis dan struktural mahasiswa yang tidak menolak omnibus law, sehingga mereka menggunakan diksi “menerima dengan catatan” dan kelompok ini bisa diajak bicara dan kompromi.

Sementara itu, diduga organisasi buruh dan mahasiswa yang “disusupi” kelompok ekstra kulikuler dengan ideologi tertentu jelas menolak omnibus law karena sudah digalang kelompok oposan bahkan mungkin “memainkan program pihak asing” kacaukan Indonesia, sebab jika omnibus law berhasil disahkan (tentunya dengan pembahasan terbuka atau ada partisipasi publik) serta kepentingan nasional ke depan tidak tergadaikan, maka omnibus law dan restu Ilahi akan membuat Indonesia menjadi maju bahkan mewujud sebagai “global game changer” yang dihormati kawan dan ditakuti lawan. Semoga.

*) Penulis adalah pemerhati Indonesia.

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.