WARGA DESA KUNG MENGADU KE DPRK ACEH TENGAH

Berita Hukum

Jayakartapos, Takengon, (28/10) Prahara yang terjadi di Kampoeng/Desa Kung terkait penganiayaan hingga kebakaran, yang dipicu oleh kepemilikan lahan hak pakai nomor satu milik provinsi Aceh, hal ini membuat masyarakat Desa Kung Selasa, (27/10) mengadu ke wakil mereka di DPRK Aceh Tengah tentang beberapa hal yang menurut mereka tidak sesuai dengan aturan yang ada. Perwakilan masyarakat desa Kung menuturkan, “Kami perwakilan masyarakat datang ke DPRK Aceh tengah untuk menyampaikan keluh kesah kami tentang permasalahan yang kami hadapi, belakangan ini suasana di desa kami sangat mencekam, karena pihak kepolisian terus melakukan pemanggilan dan penangkapan terhadap warga kami, namun yang kami herankan kenapa pelaku penganiayaan saudara kami tidak di perlakukan seperti kami”?

Apakah memang seperti ini hukum yang berlaku di negara ini? tanyanya, dengan nada sedih.

Ketua DPRK Aceh Tengah, Arwin Mega menanggapi keluhan warga Desa Kung, Kecamatan Pegasing, Kota Takengon, bahwa pihaknya, tidak bisa mencampuri proses hukum karena itu kewenangan kepolisian, namun kami akan melakukan koordinasi tentang keluhan masyarakat tersebut dan hari ini juga (Rabu, 28/10), kami dari dewan diundang untuk membahas masalah yang terjadi di Desa Kung. Tegas ketua dewan DPRK Aceh Tengah tersebut.

loading...

Menanggapi hal ini penasehat hukum Andris Tarihoran.SH, Menuturkan” jangan ada pemerasan dan pengakuan secara tidak sah terhadap para klien kami oleh pihak penyidik Polres Takengon beserta seluruh jajarannya, Ia melihat ada kejanggalan dimana saat pelaku penganiayaan yang mengakibatkan luka berat terhadap klien kami, Juraini, tidak di lakukan penahanan, sepengetahuan kami dalam proses penegakan hukum, atas terjadinya penganiayaan berat mestilah dilakukan penahanan, seperti ada kesan ada tebang pilih dalam penanganan kasus ini, ujarnya.

Di saat terduga pelaku pembakaran ditahan, namun pelaku penganiayaan berat tidak dilakukan penahanan, padahal menurut hebat kami antara pembakaran dan penganiayaan memiliki benang merah yang erat, tegasnya

Andris menambahkan, Saya mengharapkan “Jangan sikap reaktif dari kepolisian dalam mengungkap pelaku pembakaran rumah berakibat kepada ketakutan dari seluruh masyarakat Desa Kung dikarenakan sikap reaktif yang menghasilkan salah tangkap dan salah tahan.

Kami berharap Polres Aceh Tengah beserta seluruh jajarannya menjalankan proses penegakan supremasi hukum secara adil, dan tidak asal tangkap yang nantinya dapat berakibat kepada ketidak adilan dalam rangka penegakan hukum, dan berharap, agar kepolisian memberikan jaminan keselamatan serta jauh dari bentuk kriminalisasi sehingga tercapailah ketertiban dan keamanan di tengah masyarakat Desa Kung, ujar Andris.(Wilnas/red)