WAHAI JIWA JIWA PANCASILA! NEGARA MEMBUTUHKANMU MELAWAN CORONA

Berita Nasional
Foto: Ilustrasi, sumber foto:  Radar Lampung

OLEH : HAIDAR ALWI INSTITUTE (HAI)

Jayakartapos, Hingga Kamis (26/3/2020) pukul 22.15 WIB, Pandemi Virus Corona Baru (SARS-CoV-2) telah menjangkau sekitar 187 negara. Sebanyak 416.686 orang dinyatakan positif terinfeksi dan 18.589 di antaranya meninggal dunia. Sedangkan di Indonesia, dari 893 orang yang dijangkiti, hanya 35 yang berhasil sembuh dan 78 lainnya telah tewas karena Covid-19.

Coronavirus Resource Center John’s Hopkins University & Medicine mencatat, sejak Covid-19 merebak di China mulai November 2019, setidaknya terdapat 81.782 orang yang terinfeksi, 61.201 berhasil sembuh dan 3.169 meninggal dunia.

Walaupun Covid-19 pertama kali terdeteksi di China dengan jumlah yang terinfeksi paling banyak, angka korban tewas tertinggi justru berada di Italia (7.503) dan Spanyol (4.089). Padahal, China adalah negara dengan populasi terbesar seantero jagad raya mencapai 1,5 Milliar penduduk. Luar biasanya, predikat kesembuhan teratas di pegang oleh China (61.201).

Kondisi paling kritis baru dialaminya pada rentang Februari hingga awal Maret 2020. Serangan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei benar-benar menyebabkan China porak-poranda. Saat itu, negara-negara di dunia dan organisasi internasional bahu-membahu memberikan pertolongan berupa masker dan peralatan medis lainnya. Alhasil, jumlah kasus di Negeri Tirai Bambu tersebut hari demi hari semakin menunjukkan penurunan.

Namun, tatkala China berhasil bangkit dari keterpurukannya, Covid-19 menyebar tak terkendali ke berbagai belahan dunia. Hampir seluruh negara gagal menggunakan kesempatan ketika wabah masih terpusat di China untuk langkah antisipasi dini penyebaran Virus Corona.

Mereka yang awalnya prihatin atas apa yang menimpa Tiongkok atau bahkan mungkin ada juga yang mensyukurinya, kini berbalik prihatin pada nasib bangsanya sendiri. Covid-19 menjelma menjadi Pandemi global yang dalam waktu singkat mampu melumat kedigdayaan dunia.

Akan tetapi, China bukanlah bangsa lupa diri. Setelah perjuangan berat mengantarkannya lepas dari jerat Covid-19, kini ia pun mengalihkan sumberdaya yang dimilikinya ke negara-negara yang sedang kewalahan melawan keganasan Virus Corona Baru. Meski belum sepenuhnya pulih, alat-alat kesehatan hingga tenaga medis di kirim ke Jepang, Irak, Peru, Spanyol, Italia, Perancis dan tak terkecuali Indonesia serta negara-negara lainnya.

Khusus Indonesia, bantuan gelombang pertama berupa 9 (sembilan) ton alat-alat kesehatan sampai di Bandara Halim Perdanakusuma pada Senin (23/3/2020) setelah dijemput langsung menggunakan pesawat Hercules C-130. Tidak tanggung-tanggung, bantuan berikutnya mencapai 40 ton dan sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (26/3/2020) malam dengan pesawat Boeing 777 Garuda Indonesia.

Bantuan ini diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Maritim & Investasi bersama Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI). Para donatur sebagian besar adalah investor China yang telah menanamkan modalnya di Indonesia seperti di Morowali, Weda Bay, Obi, Kendari, Konawe dan daerah sekitarnya.

Sungguh menyedihkan dan memalukan, ketika pemerintah dan dunia internasional bergandengan tangan saling bantu dan peduli, sebagian kalangan di Indonesia hanya berpangku tangan.

Mereka sibuk mengkritik, mencaci dan menghina, nyinyir di media sosial tanpa berbuat apa-apa. Entah karena tak punya hati, akal dan perasaannya pun mati, benar-benar tak peduli atau lantaran menghamba diri pada agama dan perbedaan pilihan politik.

Suara pendukung tak beradab yang diwadahi oposisi hingga barisan sakit hati bersatu menjadi konspirasi. Mulai dari menebar ketakutan, membuat masyarakat panik, mengeruk keuntungan ekonomi hingga terang-terangan ingin menjatuhkan pemerintahan demi kekuasaan.

Benteng kebersamaan yang sedang dirangkai berusaha digerogoti ambisi para politisi. Kebijakan dan langkah apapun yang diambil pemerintah tidak akan membawa dampak berarti tanpa dukungan semua lini.

Satu lagi yang lebih memilukan dan menyayat hati orang-orang yang masih punya hati. Di tengah peperangan berat menangkal Covid-19, kabar duka datang dari kelurga Presiden Jokowi.

Adalah ibunda tercinta, sosok sederhana yang telah melahirkan pemimpin besar, Sudjiatmi Notomihardjo dipanggil menghadap Sang Pencipta, Rabu (25/3/2019) pukul 16.46 WIB di Solo, Jawa Tengah.

Di balik duka mendalam Presiden Jokowi, ada teladan kesederhanaan sekaligus nasionalisme yang tinggi. Sebagai orang nomor satu di Indonesia, beliau bisa saja dengan mudahnya memilih rumah sakit ternama manapun untuk merawat ibunya, tapi Presiden Jokowi tetap percaya pada kemampuan tenaga medis dalam negeri.

Tak dinyana, di balik ketegarannya berjuang demi bangsa dan negara di tengah Pandemi Virus Corona, tersembunyi kekhawatiran akan ibunda tercinta. Hanya pemimpin besar yang bisa melakukannya dengan rapih dan dialah Presiden Jokowi. Kita sungguh beruntung memilikinya.

Siapa yang tidak akan bersedih kala kehilangan seorang ibu. Kita masing-masing pribadi yang pernah mengalami, butuh berhari-hari untuk pulih walau duka abadi di dalam hati.

Apalagi dalam situasi Presiden Jokowi yang tidak hanya memikirkan diri dan keluarganya sendiri. Keselamatan 270 juta rakyat Indonesia berada di pundaknya. Coba bayangkan, betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Presiden Jokowi.

Belum genap sehari pasca ditinggal pergi, di kala duka masih pekat menyelimuti, beliau harus kembali mengurusi nasib bangsa ini. Itu pun masih banyak yang tidak menghargai dan bahkan mencaci-maki ibunda yang tak akan kembali lagi.

Namun, jiwanya luas seperti samudera, hatinya sedalam palung lautan, tegarnya laksana batu karang dan ketenangannya ibarat hembusan angin malam. Ia dan keluarganya tak bergeming, membalas hinaan dengan memaafkan.

Wahai semua, tidakkah kita punya rasa malu? Kita yang berada tak peduli pada saudara. Kita yang berkuasa tidak berbuat apa-apa. Kita yang hanya memikirkan diri sendiri malah menghina dan menjatuhkan ia yang sedang berjuang demi bangsa dan negara.

Media, berhentilah memperkeruh situasi, berpikirlah jernih mengeruk keuntungan iklan dan kerjasama dari Pandemi Virus Corona. Bencana bukanlah ladang bisnis ekonomi, politik dan kepentingan busuk lainnya. Bencana bukan alat untuk menjatuhkan pemerintah. Sadarlah! Bencana adalah tanggungjawab kita bersama!

Jika kita membencinya, janganlah cela ibunda yang telah tiada. Bila tak ingin membantunya, maka cukuplah diam saja biarkan ia bekerja, demi kita, demi keluarga kita, demi sanak saudara kita, demi kerabat dan kolega, demi kelompok kita, serta demi Indonesia tercinta. Andai akal sehat kita masih berfungsi dan hati belum benar-benar mati, seharusnya kita bersyukur punya pemimpin besar seperti Presiden Jokowi.

Belajarlah bagaimana China bangkit dalam waktu yang tidak begitu lama. Pemerintah dan rakyatnya berjuang bersama. Kesadaran diri yang tinggi dan patuh pada pemimpin terbukti menjadi kunci. Jika China yang komunis saja bisa, apalagi kita yang berlandaskan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika. *(HAI)*