“Umat Islam” Jahat Kepada Yahudi ?

Berita
Oleh : Dina Sulaiman
Jayakartapos,   Ada sebuah tulisan yang membuat saya mikir dan prihatin. Judulnya “Persekongkolan Nazi-Islamis”. Pasalnya, banyak sekali ia gunakan frasa “Umat Islam”. Digambarkan dalam artikel itu betapa “umat Islam” ini jahat sekali, beraliansi dengan Hitler melakukan perang di mana-mana atas nama Islam; yang jadi korbannya adalah Yahudi dan Kristen.
Saya menulis ini untuk berbagi cara berpikir kritis kepada follower fanpage ini.
Saat kita berargumen, biasakan memakai kata dengan definisi yang benar. Kesalahan definisi akan menyeret kita pada kesalahan berargumen. Ini kaidah dasar dalam ilmu logika (saya sudah tulis seri ‘kuliah logika’, di FP ini).
Saat saya menyebut Islamis, atau “jihadis” (kata jihad dengan tanda kutip) artinya saya sedang merujuk pada satu kelompok tertentu. Islamis adalah istilah yang akhir-akhir ini dipakai publik (terutama di Barat) untuk menyebut sebagian kalangan Islam yang beraliran ekstrim dan gemar mengusung “jihad” ala Al Qaida/ISIS / al Nusra/ Jaysh al Islam/FSA. Ikhwanul muslimin dan Hizbut Tahrir, juga diistilahkan Islamis.
Jadi Islamis tidak sama dengan UMAT ISLAM. Fundamentalis Islam tidak sama dengan UMAT ISLAM. Umat Islam adalah sebuah rumah sangat besar dengan banyak kelompok/bagian di dalamnya.
Demikian pula dengan “jihadis”. Banyak yang menulisnya tanpa tanda kutip. Saya selalu pakai tanda kutip, karena yang saya maksud adalah “jihad” salah kaprah yang dilakukan para Islamis itu.
Perlu dicatat bahwa jihad dalam kondisi tertentu adalah sebuah keniscayaan. Misalnya, dulu para ulama Indonesia menyerukan jihad melawan Belanda dan Sekutu. Alhamdulillah hari ini kita merdeka. Jadi kata jihad perlu dimaknai sesuai konteks. Jangan menggeneralisasi.
Bahwa ada sebagian orang Islam dulu bekerja sama dengan Nazi, hari ini pun ada orang Islam yang menjadi tentara Israel dan menjadi warga negara Israel, itu semua adalah catatan sejarah yang harus DIBACA DENGAN KONTEKS. Ditelaah satu persatu (kalau memang tertarik meneliti) bagaimana konteksnya saat itu.
Menggeneralisasi UMAT ISLAM bekerja sama dengan NAZI adalah sebuah kesalahan berlogika.
Kita sebagai pembaca pun jangan cepat terpesona hanya karena penulisnya profesor. Ingat bahwa ada internet yang bisa membantu kita untuk cross-check. Saya pun mengetik “moslem cooperation nazi”, keluar beberapa artikel, saya klik artikel berjudul “What Hitler and the Grand Mufti Really Said”, ditulis David Kaiser, sejarawan dari AS, dimuat di Time.com.
Kaiser menulis artikel itu menanggapi pernyataan Netanyahu (2015) yang menyebut bahwa Mufti  Yerusalem, Amin al Husseini-lah ‘otak’ dari Holocaust.  Muftilah yang menyarankan agar Nazi membantai Yahudi, kata Netanyahu.  Dengan cara ini, Netanyahu ingin membangun opini bahwa umat Islamlah yang bersalah; bahwa Zionis tidak salah dalam aksinya mendirikan Israel dengan merebut tanah milik bangsa Palestina.
[Tulisan “Persekongkolan Nazi-Islamis” itu juga menyebut-nyebut al Huseini.]
Kaiser memberikan link ke dokumen catatan isi percakapan antara Mufti al-Husaini dengan Hitler pada 28 Nov 1941.
Ternyata, sama sekali tidak ada pernyataan dari sang Mufti yang menyarankan Holocaust. Bahkan sebenarnya, menurut Kaiser, seluruh persiapan operasi Holocaust sudah dilakukan sejak enam bulan sebelum pertemuan Hitler dengan sang Mufti.
Dalam pertemuan itu, Sang Mufti menyatakan bahwa “musuh yang dihadapi oleh Arab dan Jerman adalah sama, yaitu Inggris, Yahudi, dan Komunis.”  Sang Mufti meminta bantuan Hitler untuk menghalangi didirikannya negara khusus Yahudi di Palestina.
Nah di sini langsung kita bisa tangkap konteksnya: yang jadi problem saat itu adalah, Inggris menjajah Palestina, dan Inggris sedang mempersiapkan berdirinya sebuah negara khusus Yahudi di Palestina.
Jadi, orang Palestina saat itu sudah tahu akan munculnya bahaya besar di tanah air mereka. Mereka juga sudah menyaksikan gelombang kedatangan imigran Yahudi besar-besaran yang tersistematis ke Palestina.
Supaya mudah, bayangkan saja konteksnya dengan kondisi kita hari ini. Saat ini, banyak yang menghembus-hembuskan hoax jutaan orang China datang ke Indonesia. Segitu saja sudah banyak yang panik, padahal hanya kabar bohong.
Bayangkan seperti apa paniknya orang Palestina saat melihat gelombang kedatangan orang-orang Yahudi dari Eropa. Palestina itu kecil lho, jauh beda dengan Indonesia. Kapal-kapal yang membawa ratusan ribu imigran Yahudi itu dengan mudah mereka saksikan di pelabuhan.
Apalagi sejak 1926 sudah ada deklarasi resmi pemerintah Inggris yang berjanji kepada Rothchild (konglomerat Yahudi Inggris) untuk membantu mendirikan negara khusus Yahudi di atas tanah Palestina. Catat: kata PALESTINA disebut dalam dokumen itu.
Menurut Anda, dalam keadaan kritis ketika upaya-upaya mendirikan negara khusus Yahudi sudah terlihat sangat intens;  dalam keadaan sedang dijajah Inggris, apa yang dilakukan orang Palestina? Sangat masuk akal kalau mereka minta bantuan kepada kekuatan besar yang bermusuhan dengan Inggris.
Catat: saya merujuk kepada “orang Palestina”, dengan menyebutkan konteks kejadian. Saya tidak menyebut UMAT ISLAM. Saya juga tidak sedang menilai benar-salah tindakan sang Mufti.
Terakhir, di internet bisa download buku “When Religion Becomes Evil” yang ditulis seorang cendekiawan Kristiani keturunan Yahudi,  Charles Kimball.  Dia menulis bahwa Holocaust tidak akan terjadi tanpa partisipasi atau dukungan simpatik dari sejumlah besar orang Kristen. (p.147).
Saya mengutip Kimball hanya sekedar untuk pembanding, bahwa dalam konflik ini, orang-orang yang terlibat menganut berbagai agama. Bahkan orang Zionis pun ada yang bekerja sama dengan Nazi (google: Haavara Agreement).
Sebaliknya, ada pula penganut Kristiani yang pro Zionis. Di saat yang sama, banyak juga orang Yahudi yang anti-Zionis dan anti Israel. Juga, banyak aktivis pro-Palestina yang beragama Kristiani (follow FP Felix Irianto Winardi).
Jadi, memaparkan catatan sejarah secara tendensius  SARA dan menghilangkan sebagian konteks (yang menguntungkan kaum Zionis), jelas salah.
Kita pun sebagai pembaca, sebaiknya ojo gumunan (jangan gampang terpesona). Walaupun yang nulis profesor, woles aja, tetap kritis. Tetap bela Palestina dan tetap lawan Zionis. Termasuk yang sawo matang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.