UJARAN KEBENCIAN TERHADAP “ALFATEKA” (Dialek Jawa)

Berita

Oleh : Andi Naja FP Paraga

Kritikan buzzer pada ucapan “Alfateka” menyiratkan pesan yang lugas, bahwa mereka tidak ramah pada perbedaan dialek yang telah hidup ratusan tahun di Nusantara. Terutama ragam dialek pelafalan kosa kata Arab.

Padahal, ragam dialek ini tak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan juga terjadi di dunia Arab itu sendiri.

Di Mesir, bila Qaf ada di awal kata, maka Qaf itu dihilangkan. Misalnya Qalbi dibaca Albi. Mereka juga mengubah Jim menjadi Ga sehingga Jamal menjadi Gamal, Jalal menjadi Galal, dan Jabal menjadi Gabal. Coba cari di Yutub tentang dialek Mesir ini. Raja Mesir terakhir, Fuad II, sampai sekarang masih berbicara dengan cara itu.

Di Yaman, huruf Qaf menjadi Gaf. Habib Haidar Bagir adalah turunan Yaman. Mestinya ditulis Haidar Baqir kalau konsisten pakai dialek Quraish. Maka kalau menyebut Qalqalah mereka membunyikannya Galgalah. Tentunya nanti berefek pada Surah Albaqarah.

Sila – bagi anda yang orang Minang – membaca nama surah Al Baqarah dengan dialek Yaman.

Agak menjarak sedikit dari Arab, kita ke Turki. Di sana, kita akan temukan bunyi2 yang makin unik. Muhammad dibaca Mehmet, Fatih dibaca Fetih, Majid dibaca Mecit, Rajab dibaca Recep, Wahidudin dibaca Vahidettin, Khadijah dibaca Hatice, dan seterusnya.

Melangkah sedikit ke Timur kita bertemu dengan Iran/Persia. Di sana unik pula lidahnya. Huruf Dhad dibaca antara Dha dan Zha. Maka Ramadhan menjadi Ramazan, Ridha menjadi Reza, Murtadha menjadi Morteza. Agak berlainan dengan Turki yang cenderung ke ‘e’, Persia cenderung pada ‘o’ terutama pada huruf mad ‘a’. Maka “Aalamin” menjadi “Olamin”. Abah Abad Badruzaman ketika ke sana dipanggil ‘Abod Badrozzamon’.

Kalau ke India, pengucapannya beda lagi. Pernah dengar orang India bernama Javed? Itu adalah lahjah India untuk kata ‘Jawad’.

Di Indonesia, ada keragaman pula. Orang Jawa umumnya susah menyebut H yang ada di kerongkongan atas, maka lidah mereka menyebutnya K atau Kh. Makanya Ahmad menjadi Akhmad, Ishak menjadi Iskak, Husnul Khatimah menjadi Khusnul Khatimah, Alfatihah menjadi Alfatekah.

Orang Sunda sulit menyebut Z, maka dengarkanlah bila mereka membaca surat Al Zalzalah. Semua Z menjadi J.
Orang Sunda juga sulit menyebut furuf F, maka Alfateha menjadi Alpateha.

Orang Sulawesi Selatan, kesulitan juga mengucapkan Z, maka alih-alih mengubah Z menjadi J, mereka mengubahnya menjadi S. Maka cobalah baca surah Al-Zalzalah dengan dialek Sulawesi Selatan. Orang Sulawesi Selatan juga kesulitan mensukunkan huruf mim dan nun sehingga mereka menggantinya dengan fonem ‘ng’. Maka di kampung-kampung jangan heran kalau kalau kita mendengar orang masih membaca “A’usubillahi minasyaitanirrajing”. Mereka juga kesulitan mensukunkan huruf Ra maka kita kan dengar mereka mengucap nama “Jabir” dengan “Jabire”.

Orang Minang pun punya dialek contoh sebutan Muhammad versi Arab disebut dengan Muhammaik
Apakah itu artinya kita mempertanyakan keIslaman orang-orang yang dialek lokalnya begitu ?
Tentu tidak. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan misalnya, adalah dua provinsi basis Islam paling kuat di Indonesia bersama dengan Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, dan NTB.

Serangan yang dilakukan terhadap dialek lokal ini adalah salah satu blunder dari buzzer pihak yang tidak senang dengan kebhinekaan bangsa. Pertama, blunder karena tak ada bukti bahwa mereka lebih baik daripada Bapak Haji Jokowi dalam hal ini. Kedua, blunder karena menyiratkan pesan penolakan mereka terhadap keragaman dialek lokal. Ndilalahnya, yang diserang adalah dialek lokal Jawa, basis pemilih terbesar di Indonesia. Tak ada politisi yang bisa menang jika ditolak Jawa apalagi rasisme terhadap salah satu etnis besar tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.